
70
Belum sempat Bimo menjawab apa yang Anya katakan, teriakan keras terdengar memanggil nama Anya. Sontak, keduanya langsung kaget dengan teriakan itu.
"Kakek?"
"Apa yang kamu lakukan di sini, Anya?" tanya laki-laki tua dengan memasang wajah garang melihat ke arah Anya.
"Aku hanya .... "
"Hanya apa? Di mana Leo?" tanya kakek itu memotong perkataan Anya.
"Aku di sini, Kek." Leo datang mendekat.
"Aku meninggalkan Anya dan Bimo di sini untuk hanya urusan penting sebentar, Kek."
"Oh, kakek pikir kamu gak ada. Ya sudah, ayo kembali ke pesta. Kakek ingin menyapa David sekarang."
"Kakek duluan saja. Aku dan Anya nyusul sebentar lagi."
Kakek Anya mendengarkan apa yang Leo katalan. Ia lalu meninggalkan mereka untuk urusannya sendiri. Sementara Anya, Bimo, dan Leo masih berada di tempat mereka sebelumnya.
"Anya, aku ingin bicara berdua dengan kamu."
"Baiklah."
Anya segera mengikuti Leo yang berjalan meninggalkan Bimo. Sampai di tempat yang agak jauh dari Bimo, Leo berhenti.
"Anya, kamu suka, Bimo?"
Pertanyaan itu membuat Anya terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa pada Leo. Haruskah dia jujur, atau malah berbohong?
"Jawab dengan jujur, Anya! Jika kamu memang suka Bimo, maka aku akan batalkan pernikahan kita."
__ADS_1
"Tidak! Jangan lakukan itu, dokter Leo. Aku tidak mungkin membiarkan kamu membatalkan pernikahan kita."
"Jika kamu suka laki-laki lain, kenapa tidak, Anya?"
"Tidak! Karena aku tidak mungkin membiarkan kakek ku kena serangan jantung lagi. Aku juga tidak akan membiarkan, papa menyalahkan aku karena masalah ini."
"Tolong, dokter Leo. Jangan batalkan pernikahan ini." Anya bicara dengan nada memohon sambil memegang tangan Leo.
Meskipun berat, tapi Leo juga tidak punya pilihan lain. Ia tahu bagaimana sikap para tetua dalam keluarga mereka masing-masing. Sama-sama keras kepala dan tidak mau mendengarkan ucapan orang lain. Apalagi, ucapan para cucu mereka.
"Baiklah. Aku tidak akan membatalkan pernikahan kita. Kamu tenang saja."
______
Dua minggu kemudian, seperti yang Leo katakan sebelumnya, pernikahan itu di laksanakan. Keluarga Aditama datang sebagai tamu kehormatan di acara tersebut.
Dewa dan Yola terlihat sebagai pasangan yang sangat serasi. Mereka berdua datang dengan bergandeng tangan, berjalan menuju pelaminan untuk mengucapkan selamat pada Leo dan Anya.
"Terima kasih banyak, Yola. Kalian terlihat sangat bahagia sekarang ya."
"Tentu. Kami memang sangat bahagia sekarang. Apalagi setelah kamu menikah, aku juga semakin tenang," ucap Dewa menyambut perkataan Leo.
"Kak Dewa ih ... masih saja tidak melupakan perdebatan ya."
"Udah mendarah daging kali, Yola. Suami kamu ini emang paling suka adu mulut sama aku. Diakan kalah tampan dari aku."
"Eh, kalah tampan apanya. Kamu gak lihat wajah aku ini, hm? Mana coba yang lebih tampan."
"Aduh, malas terkadang aku meladeni kalian berdua. Kalian sama saja soalnya."
"Oh ya, Anya. Kami permisi dulu, ya."
Yola langsung mengajak Dewa menepi karena tidak ingin ada adu mulut lagi. Dewa dengan penuh kasih sayang mendengarkan apa yang Yola katakan.
__ADS_1
_____
Satu tahun usia pernikahan Yola dan Dewa, Yola akhirnya melahirkan seorang bayi mungil yang tampan. Bayi itu di beri nama, Tristan.
Satu hari setelah Yola melahirkan, kabar duka datang dari Zaka. Mama Zaka yang sudah lama sakit-sakitan, kini akhirnya meninggal. Sebelum mama Zaka meninggal, mamanya sempat mengatakan permintaan terakhir pada Zaka anaknya. Sang mama meminta Zaka menikah dengan Sisil secepatnya.
Karena permintaan sang mama, Zaka akhirnya memutuskan untuk menikah dengan Sisil satu bulan kemudian, meskipun tanpa rasa cinta.
Sementara, Bimo. Ia juga memutuskan untuk menikah. Dia menikah dengan karyawan yang bekerja di kantor yang sama dengannya. Pernikahan sederhana itu berlangsung lancar.
_____
Setelah Yola kembali dari rumah sakit, setelah melahirkan, ia memutuskan untuk menyerahkan rumah sakit Media Farma pada Leo seutuhnya. Hal itu di dukung oleh semua pihak keluarga Aditama, termasuk Dewa.
Setelah pernikahan Leo dengan Anya, Dewa terlihat bersahabat dengan Leo. Apalagi setelah Yola melahirkan anak pertama mereka, ia semakin bersikap dewasa dengan tidak terlalu mengekang Yola atau cemburu berlebihan lagi.
Dewa bersikap biasa saja, namun tetap memberikan kasih sayang seutuhnya pada Yola. Wanita satu-satunya yang ia sayangi setelah mama yang melahirkan, juga mama yang membesarkannya.
Brian dan Kania kembali tinggal di luar negeri. Sedangkan Dewa dan Yola, membina rumah tangga di tanah air dengan sebaik mungkin.
Kebahagiaan keluarga kecil Yola terlihat sangat utuh sekarang. Apalagi dengan kehadiran seorang buah hati yang menghiasi kediaman besar milik keluarga Aditama, semakin terasa kehangatan juga kebahagiaan.
Rumah tangga yang mereka bina terlihat begitu kokoh, meskipun tak jarang ada badai yang datang. Maklum, tidak ada yang namanya rumah tangga tanpa ada godaan. Setiap rumah tangga pasti ada godaan dan halangan, namun sepertinya, itu tidak lagi berpengaruh pada Dewa dan Yola. Karena sebelumnya, mereka sudah pernah melewati ujian berat itu. Dan sekarang, mereka sudah tahu bagaimana caranya menjaga keutuhan dan melewati badai dengan baik.
__________________~SEKIAN~__________________
*Catatan.
"Semoga kalian puas dengan endingnya. Tidak bisa aku lanjutkan lagi karena takut diomelin dengan omongan terlalu panjang dan bertele-tele. Lagipula, aku juga sangat sibuk sekarang. Sampai jumpa lagi di karya selanjutnya. Semoga kalian selalu bahagia.
Da ....
Ada niat mau bikin karya khusus Leo dan Anya. Terus, Bimo dan istrinya, juga Zaka dan Sisil. Namun, entah kapan. Belum tahu jadi atau tidak.
__ADS_1