
Mendengar kata-kata itu, mata Yola berbinar-binar sangking bahagianya. Ia segera melompat ke dalam pelukan Dewa secepat mungkin.
"Be--benarkah apa yang kak Dewa katakan barusan? Kak Dewa ingin belajar mencintai aku?"
"Iya. Meskipun butuh waktu untuk memikirkan semua itu, tapi, aku ingin belajar, Yolan. Aku ingin melihat kamu bahagia bersamaku."
"Terima kasih banyak kak Dewa. Aku sangat bahagia. Sangat-sangat bahagia sekali mendengarnya."
Yola semakin membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Dewa. Sementara itu, Dewa membelai pelan rambut adik angkat yang sekarang jelas-jelas sudah bergelar istri baginya.
'Semoga ini jalan terbaik buat hubungan aku dengan Yolan. Tuhan ... semoga aku bisa memberikan kebahagiaan terbaik buat dia. Karena bagaimanapun, dia adalah orang yang paling aku sayang setelah ... Sulis. Dan, dia adalah anak dari orang tua yang telah merawat aku dengan penuh kasih sayang. Kebahagiaan dia adalah tanggung jawab aku sekarang.'
Dewa melonggarkan pelukannya.
"Sekarang, jangan ngambek lagi. Cepat minum obatnya agar tangan kamu lekas sembuh," ucap Dewa sambil mengambil obat yang ada di atas nakas.
"Haruskah aku minum obat itu, kak Dewa? Rasanya, aku sudah sembuh sekarang."
"Yolan. Jangan bikin aku cemas lagi. Sembuh apanya? Jelas-jelas baru tadi siang ke rumah sakit. Mana bisa sembuh sekarang. Mana obatnya belum kamu minum sedikitpun lagi."
"Belajar bersikap dewasa. Karena sebentar lagi, usia kamu juga akan genap dua puluh tahun, bukan?"
"Iya-iya. Aku minum obatnya sekarang. Apa hubungannya aku yang sebentar lagi berusia dua puluh tahun dengan minum obat?" tanya Yola dengan nada kesal sambil mengambil obat dari telapak tangan Dewa.
"Ya cuma anak kecil yang takut minum obat. Orang dewasa kan nggak."
"Tahu dari mana?" tanya Yola sambil manyun.
"Tahu dari ... udah, cepat minum obatnya. Nih." Dewa menyodorkan segelas air putih ke tangan Yola.
Yola menerima air tersebut, kemudian langsung meneguknya bersama dengan beberapa buah obat yang ia ambil dari tangan Dewa tadi.
"Pait banget."
"Ye ... gitu aja bilang pait. Gak kuat kamu ah."
"Kak Dewa, ih .... "
Yola dan Dewa saling cibir. Persis seperti waktu mereka anak-anak waktu itu. Saling cibir, saling ejek, bahkan saling menguatkan. Itulah mereka saat kecil-kecil sebelum di pisahkan oleh jarak.
Saat itu pula, telepon Dewa berdering mengalihkan perhatian Dewa dari Yola. Ia segera merogoh saku celana untuk melihat siapa yang telah menghubunginya saat ini.
__ADS_1
Mata Dewa sedikit membulat ketika melihat layar ponselnya yang tertera dengan jelas nama Hanas yang sedang memanggil. Dewa melirik Yola, karena dia sedikit tidak enak hati untuk langsung menjawab panggilan tersebut.
"Siapa kak?"
"Teman. Sebentar, ya. Aku angkat dulu, mungkin ada perlu." Dewa berucap sambil beranjak dari duduknya.
Tiba di luar kamar Yola, Dewa baru menjawab panggilan dari Hanas tersebut. Ketika panggilan itu sudah tersambung, terdengar suara tangisan di seberang sana. Suara tangisan yang membuat Dewa merasa panik.
"Hanas! Ada apa, Nas?"
"Kak Dewa di mana, kak? Tolong aku! Aku takut, kak."
"Kamu di mana, Hanas! Cepat katakan padaku, di mana kamu sekarang?"
"Aku di depan gedung Camolia kak. Tolong ke sini, kak Dewa. Aku takut."
"Apa!? Gedung Camolia?"
Dewa memasang wajah kaget sekaligus panik. Ia tahu betul di mana letak dan bagaimana kondisi gedung Camolia itu.
Gedung terbengkalai bekas hotel megah yang sudah ditinggalkan pemilik bertahun-tahun lamanya. Gedung itu adalah tempat tersepi di jalan Kelinci. Sudah banyak kejadian pemerkosaan dan pembunuhan yang terjadi di gedung itu. Itu sebabnya Dewa kaget bukan kepalang ketika nama gedung itu Hanas sebut.
Tut ... tut ... tut ....
Yola yang masih duduk di atas ranjang, terus menatap pintu kamarnya. Berharap, Dewa segera kembali. Setidaknya, jika pun ia tidak kembali, Dewa bisa pamit padanya untuk mengakhiri obrolan mereka.
"Kak Dewa ke mana sih? Kok lama banget jawab panggilannya. Apa dia masih ngobrol sekarang ya?"
"Coba aku lihat dulu ah." Yola berucap sambil bangun dari duduknya.
Yola lalu menurunkan kakinya dari ranjang. Tapi, ketika kaki itu baru saja menginjak lantai,
ia merasa ada sesuatu yang lain dengan kulit tubuhnya. Kulit itu terasa panas seperti terbakar dengan rasa gatal yang kuat.
"Aduh!"
Yola mengeluh sambil menggaruk dan mengusap tangan serta wajahnya secara cepat. Tapi, bukannya berkurang, rasa gatal dan panas itu malahan semakin bertambah kuat.
Sekarang, bukannya gatal dan panas, perih dan sakit pun sudah sangat kuat ia rasakan. Bintik-bintik merah pun ikut bermunculan di permukaan kulitnya sekarang.
"Aduh! Kenapa ini?"
__ADS_1
"Kak Dewa! Tolong kak! Sakit sekali!"
"Kak Dewa! Kak Dewa tolong! Bu Erni! Bu ... tolong!"
Yola berteriak-teriak dengan keras sambil terus mengusap tangan dan semua permukaan yang bisa ia jangkau dengan tangannya. Kini, ia benar-benar menangis karena rasa sakit itu.
"Bu Erni! Tolong .... "
Mendengar teriakan itu, bu Erni segera berlari dari kamarnya menuju kamar Yola yang berada di lantai dua. Dengan cepat, ia buka pintu kamar tersebut tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Nona Kecil!" Bu Erni memekik ketika melihat keadaan Yola yang sungguh sangat memperihatinkan.
"Nona kecil, apa yang terjadi? Ya Tuhan .... "
"Santi! Cepat panggilkan tuan muda."
"Baik, Bu."
"Mas Mamat, panggilkan ambulan!" kata Bu Erni lagi memberi perintah pada tukang kebun vila Camar.
"Bu Erni, sebaiknya kita langsung bawa nona kecil ke rumah sakit dengan mobil pribadi saja. Kalau dengan ambulan, kita akan membuang banyak waktu."
"Benar juga. Ayo cepat, bantu aku menggendong nona kecil ke mobil!"
"Baik, Bu."
Mamat segera beranjak masuk ke dalam kamar. Ia melupakan batasannya sebagai tukang kebun dengan segera menggendong Yola, lalu berjalan cepat beranjak meninggalkan kamar.
Ketika mereka baru saja ingin menginjak anak tangga untuk turun ke bawah, Santi muncul dengan wajah cemas.
"Ada apa Santi? Mana tuan muda?" tanya Bu Erni sambil terus berjalan.
"Tuan muda tidak ada di kamarnya, bu Erni. Saya sudah cek kamarnya kosong. Sampai saya pastikan ke kamar mandi tuan muda. Tapi, dia tidak ada."
"Lalu, di mana Bimo? Apa dia juga tidak ada di kamarnya?"
"Bimo juga tidak ada, bu Erni."
"Ya Tuhan! Ke mana tuan muda dan Bimo dalam keadaan genting begini? Pergi ke mana mereka sebenarnya?"
"Ya sudah, aku akan pergi bersama mas Mamat bawa nona ke rumah. Kamu tunggu vila ini dan terus hubungi tuan muda sampai dia menjawab. Katakan padanya tentang kondisi nona."
__ADS_1
"Baik, bu Erni. Hati-hati."
"Hm."