I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 59


__ADS_3

"Maaf semuanya, aku harus bilang kalau kita sebaiknya segera meninggalkan rumah sakit ini. Karena, kondisi pasien yang semakin memburuk dan kita harus segera menanganinya di rumah sakit dengan peralatan lengkap. Jika tidak .... "


"Kita akan berangkat sekarang!" ucap Brian memotong.


Mereka segera meninggalkan kamar tersebut. Namun, Brian tidak lupa meminta Bimo mengurus Hanas di rumah sakit ini. Dia tidak ingin Hanas kabur dari rumah sakit ini meski mereka tahu, kalau sekarang, jiwa Hanas sedang terganggu.


"Aku akan mengurus semuanya, Tuan Brian. Tuan tenang saja. Tunggu kabar baik dari aku nanti."


"Terima kasih. Aku percaya kamu bisa aku handal kan, Bimo."


_______


Mereka sampai ke rumah sakit Media Farma setelah hampir empat puluh lima menit diperjalanan. Untungnya, rumah sakit sudah menyiapkan segalanya, sesuai perintah dari Leo.


Namun, masih ada satu kendala yang membuat mereka cemas. Itu adalah, golongan darah langka yang Dewa punya. Darah dengan golongan itu sulit untuk mereka temukan dalam waktu singkat. Dan tidak ada stoknya di rumah sakit.


Hal itu membuat keluarga Aditama dirundung kepanikan. Karena keluarga Aditama tidak ada yang memiliki darah yang sama dengan yang Dewa miliki.


"Ya Tuhan ... cobaan apa lagi ini?" Brian berucap dengan nada frustasi.


Saat itulah ia ingat, betapa berharganya Johan buat dia. Biasanya, di saat genting seperti sekarang, Johan lah yang selalu bisa ia handal kan. Meski dia terkadang menyebalkan, tapi dia sangat gesit dalam menyelesaikan semua masalah yang dihadapi keluarga Aditama, terutama Brian.


Brian masuk ke kamar Johan. Ia tatap wajah Johan yang sedang terlelap di alam bawah sadar itu.


"Kapan kamu mau bangun, Jo? Aku butuh kamu di sini sekarang. Coba saja kamu ada, pasti aku tidak akan kesulitan seperti ini."


"Kamu tahu, aku tidak bisa memikirkan semua ini sendirian. Karena aku sudah terbiasa menyelesaikan masalah dengan bantuan dari kamu."


"Kamu sudah tidur terlalu lama, Johan. Kamu bukan orang yang semanja itu, kamu tahu? Selama ini, kamu itu orang yang selalu aku handal kan. Lalu kenapa sekarang, kamu malah lepas tangan, hm?"


"Kamu egois. Putraku sedang dalam perjuangan antara hidup dan mati. Aku tidak tahu harus mencari darah yang ia butuhkan di mana. Biasakan, itu tugas kamu. Kamu yang mencarikan apapun yang aku butuhkan."

__ADS_1


Selesai bicara panjang lebar dengan Johan yang pastinya tidak akan menjawab apa yang ia katakan, Brian memutus untuk pergi.


"Aku pergi. Jangan tidur terlalu lama. Jangan manja."


Namun, saat Brian berbalik dengan memutar tubuh, tangannya tiba-tiba tertahan oleh sesuatu. Dan ....


"Kamu yang manja, tuan muda. Masa menyelesaikan masalah seperti itu saja tidak bisa." Johan berucap dengan suara lemah yang hampir saja tidak terdengar oleh Brian.


Brian kaget bukan kepalang. Ia menatap Johan dengan tatapan antara percaya dengan tidak percaya. "Jo--Johan? Kamu ... kamu bangun? Kamu sadar, Jo?"


"Dokter! Suster! Tolong ke sini! Tolong! Pasiennya sadar!"


Brian berteriak dengan perasaan yang sangat bahagia. Saat itu, dia terlihat bukan seperti tuan Brian biasanya, malahan, seperti seseorang yang sedang mendapatkan sesuatu yang sangat berharga.


"Tuan muda, tidak perlu sebahagia itu. Aku memang sudah sadar. Tapi masalah besar mu belum terselesaikan, bukan?"


Perasaan bahagia yang Brian rasakan tadi, mendadak lenyap karena kata-kata yang Johan ucapkan. Bukannya merasa bersalah, Johan malah tersenyum mengejek.


"Bisakah tuan muda tidak begitu serius menanggapi perkataan ku? Barusan bahagia, sekarang malah berduka kembali."


"Aku tahu. Aku juga memahami apa yang tuan muda rasakan sekarang. Bukankah tadi tuan muda bilang, kalau ada aku maka semua masalah akan terselesaikan?"


"Untuk itu, tuan muda tidak perlu cemas. Aku akan membantu tuan muda sekarang."


"Kamu masih sakit, Johan. Mana mungkin aku minta bantuan kamu untuk menyelesaikan masalah yang aku hadapi kali ini."


"Jangan remehkan sakit aku ini tuan muda. Aku masih bisa melakukan hal yang tidak tuan muda pikirkan sebelumnya. Aku akan membantu tuan muda dengan memberikan apa yang tuan muda inginkan. Bukankah tuan muda ingin darah untuk tuan muda Dewa? Maka tuan muda bisa ambil dari aku."


"Apa maksud kamu, Johan? Jangan bercanda."


"Siapa bilang aku bercanda? Tuan muda lupa? Aku juga memiliki golongan darah yang sama dengan tuan muda Dewa."

__ADS_1


"Tapi kamu bukan keluarga Dewa, Johan? Bagaimana bisa kamu punya darah yang sama."


"Tuan muda, apakah harus keluarga, baru bisa punya golongan darah yang sama? Masih banyak keluarga yang memiliki golongan darah berbeda, bukan?"


"Terserah kamu. Tapi kali ini, kamu tidak bisa membantu aku karena kamu sedang sakit."


"Tuan muda. Jangan begitu. Biarkan aku bantu tuan muda Dewa sekarang. Dia dalam kondisi yang sulit. Jika bukan aku yang menolongnya, siapa lagi?"


"Kenapa kamu kelihatannya begitu memaksa ingin menolong Dewa, Johan? Padahal sekarang, bukankah keadaanmu memang tidak memungkinkan? Aku jadi curiga, jangan-jangan ada hal yang kamu sembunyikan dari aku."


Johan tersenyum geli melihat Brian.


"Kapan sih, tuan muda bisa menghilangkan rasa curiga dan waspada pada orang yang ada di sekitar tuan muda? Aku jadi heran."


"Waspada dan curiga itu harus."


"Ya, tapi tidak dengan aku tuan muda."


"Kamu bikin hatiku mendadak tidak enak soalnya, Jo. Dan, bikin benakku berpikir yang tidak-tidak. Soalnya, golongan darah itu sangat langka, bukan?"


"Jangan berpikir yang macam-macam tuan muda. Asal tuan muda tahu, aku ini tidak akan punya darah daging hasil dari benihku sendiri. Karena aku mandul."


"Jangan main-main kamu, Johan. Kamu bilang mandul, tapi kamu punya anak sekarang. Yang benar saja. Mana ada orang mandul bisa punya anak."


"Siapa yang tuan muda maksud? Anak durhaka yang tidak tahu diri dan tidak tahu balas budi itu maksud tuan muda?"


"Ya tentu saja putrimu. Hanas itukan anak kamu dan Saras. Bagaimana bisa kamu tidak mengakuinya. Malah bilang mandul lagi."


"Tuan muda, aku ingin katakan satu rahasia yang selama ini aku simpan baik-baik dari tuan muda. Aku ... dan istriku, Saras. Tidak punya anak kandung."


"Tidak mungkin. Jelas-jelas Saras melahirkan prematur waktu itu. Bagaimana bisa kamu bilang seperti itu padaku. Dengar Johan, jangan permainkan aku."

__ADS_1


"Aku tidak sedang mempermainkan tuan muda. Aku berkata jujur. Aku tidak bisa punya keturunan dengan benih dariku sendiri. Saras memang melahirkan anak waktu itu. Tapi yang ia lahir kan bukan anak aku. Melainkan, anak laki-laki lain."


"Johan! Apa yang kamu katakan barusan? Jangan bercanda. Apa otakmu ada masalah setelah kamu sadar dari koma?"


__ADS_2