I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 42


__ADS_3

Mobil yang sopir itu kendarai akhirnya sampai juga ke vila Camar. Mereka sampai ketika hari sudah hampir subuh. Perjalanan beberapa jam dari desa menuju kota, memang sedikit melelahkan buat Yola. Dia sampai ketiduran di pangkuan opanya. Sedangkan opa David, ia tidak tidur hanya untuk menjaga Yola, si cucu kesayangan.


Bimo yang memang kelelahan, juga ikut terlelap di samping sopir yang bergantian dengannya mengendarai mobil satu jam yang lalu. Saat sampai ke vila, kakek tidak langsung membangunkan Yola, ia malahan menggendong tubuh cucunya dengan sangat hati-hati takut sang cucu terbangun dari tidur lelapnya.


"Katakan pada mereka, jangan berisik! Cucuku sedang tidur soalnya," kata opa David pada sopir itu sebelum ia membawa Yola masuk ke dalam vila.


"Baik tuan besar."


Opa david langsung membawa cucunya masuk ke dalam. Lalu kemudian, ia baringkan tubuh Yola di atas ranjang kamar tamu yang berada paling dekat dengan pintu masuk.


"Pa."


"Jangan berisik, Kania. Yola sedang tidur."


"Putriku sayang," ucap Kania sambil duduk di samping ranjang. Lalu, ia belai rambut panjang itu dengan lembut.


"Pa, sebaiknya papa istirahat sekarang. Wajah papa terlihat sangat kelelahan. Mumpung hari belum pagi, dan Yola belum bangun. Karena jika Yola sudah bangun, aku yakin, papa tidak akan istirahat lagi."


"Kamu benar, Kania. Aku akan istirahat sekarang juga, sebelum cucuku bangun."


"Oh ya, di mana Brian? Kenapa dia tidak terlihat sama sekali? Apa dia tidur?"


"Brian gak ada di vila, Pa. Dia pergi ke rumah sakit dari tadi malam, dan sampai sekarang masih belum pulang. Ada hal mendesak yang harus ia urus di sana."


"Mm ... kamu bikin aku sedikit panin barusan. Untuk kamu jelaskan maksud Brian ke rumah sakit. Jika tidak, mungkin aku sudah berteriak karena kaget."


"Masalah mendesak apa yang membuat anak itu pergi dari malam sampai subuh belum kembali? Jangan bilang ini karena ulah anak pungut yang kalian manjakan itu ya."

__ADS_1


"Bukan soal Dewa, Pa. Tapi soal, Johan."


"Johan? Ada apa lagi dengan orang itu. Tidak anak, tidak orang tuanya, sama saja. Sama-sama suka bikin orang lain susah. Benar-benar keluarga tidak tahu di untung mereka itu."


"Aku juga tidak tahu pasti, Pa. Brian tidak menjelaskan padaku apa yang terjadi sebenarnya. Hanya yang aku tahu, setelah polisi menelpon tadi malam, Brian langsung pamit ke rumah sakit padaku. Lalu, setelah aku hubungi karena dia tidak kunjung kembali. Dia hanya bilang, sebentar lagi akan pulang. Itu saja."


"Hm ... biarlah. Itu salah Brian sendiri. Cari asisten yang tidak becus ngurus keluarga. Lagian, Brian juga terlalu memanjakan asistennya itu. Asisten diperlakukan kayak saudara. Ya jelas ngelunjak dia."


Kania hanya bisa tersenyum menanggapi perkataan papa mertuanya ini. Ia memahami rasa kesal dan marah papa mertuanya saat mengetahui kenyataan, kalau yang Dewa cintai itu adalah anak Johan. Dan karena anak Johan ini juga, cucunya sakit hati.


Anak dari seorang bawahan bisa menyakiti hati cucu kesayangannya. Itu yang membuat dia marah besar. Maklum, dia adalah orang paling kaya. Dia mengganggap cucunya adalah tuan putri yang tidak boleh dikhianati oleh siapapun.


Kania memahami hal itu.


Untuk itulah, dia hanya membalas ucapan papa mertuanya dengan senyum. Karena dia tidak ingin berdebat soal masalah yang baru saja terjadi.


"Ya sudah. Aku ke kamar dulu untuk istirahat. Kamu juga sebaiknya istirahat selagi Yola masih belum bangun, Kania. Wajahmu juga terlihat seperti orang yang kurang tidur."


"Hm ... terserah kamu saja. Aku pergi dulu."


"Iya, Pa."


Opa David beranjak dari tempatnya. Ia berjalan menuju pintu kamar tersebut. Namun, belum juga sampai di depan pintu, ia kembali memutar tubuh untuk melihat ranjang. Di mana Yola dan Kania ada di sana sekarang.


"Oh ya, Kania. Jangan biarkan pemuda brengsek itu mendekati cucuku lagi sekarang. Atau aku sendiri yang akan membuat perhitungan langsung padanya."


"Pemuda brengsek? Siapa, Pa?"

__ADS_1


"Huh ... tentu saja anak pungut kalian yang tidak tahu diri itu."


"Pa, dia punya namanya. Namanya, Dewa."


"Terserah siapa namanya. Yang jelas, aku tidak sudi menyebut namanya dengan bibir ini. Pokoknya, jangan biarkan dia mendekati cucuku lagi mulai dari sekarang."


"Pa. Aku mohon. Masalah ini kita sebaiknya jangan ikut campur ya. Biarkan Yola yang memutuskan semuanya sendiri. Jika Yola memang sudah tidak ingin bersama Dewa, maka kita akan mendukung sepenuhnya. Tapi, sebaiknya, kita jangan ikut campur dengan cara memisahkan mereka."


"Kania-Kania. Anak kalian itu sebenarnya siapa sih? Pemuda brengsek itu? Jika memang kalian tidak sayang dengan Yola, maka biarkan saja aku yang merawat dan menjaganya."


"Bukan aku tidak sayang, Pa. Aku hanya ingin memberikan peluang buat mereka memilih dan menjalani hidup mereka tanpa ada campur tangan dari kita selaku orang tua. Dengan begitu, pelajaran berharga ini anak menuntun mereka menjadi manusia yang lebih dewasa."


"Lagipula, Yola juga mencintai Dewa. Pernikahan ini tidak akan terjadi jika tidak karena persetujuan dari Yola selaku putri satu-satunya keluarga Aditama, papa. Aku masih memihak pada anakku, Pa."


David melepas napas berat setelah mendengarkan penjelasan dari menantunya. Penjelasan itu bisa ia terima dengan lapang dada. Karena sebenarnya, ia juga tahu bagaimana hati cucu kesayangannya waktu itu.


Sebelum pernikahan antara Yola dan Dewa terjadi, mereka sudah membahas soal pernikahan itu. Yola bersedia, bahkan, sangat bahagia dengan rencana pernikahan itu. Lalu sekarang, bagaimana dia bisa membuat hati cucunya terluka saat ingat seperti apa perasaan Yola pada Dewa.


"Ya sudah, aku sepertinya harus ke kamar sekarang. Hari sudah mau pagi," ucap David sambil beranjak segera.


"Iya, Pa."


Setelah kepergian papa mertuanya, Kania langsung merebahkan tubuh di samping anak kesayangannya yang masih terlelap. Ia tatap wajah itu dengan penuh kasih sayang.


"Nasib kita sama, Nak. Hanya saja, mama mungkin sedikit lebih beruntung dari kamu. Karena mama dijodohkan dengan laki-laki yang sangat spesial seperti papa kamu."


"Semoga keberuntungan itu menular ke kamu, anakku. Karena mama sungguh tidak kuat jika harus menyaksikan kehidupan kamu yang seperti di atas bara api ini."

__ADS_1


Kania berucap sambil menangis. Ia sungguh tidak kuat untuk tidak menumpahkan air mata saat memikirkan nasib anaknya. Perlahan, ia menyeka air mata itu dengan cepat. Lalu berusaha memejamkan mata dan melupakan semua yang terjadi sekarang.


Sementara itu, di depan pintu kamar tersebut, Dewa mendengarkan semua yang mama angkatnya ucapkan. Rasa bersalah semakin menguasai hati dan pikiran Dewa saat kata-kata itu masuk melalui kuping, lalu menyentuh ke hatinya.


__ADS_2