I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 52


__ADS_3

Setelah anak itu lahir, ia kembali merasa kecewa dengan harapnya yang tidak menjadi kenyataan. Karena Dafa dan keluarganya sama sekali tidak mengganggap anak itu ada.


Setiap kali bayi kecil itu menangis, Dafa dan kedua orang tuanya memberikan bentakan buat Zara dan anaknya. Sampai-sampai, anak itu selalu kaget dan menambah keras tangisannya.


Semua itu Zara lalui selama satu tahun. Hingga akhirnya, takdir baik menghampiri Zara. Malam itu, ketika Dafa mabuk berat, dia tanpa sadar tiba-tiba menyeberangi jalan dan akhirnya, tertabrak mobil. Dafa dinyatakan meninggal ditempat kejadian karena luka yang ia alami terlalu serius.


Karena kejadian itu, orang yang telah menabrak Dafa menebus kesalahannya dengan membiayai kehidupan Zara juga anaknya selama penabrak itu masih hidup. Sayangnya, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Karena si penabrak juga meninggal selang lima bulan setelah kecelakaan itu.


Meninggalnya si penabrak karena serangan jantung, membuat Zara harus kembali bersedih. Karena dia harus kembali menjalani hidup seperti sebelumnya. Hidup menderita, membiayai kedua orang tua Dafa yang sekarang sudah sakit-sakitan. Di tambah, beberapa orang sering datang ke rumah untuk menagih hutang yang Dafa tinggalkan. Hutang judi, juga hutang minuman dalam jumlah yang sangat besar.


Tidak pula sampai di situ saja. Kemalangan kembali Zara alami. Rumah yang ia tempati bersama anak dan mertua, hangus terbakar saat Zaka anaknya menginjak umur dua tahun.


Malam itu, saat dia dan Zaka keluar dari rumah untuk membeli lilin, karena mati lampu, kedua orang tua Dafa tinggal di rumah dengan sisa lilin yang tinggal sedikit. Entah bagaimana caranya, saat dia kembali, rumah gubuk itu sudah terbakar hampir separuh.


Karena letak rumah itu lumayan jauh dari rumah penduduk yang lain, teriakannya terdengar sayup dan agak lambat baru bisa mengundang warga datang membantu. Alhasil, saat rumah hampir habis terbakar, baru ada warga yang datang.


Karena tragedi itu, kedua mertuanya pun tidak bisa di selamatkan. Keduanya menjadi korban dari kebakaran tesebut.


"Begitulah cerita kehidupan yang aku lalui selama ini, kak Kania. Aku sudah merasakan buah dari kejahatan yang aku perbuat padamu di masa lalu. Sekarang, aku sangat bersyukur telah dipertemukan kembali dengan kamu. Bisa mengucapkan maaf secara langsung, dan mendengarkan kamu memaafkan aku. Itu adalah keinginan terbesarku, selama aku menjalani karma kehidupan ini."


"Zara. Sudahlah. Berhenti bicara soal karma. Itu bukan karma melainkan cobaan buat kamu. Cobaan yang mengubah kamu menjadi orang baik. Lagipula, kamu punya anak yang sangat bertanggung jawab padamu, bukan?"


"Ya, kamu benar, kak. Aku punya buah hati yang luar biasa. Yang selalu ada untuk aku di manapun dan kapanpun aku butuh."


Kania dan Zara terus bicara dengan serius soal kehidupan mereka berdua. Sedangkan Brian, Yola, Zaka, juga Dewa, mereka hanya diam mendengarkan setiap perkataan yang kedua mama itu bicarakan.


"Zara, sepertinya, aku dan keluargaku harus pergi dulu. Pertemuan hari ini, sampai di sini saja. Jika ada waktu, aku akan datang mengunjungi kamu lagi nanti."


"Terima kasih banyak, kak Kania. Aku sangat bahagia setelah bertemu dengan kamu."


Kania dan keluarganya pun segera meninggalkan kamar itu. Sementara Zaka, diam di dalam bersama mamanya.


"Ma, ada yang ingin aku tanyakan sama mama. Benarkah apa yang aku saksikan barusan? Dia itu kakak mama?"

__ADS_1


"Iya, Nak. Dia kakakku."


"Kenapa dia tidak ada saat kita butuhkan waktu itu, Ma. Kenapa .... "


"Dia bukan kakak kandung mama, Zaka. Dia cuma kakak angkat. Kejahatan mama di masa lalu membuat mama dan dia terpisah. Mama menyesal, mama sungguh sangat menyesal."


"Ma .... "


"Dengarkan cerita mama. Mama yakin kamu selama ini penasaran dengan kehidupan masa lalu mama."


Zara menceritakan semua kisah yang telah ia lalui saat masih muda. Bagaimana sifatnya yang licik dengan kehidupan yang penuh sandiwara. Semuanya ia ceritakan tanpa ada yang terlewatkan.


Zaka tertunduk ikut merasakan rasa malu atas perlakuan yang mamanya lakukan di masa lalu.


"Jadi ... itu sebabnya kakek tidak suka padaku, Ma?"


"Itu bukan salah kakek mu, Zaka. Karena kejahatan mama sangat sulit untuk di maafkan."


"Ya Tuhan ... aku tidak habis pikir, Ma. Rasanya, aku malu sekali untuk bertemu kakek dan keluarga Yola lagi. Tuhan .... " Zaka bicara sambil mengusap kasar wajahnya. Lalu, ia tutup wajah dengan kedua tangan.


"Pa, ada yang ingin aku bicarakan dengan papa," ucap Dewa ketika mereka sampai di depan kamar rawat Johan.


"Mau bicara apa, Wa? Katakanlah!"


"Bisakah kita ke sana sebentar?" Dewa berucap sambil mengarahkan telunjuk ke ujung lorong.


"Kenapa tidak di sini saja?"


"Aku merasa sedikit tidak enak, Pa. Karena apa yang ingin aku bicarakan ini masih belum pasti dan hanya aku saja yang tahu."


"Pa, kok gak masuk-masuk sih? Kalian berdua kok malah diam di depan? Ada apa?" tanya Kania dengan wajah penasaran.


"Bicara soal pacarnya kali, Ma. Minta dinikahkan sama orang yang dia cintai," ucap Yola bicara dengan nada kesal, tapi berusaha terlihat biasa saja.

__ADS_1


Kania menggelengkan kepalanya.


"Hush ... kamu ini, Yola. Ada-ada saja. Jangan bicara yang nggak-nggak."


Dewa hanya menatap Yola dengan rasa sakit di dalam hati. 'Apakah kamu benar-benar menginginkan aku menjadi milik orang lain, Yolan? Apakah rasa cintai dalam hatimu sudah menghilang sekarang? Sampai begitu santainya kamu bicara seperti itu.'


"Mama dan Yola masuk duluan saja. Papa dan Dewa ada hal mendesak yang harus kami bahas."


"Ayo Dewa! Kita bicara ke sana."


"Dewa."


"Eh, iy--iya, Pa."


"Ayo!"


"Iya, Pa."


Brian dan Dewa langsung beranjak dari tempat mereka. Sambil berjalan menuju lorong, Brian memperhatikan Dewa yang terlihat murung.


"Dewa."


"Iya ... iya, Pa. Ada apa?"


"Kenapa murung, hm?"


"Gak, Pa. Gak murung kok."


"Jangan bohong. Kamu berbeda dari yang sebelumnya. Kamu mendadak murung setelah mendengar ucapan Yola tadi. Kamu kesal karena ucapan adikmu itu?"


"Tidak kesal, Pa. Hanya sedikit terluka dengan kata-kata yang ia ucapkan. Yolan sepertinya sangat tidak suka padaku sekarang. Mungkin, dia sudah sangat benci padaku sehingga tidak ingin lagi hidup bersamaku, Pa."


"Hush, apa yang kamu bicarakan, Dewa? Kenapa malah berpikir buruk seperti itu? Jangan mudah putus asa dong jadi laki-laki. Kamu harus kuat dan harus berjuang keras untuk meyakinkan Yola. Buktikan kalau kamu pantas kami maafkan."

__ADS_1


Dewa terdiam. Benaknya berusaha membenarkan apa yang papa angkat sekaligus mertuanya itu katakan. Semangat yang hampir hilang, kini mendadak muncul kembali.


"Oh ya, kita sudah sampai di sini. Sekarang, apa yang ingin kamu bicarakan dengan papa?"


__ADS_2