
Hanas berpikir kalau itu bukan solusi tepat untuk ia membalas dendam pada Yola. Dia tidak akan bisa menyiksa Yola jika melenyapkan Yola secara langsung.
Tapi, dengan melenyapkan orang yang Yola cintai, maka otomatis akan membuat Yola merana. Dan karena itu, Hanas memilih mati bersama Dewa.
"Kamu sudah gila, Hanas! Benar-benar gila!" ucap Dewa sambil terus berusaha melakukan usaha penyelamatan untuk dirinya sendiri.
"Aku memang sudah gila, kak Dewa. Dan itu semua karena kamu. Kamu yang menyebabkan aku gila. Kamu telah memilih orang lain untuk kamu cintai, bukan aku. Untuk itu, aku akan bawa kamu mati bersamaku. Dengan begitu, tidak ada yang bisa memiliki kamu selain aku, bukan?"
"Karena sampai kapan pun, aku tidak akan membiarkan apa yang tidak bisa aku miliki dimiliki oleh orang lain."
Usaha yang Dewa lakukan hanya sia-sia. Pintu mobil juga tidak bisa ia buka walau sudah ia paksa dengan sekuat tenaga.
"Kamu tidak akan bisa kabur, kak Dewa. Karena aku sudah merusak semuanya. Aku sudah mempertimbangkan semua kemungkinan yang bisa terjadi. Untuk itu, jangan bermimpi untuk kabur."
Lalu, Hanas merebut stir mobil yang sedari tadi Dewa jaga dengan sangat hati-hati. Karena kebetulan jalan yang mereka lalui itu sangat sepi, maka Dewa masih bisa menjaga arah mobilnya dengan baik walau remnya tidak berfungi.
"Perempuan gila, apa yang kamu lakukan, hah!"
Dewa kaget bukan kepalang sambil berusaha tetap menyeimbangkan mobilnya dengan baik. Namun, tepat saat itu pula, sebuah truk tiba-tiba muncul dari arah berlawanan. Hal itu semakin menambah rasa panik yang Dewa rasakan. Dan ... Brak! Bunyi dua buah benda keras saling hantam terdengar sangat kuat.
Mobil yang Dewa kendarai terpental berguling-guling di atas jalan raya. Suara teriakan terdengar sangat memilukan dari dalam mobil tersebut. Sedangkan truk yang menabrak mobil Dewa, oleng dan tumbang. Semua muatan yang ada di dalam truk tersebut tumpah.
Truk yang menabrak mobil Dewa itu adalah truk yang sedang mengangkut material berupa pasir. Sedangkan yang ada di belakang truk tersebut, membawa muatan batu.
Untung saja, truk yang menabrak mobil Dewa itu berjalan bersama temannya. Jika tidak, kejadian itu pasti akan memakan waktu yang lama baru bisa di tangani. Karena jalan yang mereka lewati itu tergolong jalan raya yang cukup sepi.
Sopir truk berusaha membantu temannya untuk keluar dari truk yang oleng setelah menghubungi pusat bantuan. Sedangkan mobil Dewa, terpaksa terbengkalai begitu saja sampai bantuan darurat datang.
__ADS_1
Butuh waktu hampir tiga puluh menit untuk pihak penyelamat datang. Tapi, untungnya mereka datang dengan persiapan yang cukup matang walau mendadak.
Semua bergerak cepat. Polisi dan tim medis mengeluarkan Dewa dengan posisi yang sangat memprihatinkan. Dari kepala mengeluarkan darah segar dan mata yang tertutup rapat. Sementara tubuh Hanas, tim penyelamat membutuhkan waktu yang agak lama agar bisa mengeluarkan dia dari mobil tersebut. Karena bagian kakinya terjepit di mobil itu.
Setelah berhasil menyelamatkan korban, mereka segera melarikan korban ke rumah sakit. Sementara para polisi menyelidiki tempat kejadian dengan seksama.
Di sisi lain, Yola sedang memasang wajah tidak enak. Pikirannya sedang berkecamuk sekarang. Ia tidak tenang karena memikirkan ucapan Dewa tadi. Juga, ia merasa serba salah karena sikapnya pada Dewa.
Zaka berjalan cepat menghampiri Yola, saat melihat Yola yang sedang duduk di kursi depan, rumah kakek. Sebenarnya, ia sudah mencari Yola sejak tadi, tapi tidak menemukannya.
"Yola. Kamu di sini ternyata. Boleh aku ikutan duduk?"
"Silahkan saja, kak Zaka. Duduk saja, kenapa harus tanya padaku terlebih dahulu?"
"Karena aku takut kamu tidak mengizinkan aku duduk di samping kamu sekarang. Soalnya, aku lihat wajahmu sedang ada masalah."
"Aku udah lumayan lama. Udah muter-muter nyari kamu malahan. Tapi sayangnya, gak temu sama kamu."
"Sekarang, bukannya udah ketemu ya?"
"Iya, sekarang udah ketemu."
"Oh ya, sebenarnya, ada yang ingin aku katakan padamu, La. Ini soal .... "
"Soal apa?" tanya Yola karena merasa penasaran akibat Zaka menggantung kalimatnya.
"Ah, susah untuk aku bicarakan padamu dengan kata-kata. Sebaiknya, kamu lihat langsung saja sendiri," ucap Zaka sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
__ADS_1
"Apa?"
"Ini." Zaka lalu menyerahkan ponsel itu pada Yola. Yola segera menerima ponsel tersebut dengan rasa penasaran.
"Ap--apa ini?" tanya Yola dengan perasaan gugup. Soalnya, layar ponsel itu sedang memutar vidio yang memperlihatkan Dewa sedang bicara dengan Hanas.
"Lihat dan dengar saja baik-baik apa yang ada di dalam vidio itu!"
Ya, itu vidio yang Zaka rekam dua hari yang lalu. Tepat di hari Hanas dan Dewa sedang bertengkar di rumah sakit. Dan orang ketiga waktu itu yang mendengarkan pertengkaran Dewa dan Hanas adalah Zaka.
Zaka merasa, ia bisa memperbaiki hubungan Yola dan Dewa dengan bukti pembicaraan itu. Maka, dia tidak ingin membuang kesempatan itu. Dia segera merekam pertengkaran tersebut untuk ia serahkan pada Yola.
Memang sebenarnya, ia merasa berat melakukan hal itu. Tapi, karena nasehat dari mamanya, dan belajar dari apa yang telah mamanya lalui di kehidupan yang lalu, Zaka memutuskan untuk adil pada dirinya sendiri dan orang lain. Tidak ingin mengambil keuntungan dari masalah yang orang lain hadapi. Karena semua yang terjadi di atas dunia ini, sudah diatur oleh yang maha kuasa. Setidaknya, itulah yang mamanya katakan setiap menasehati dia untuk selalu berbuat baik.
Yola memperhatikan vidio tersebut dengan seksama. Perlahan, air mata mulai melintasi pipi putihnya yang mulus. Rasa bersalah kini telah menyelimuti hatinya secara perlahan tapi pasti. Ia menyesal, sangat menyesal karena telah bersikap kasar pada kakak angkat yang sekarang telah berubah status menjadi suami.
"Kak Zaka .... " Yola tertunduk sambil menahan tangis setelah menyerahkan ponsel kembali pada pemiliknya.
"Dari mana kakak dapat rekaman itu?"
"Aku yang merekamnya sendiri. Tepatnya, dua hari yang lalu saat kalian, atau kita semua berada di rumah sakit. Aku melakukannya juga karena tidak sengaja. Aku pikir, ini perlu untuk kamu ketahui. Karena hubungan kalian berdua sepertinya sedang renggang."
Yola tidak menjawab. Ia hanya terus berusaha menahan tangis dengan menundukkan kepala.
"Yola, aku sudah tahu kenapa kamu marah jika tuan muda dekat dengan perempuan lain. Alasannya, karena kamu cinta, bukan pada tuan muda?"
"Untuk itu, Yola. Aku sarankan padamu, sebagainya, kalian saling bicara. Dan teruntuk kamu, aku sarankan padamu agar tidak bertingkah egois lagi mulai dari sekarang. Pikirkan juga perasaan tuan muda, jangan hanya memikirkan perasaan kamu saja."
__ADS_1