I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 12


__ADS_3

"Ya nona. Ibu akan ulangi apa yang ibu katakan tadi. Ibu bersyukur ada surat wasiat yang menjodohkan nona kecil dengan tuan muda


Dewa. Karena jika tidak, tuan muda pasti akan menikah dengan perempuan itu."


"Perempuan itu? Siapa dia, bu Erni? Apa dia pacarnya kak Dewa?" tanya Yola dengan nada antusias.


Bu Erni tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan dengan ekspresi wajah cemas pada Yolan.


Yola yang melihat anggukan itu, berusaha memperlihatkan ekspresi biasa-biasa saja. Seakan ia tidak merasakan rasa sakit ataupun cemburu di hadapan bu Erni saat tahu kalau Dewa ternyata punya pacar sebelumnya. Padahal sesungguhnya saat ini, hati Yolan sedang gemuruh bak padang pasir diterpa padai dahsyat. Bukan badai lagi, melainkan, kiamat kecil yang meruntuhkan seisi hatinya sekarang.


"Nona gak papa?" tanya bu Erni dengan nada cemas.


"Kenapa aku, bu? Apa ada yang salah?"


"Nona gak marah kalau ternyata tuan muda sudah punya pacar sebelumnya?"


"Tidak. Aku tidak marah. Lagipula, kenapa aku harus marah, bu Erni? Bukankah dia punya pacar sebelum menikah dengan aku, iya kan?"


"Iya juga ya, apa yang nona kecil katakan. Dia punya pacar itu sebelum menikah. Jadi, kenapa harus marah."


"Ya-ya-ya, nona benar sekali. Tidak perlu marah, karena apa yang harus nona lakukan selanjutnya bukanlah marah. Melainkan, berusaha membuat tuan muda menjadi milik nona seorang. Hanya milik nona kecil saja," ucap Bu Erni penuh semangat.


"Nah, itu bu Erni tahu. Ya sudah kalo gitu, sepertinya, aku harus ke kamar sekarang. Karena aku sudah sangat gerah," ucap Yola sambil memperlihatkan senyum termanis yang ia punya.


"Permisi bu Erni," ucap Yola sambil beranjak.


"Iya, silahkan nona kecil." Bu Erni bicara dengan senyum manis di bibirnya.


"Semangat nona!" ucap bu Erni sambil mengangkat tangan bak seorang pejuang kemerdekaan.

__ADS_1


Yola hanya tersenyum saja. Ia kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti karena ucapan bu Erni barusan.


Saat melewati kamar Dewa, langkah kaki Yola tiba-tiba terhenti seperti kendaraan yang mogok tiba-tiba. Untuk beberapa saat lamanya, ia tatap pintu kamar tersebut. Hingga kemudian, niat untuk masuk menyusup ke dalam hatinya.


Yola memilih masuk ke dalam kamar tersebut mengikuti apa yang hatinya katakan. Untungnya, saat ia mencoba membuka pintu, pintu tersebut ternyata tidak dikunci sama sekali. Ia pun dengan mudah masuk ke dalam untuk melihat kamar Dewa.


Mata Yola menyapu seluruh kamar sambil kakinya terus berjalan masuk ke dalam. Ketika melihat nakas, mata Yola langsung tertuju pada satu bingkai foto yang terpajang indah di atas nakas tersebut.


Ia perhatikan bingkai foto itu dengan seksama. Tangannya sungguh ringan untuk menyentuh bingkai foto tersebut. Namun, bunyi langkah kaki menghentikan Yola untuk melakukan apa yang ingin tangannya lakukan.


Dengan cepat, Yola berlari menuju pintu. Saat tangannya ingin menarik gagang pintu tersebut, seseorang yang berada di luar kamar mendorong pintu itu hingga menimbulkan tabrakan. Pintu itu menabrak tubuh Yola dengan keras sampai menimbulkan sebuah bunyi khas suatu benda menabrak benda yang lainnya.


"Aduh!" Suara pekikan itupun tidak bisa Yola tahan. Dengan tubuhnya yang kehilangan keseimbangan, Yola harus rela terjatuh ke lantai yang keras.


Suara itu membuat Dewa kaget sekaligus bergegas untuk melihat siapa yang ada di balik pintu kamarnya. "Yolan!"


"Yola."


"Kak Dewa. Sakit," ucap Yola dengan nada manja sambil memegang dahinya yang terlihat memerah sekarang.


"Ya ampun. Kenapa kamu begitu ceroboh, Yolan?"


"Sakit kak Dewa. Bisakah kakak simpan omelan itu dan segera menolong aku?" tanya Yola masih dengan nada manjanya.


Dewa tidak berucap lagi. Ia segera membantu Yola untuk berdiri. Namun, Yola yang pintar, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas yang ia punya untuk bisa dekat kembali dengan sang kakak.


"Aduh. Kakiku juga sakit kak Dewa. Aku rasa, aku tidak kuat untuk berdiri lagi sekarang."


"Ya Tuhan. Apakah separah itu?" tanya Dewa dengan nada kesal.

__ADS_1


"Apakah kak Dewa tidak tahu, kalau kakak terlalu keras mendorong pintu hingga aku terjatuh? Sekarang, aku tidak bisa berjalan karena bukan hanya jidatku yang sakit, tapi lutut ku juga."


Dewa menarik napas panjang mendengarkan penjelasan adik angkatnya barusan. Ia tidak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan adik angkatnya. Ya walaupun sebenarnya, Dewa tahu kalau Yola hanya pura-pura sakit pada lutut. Karena tidak mungkin dia mendorong pintu sekeras itu. Sampai harus membuat cedera pada lutut dan dahi secara bersamaan.


"Ya sudah. Aku gendong kamu ke kamarmu." Dewa berucap pasrah.


"Lho, kenapa harus kak Dewa menggendong aku terlalu jauh? Kamu akan sakit pinggang jika harus menggendong aku sampai ke kamarku kak."


"Lalu, aku harus gendong kamu ke mana? Ke rumah sakit? Atau .... "


"Tidak-tidak. Itu lebih jauh lagi. Sebaiknya, kak Dewa gendong aku ke kasur kak Dewa saja. Bukankah kasur kak Dewa sangat dekat dari sini. Isss .... "


Melihat Yola yang berusaha menahan sakit pada dahinya, Dewa memilih mengalah. Ia tidak ingin berdebat lagi. Dengan cepat, ia angkat tubuh mungil itu untuk ia pindahkan ke atas kasurnya yang memang tidak memerlukan banyak langkah untuk sampai.


Setelah membaringkan Yola di atas kasur, Dewa berniat untuk pergi. Namun dengan cepat, Yola menahan tangan Dewa.


"Kak Dewa mau ke mana?"


"Tunggu di sini. Aku akan ambilkan kotak obat untuk mengobati dahi mu yang memar itu."


Dewa pun beranjak menuju lemari. Ia mengeluarkan kotak obat dari dalam lemari tersebut, lalu membawa kotak itu ke kasur.


Dewa mengobati memar yang ada di dahi Yola dengan lembut. Kelembutan itu membuat Yola semakin mengagumi Dewa. Benih cinta yang memang sudah lama tubuh, kini semakin berkembang karena pupuk kelembutan itu.


Ditambah lagi dengan wajah tampan milik Dewa yang begitu mempesona bagi Yola. Semakin ia tatap, semakin tampan pula wajah itu. Semakin pula rasa ingin memiliki itu berkembang dalam hati Yola saat ini


Namun, ketika ingat kalau sebenarnya Dewa sudah punya orang yang ia cintai. Hati Yola mendadak terasa sakit. Rasa egois pun muncul.


'Apa yang Bu Erni katakan itu benar adanya. Aku tidak boleh marah atau sakit hati. Karena yang harus aku lakukan sekarang adalah, berjuang untuk mendapatkan kak Dewa seutuhnya. Supaya hanya aku yang bisa memiliki kak Dewa,' kata Yola dalam hati sambil terus memperhatikan wajah Dewa dengan rasa penuh kekaguman.

__ADS_1


__ADS_2