I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 19


__ADS_3

Mata pemuda itu berbinar-binar ketika mendengarkan kata-kata yang staf itu ucapkan. Dengan air mata bahagia, ia menerima berkas yang staf itu berikan.


"Nona. Terima kasih banyak karena telah membantu saya. Jika tidak ada nona, saya tidak tahu apa yang akab terjadi dengan mama saya," ucap pemuda itu dengan mata dan nada bicara yang sangat bahagia.


"Tidak perlu berterima kasih padaku, karena sudah sewajarnya kita sesama manusia saling bantu."


"Nona, suatu saat nanti, aku akan bantu nona bagaimanapun caranya. Membalas kebaikan nona dengan caraku, walau tidak dengan uang. Yang jelas, hutang budi ini akan aku ingat selalu."


"Sudah! Adikku sudah membantu kamu. Sekarang, cepatlah bawa berkas itu agar mama kamu bisa segera di tangani kembali," kata Dewa menyela pembicaraan pemuda itu dengan Yola.


"Baiklah. Sekali lagi terima kasih banyak, nona, tuan muda. Kebaikan kalian akan selalu aku ingat sampai kapanpun."


Laki-laki itu lalu beranjak meninggalkan tempatnya. Dengan wajah yang sangat bahagia. Sementara itu, bu Erni yang sedari tadi asik memperhatikan wajah pemuda itu, langsung mendekati Yola ketika pemuda itu baru beranjak beberapa langkah.


"Nona kecil. Bukankah laki-laki itu adalah laki-laki yang menabrak nona tadi?"


"Apa?" tanya Dewa sedikit kaget.


"Iya, tuan muda. Tadi, laki-laki itu telah menabrak bahu nona kecil sampai nona meringis kesakitan. Mana tidak minta maaf sama sekali lagi. Jangankan minta maaf, menoleh saja tidak, tuan muda. Tapi sekarang, nona kecil malah berbaik hati membantu orang yang tidak tahu sopan santun seperti pemuda itu," ucap bu Erni dengan nada kesal.


Karena baru berjalan beberapa langkah, dan nada bicara bu Erni itu besar. Pemuda itu bisa mendengarkan apa yang bu Erni katakan dengan sangat baik. Ia pun menghentikan langkahnya, memutar arah kembali mendatangi Yola.


"Nona, aku minta maaf atas kesalahan aku yang tadi. Karena aku sangat buru-buru, sampai tidak memperhatikan jalan dan tidak sempat pula minta maaf pada nona." Laki-laki itu berucap dengan nada penuh penyesalan.


"Kamu ... kenapa tidak tahu sopan santun. Bagaimana jika adikku kenapa-napa, hah?" tanya Dewa dengan nada sangat kesal.


"Sudah kak Dewa. Bukankah dia sudah menjelaskan kenapa dia bisa melakukan kesalahan itu? Jadi, aku rasa tidak perlu dipermasalahkan lagi. Lagipula, dia tidak benar-benar menabrak bahuku. Hanya menyenggolnya sedikit saja."


"Tidak apa-apa. Maafkan kakak dan pengasuhku. Karena mereka sangat peduli padaku, makanya mereka bersikap seperti itu," ucap Yola dengan nada penuh kelembutan pada pemuda itu.

__ADS_1


Kelembutan yang Yola tunjukkan pada pemuda itu membuat Dewa merasa kesal. Entah apa sebabnya, dia juga tidak tahu. Yang jelas, dia tidak suka dengan sikap lembut Yola itu.


"Nona, terima kasih banyak. Sekali lagi terima kasih. Aku janji, akan membalas kebaikan nona nantinya. Tidak sekarang, tapi mungkin suatu saat nanti. Yang jelas, aku pasti akan membalas kebaikan nona ini," ucap pemuda itu dengan wajah sungguh-sungguh.


"Tidak perlu merasa hutang budi padaku. Karena aku tulus berniat menolong tanpa mengharap balasan. Oh ya, namaku Yola. Tidak perlu memanggil aku dengan sebutan, nona. Karena sebutan nona hanya untuk orang yang bekerja di rumahku saja. Aku merasa tidak enak jika kamu juga memanggil aku dengan sebutan itu."


Yola mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pemuda itu. Pemuda itu langsung menyambut uluran tangan Yola dengan senyum manis di bibirnya.


"Aku Zaka. Salam kenal nona Yola. Eh, maksudku, Yola."


"Yolan. Apakah sudah selesai? Aku harus kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaanku yang masih menumpuk."


Terdengar nada kesal dari ucapan Dewa barusan. Yola tidak menghiraukan nada itu. Yang jelas, ia sedang bahagia karena bisa menolong orang. Apalagi, yang ia tolong itu pemudanya sangat manis. Meskipun terlihat berantakan dengan rambut yang sedikit acak-acakan, tapi tetap saja, wajah tampan itu tidak bisa ia sembunyikan.


"Yolan .... " Dewa mengulangi panggilannya.


"Iya, kak. Sudah selesai. Ayo pulang."


Kali ini, kebahagiaan Yola membuat hati Dewa kesal. Biasanya, kebahagiaan Yola adalah kebahagiaan dirinya. Tapi kali ini, karena pemuda tadi, entah kenapa, hatinya bisa jadi kesal seperti itu.


"Kenapa kamu begitu ingin bersusah payah sampai mau membeli rumah sakit itu tadi, Yolan? Bukankah masalah pemuda tadi itu hanya uang? Ia tidak punya uang untuk membayar biaya pengobatan mamanya. Ya, tinggal bantuin bayar saja, kan gampang."


"Kak Dewa tidak mengerti. Aku merasa sangat kesal ketika melihat semua orang yang bekerja di rumah sakit itu. Sepertinya, semua pekerja di sana tidak punya hati."


"Tunggu saja aku bisa bicara dengan opa. Akan aku kritik opa habis-habisan."


"Ya Tuhan, apa itu adalah efek karena kamu terlalu lama di luar negeri, Yolan?"


"Maksud kak Dewa?" tanya Yola sambil menoleh ke arah Dewa dengan tatapan meminta penjelasan.

__ADS_1


"Tidak ada. Lupakan saja."


"Ih, bikin kesal aja."


"Aku sarankan padamu, jangan terlalu ikut campur dalam urusan orang yang belum kamu kenali. Mereka mungkin berbahaya buat kamu."


"Berbahaya? Maksudnya?"


"Ya, jangan dekat-dekat dengan orang asing. Karena kamu adalah putri konglomerat. Mereka mungkin akan memanfaatkan kamu untuk mendapat apa yang mereka inginkan."


"Kak Dewa takut ya .... " Yola malah menggoda Dewa sambil tersenyum dengan tangan menunjuk ke arah Dewa.


"Takut apa?"


"Takut aku kenapa-napa. Kak Dewa sayang ya sama aku."


"Yolan. Jangan mulai lagi. Jangan tanyakan apa yang sudah kamu tahu jawabannya."


Dewa berucap dengan wajah sedikit merona.


"Aku sejujurnya tidak tahu, kak Dewa. Karena kakak sepertinya sangat tidak suka dengan aku setelah pernikahan kemarin."


"Yolan. Aku tidak pernah bilang kalau aku tidak menyukai kamu. Aku sayang padamu, karena kamu adalah adikku. Rasa sayang ini sampai kapanpun akan selalu ada untuk kamu."


Rasa bahagia yang tadinya sudah ada dalam hati Yola, kini kembali menghilang ketika mendengar kata-kata adik yang Dewa ucapkan.


Ia tatap wajah Dewa yang saat ini menatap lurus ke depan.


'Haruskah selalu terhalang dengan kata adik? Aku suka kamu sebagai kekasih. Aku ingin kamu sayang padaku bukan hanya sebagai adik, tapi sebagai kekasih, bahkan sebagai istri. Karena sekarang, aku adalah istrimu, kak.' Yola bicara dalam hati sambil mengalihkan pandangannya melihat keluar mobil.

__ADS_1


Tidak ada obrolan lagi setelah itu. Hingga mobil sampai di halaman kediaman merekapun, Yola tetap diam tanpa kata.


__ADS_2