
Yola menarik napas dalam-dalam. Lalu kemudian, ia hembuskan napas itu secara perlahan. Ia tahu kalau itu pasti akan terjadi. Papa dan mamanya pasti akan datang jika tahu dia bikin ulah. Mana mungkin orang tuanya akan membiarkan dia sendirian di tanah air ini. Meskipun sebenarnya, dia tidak sendirian.
"Yola, katakan padaku apa yang terjadi!"
"Kakek benar, Zaka. Kamu tidak perlu ikut campur untuk masalah ini. Sebaiknya kamu diam dan lihat saja sekarang."
"Terima kasih atas bantuan yang kamu berikan padaku. Hati ini merasa lebih tenang saat berada di ladang desa indah ini. Sekarang, aku harus pulang."
"Tapi Yola ... kamu yakin ingin pulang dengan orang-orang itu? Jangan-jangan, mereka orang jahat lagi."
"Zaka. Diam."
"Kakek, aku hanya mengkhawatirkan keadaan Yola. Itu saja."
Kakek terdiam memikirkan apa yang Zaka katakan. Benaknya perlahan membenarkan perkataan Zaka. Perasaan cemas pun mulai menyusup ke dalam hatinya sekarang.
"Kakek." Yola memanggil kakek yang terdiam sambil merenung itu.
"Yola, tunggu di sini sebentar. Aku akan bicara lagi dengan orang-orang itu. Ingat, jangan beranjak dari taman ini sebelum kakek sendiri yang datang menjemput kamu."
Yola hanya mengangguk. Ia memahami kekhawatiran orang-orang yang ada di sekitarnya. Karena bagaimanapun, dia sekarang berada di desa. Jauh dari perhatian mata-mata yang papanya percayai untuk menjaga dia selama ini.
Kakek pun kembali meninggalkan taman belakang menuju halaman depan. Tempat di mana tiga orang yang berpakaian baju serba hitam itu berada.
"Di mana nona kecil?" tanya salah satu dari mereka ketika melihat kakek kembali datang sendirian.
"Ada di dalam. Dia masih belum ingin keluar jika bukan mama dan papanya yang datang menjemputnya secara langsung."
Mendengar kata-kata itu, mereka saling pandang satu sama lain. Lalu kemudian, salah satu di antara mereka menganggukkan kepala.
Entah apa yang mereka katakan, kakek juga tidak mengerti. Bahasa lewat isyarat itu sungguh sulit untuk kakek pahami.
Tapi, orang itu langsung mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Menggeser layar ponsel dengan cepat. Lalu, beberapa saat kemudian ....
__ADS_1
"Halo tuan Brian."
" .... "
"Maaf, tuan. Nona kecil tidak ingin pulang jika bukan tuan dan nyonya yang datang sendiri untuk menjemputnya. Kami tidak bisa berani memaksanya tuan Brian."
" .... "
"Baiklah. Kami mengerti."
Kakek terlihat sabar menanti tindakan selanjutnya dari orang-orang berbaju serba hitam itu. Sabar yang disertai dengan waspada tentunya.
Sementara itu, di vila camar. Mereka masih berada di ruang tamu vila tersebut. Meskipun hari sudah semakin malam.
Dewa yang masih berada di posisinya, langsung bangun ketika mendengarkan apa yang Brian katakan. Matanya berbinar-binar senang ketika tahu, kalau posisi Yola sudah diketahui sekarang.
"Pa, biar aku saja yang pergi menjemput, Yolan. Aku .... "
"Tidak! Kamu tidak pantas bertemu dengan cucuku lagi sekarang." Opa David yang mendengar hal itu, segera memotong perkataan Dewa dengan cepat. Membuat wajah bahagia Dewa yang baru saja terukir, harus murung kembali.
Meski berada dalam dilema, Brian dan Kania tetap tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang opa David katakan. Membiarkan opa David pergi menjemput Yola pulang, mungkin adalah pilihan terbaik untuk semuanya.
"Baiklah, Pa. Papa saja yang jemput Yola pulang. Semoga dia mau papa ajak pulang. Aku dan Kania akan tunggu di vila. Kabari terus kami di sini."
"Kapan papa mau berangkat, Pa?" tanya Kania cepat.
"Sekarang, Kania. Papa akan langsung berangkat sekarang juga."
"Kamu! Siapa namamu?" tanya opa pada Bimo yang masih diam di tempatnya sejak tadi.
"Bimo, tuan besar."
"Ah, Bimo. Kamu ikut aku pergi jemput cucu kesayanganku sekarang."
__ADS_1
"Baik, tuan besar. Saya akan ganti baju terlebih dahulu."
"Ya. Tentu saja kamu harus ganti baju dahulu. Mana mungkin kamu bisa pergi hanya dengan menggunakan handuk saja."
"Cepat ganti bajumu. Aku tunggu kamu di mobil."
"Baik tuan besar."
Setelah kepergian opa David dan Bimo. Sekarang tinggal Dewa dan kedua orang tua angkatnya saja lagi di ruang tamu, sedangkan Johan sudah pamit pulang sejak satu jam yang lalu.
"Papa, Mama. Kalian tetap marah padaku setelah kebenaran terungkap?"
"Dewa, kami tidak marah padamu. Bahkan, sejak awal, kami juga tidak marah padamu. Kami hanya kecewa dengan sikap kamu ini. Kecewa dan sedih lebih tepatnya."
"Mama kamu benar. Kami kecewa dengan sikap kamu yang menyakiti hati adik angkat mu. Tapi, semuanya sudah jelas sekarang. Rasa kecewa ini sudah mulai terobati dengan kenyataan yang sama-sama kita lihat tadi."
"Namun, untuk kejadian barusan, papa mohon kamu mengerti ya, Wa. Opa kamu memang punya sifat yang sangat keras. Bukan hanya kamu saja yang pernah di perlakukan seperti ini. Papa juga pernah mengalaminya."
"Ya, Dewa. Apa yang papa kamu katakan itu benar adanya. Opa David memang sosok laki-laki yang keras dan tegas. Ia bersikap keras dan tegas pada semua orang. Terkecuali ... pada Yola. Hanya pada Yola dia bersikap begitu lembut, bahkan sampai tidak sedikitpun sikap keras dan tegas itu terlihat."
"Hm ... untuk itu, papa harap kamu memaklumi keputusan papa dan mama barusan, ya Wa."
"Iya, Nak. Semoga kamu mengerti dengan keputusan yang telah kami ambil barusan."
"Iya, Pa, Ma. Aku mengerti. Aku minta maaf karena telah menimbulkan keributan di dalam keluarga ini. Aku orang luar yang tidak tahu diri. Aku .... "
"Dewa. Siapa bilang kamu orang luar, hm? Kamu anak kami. Anak sekaligus menantu sekarang. Ya meskipun, itu sulit untuk di terima." Kania bicara sambil memegang tangan kekar anaknya.
"Aku sudah menerimanya, Ma. Dan .... " Dewa tidak melanjutkan kata-kata yang ingin ia ucapkan. Ia malahan menundukkan wajah, merasa sangat malu jika ingat kesalahan yang telah ia perbuat.
"Sudahlah. Sebaiknya kamu masuk kamar, lalu mandi. Papa lihat, wajahmu sangat kusut sekarang. Kamu butuh mandi dan istirahat agar mengembalikan kesegaran juga ketenangan hatimu." Brian berucap sambil menepuk pelan pundak Dewa.
"Jangan lupa, kamu masih punya pertempuran yang belum kamu selesaikan. Pertempuran yang sesungguhnya. Yang pastinya akan membutuhkan kesabaran juga akan menguras emosi."
__ADS_1
"Maksud papa?" tanya Dewa dengan wajah bingung.
"Maksud papamu itu adalah, kamu masih harus berjuang menjelaskan pada adikmu soal kesalahpahaman ini. Papa dan mama tidak akan ikut campur lagi sekarang dalam urusan rumah tangga kalian. Kamu harus berjuang sendiri untuk mendapatkan maaf dari Yola."