I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 22


__ADS_3

Bu Erni segera mengemudikan mobil dengan Yola yang terus merintih di sampingnya. Sedangkan mas Mamat, ia duduk di belakang dengan wajah gelisah.


Sangking cemasnya bu Erni, dia tidak menghiraukan lagi lampu merah yang terpasang di pinggir jalan. Dengan beraninya, lampu itu ia terobos sehingga polisi yang kebetulan sedang patroli melihatnya. Hasilnya, mobil mereka dikejar polisi yang sedang patroli tersebut.


Bu Erni bukannya takut, tapi malah tidak menghiraukan keberadaan polisi lalu lintas itu. Ia terap mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, masuk ke jalan Kelinci.


Sementara itu, Dewa dan Bimo sedang berada di depan gedung Camolia. Mereka baru saja sampai di gedung tersebut, Dewa langsung turun dengan cepat.


"Sabar tuan muda, kita harus hati-hati." Bimo berusaha menenangkan Dewa.


"Tidak bisa, Bim. Aku takut Hanas kenapa-napa. Dia sekarang sedang dalam bahaya. Aku tidak bisa sabar dan tenang lagi sekarang."


"Tuan muda. Kita harus waspada. Takutnya, ada jebakan di dalam sana."


"Aku akan hadapi seperti apapun jebakan itu. Yang terpenting adalah, Hanas bisa kita selamatnya."


Dewa ingin beranjak masuk ke dalam. gedung, tapi, Bimo masih berusaha menahan niat Dewa itu dengan menahan tangan Dewa. Sementara di samping gedung, dua orang preman sedang menghampiri Hanas yang sedang duduk di atas kursi batu.


"Nona, sepertinya, orang yang nona tunggu sudah datang. Apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kita langsung menjalankan rencana kita sekarang juga?"


"Tunggu orang itu masuk ke dalam baru jalankan rencana ini. Ingat! Aku tidak ingin rencana kita ini gagal."


"Tenang saja nona. Semua sudah kami atur dengan sangat baik."


"Bagus," ucap Hanas sambil tersenyum.


Dewa menatap Bimo yang sedang memegang tangannya dengan tatapan tajam.


"Lepaskan tanganku, Bimo! Aku akan masuk ke dalam. Jika kamu takut, kamu bisa pulang sekarang juga."


"Bukan begitu, tuan muda. Aku merasa, ada yang tidak beres dengan semua ini."

__ADS_1


"Apanya yang tidak beres, hah! Sudah pastilah memang tidak beres karena Hanas sedang dalam bahaya besar. Sekarang, lepaskan aku!"


Bimo tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang Dewa katakan. Ia beranjak meninggalkan Bimo dengan perasaan kesal.


Tapi, bunyi sirene polisi yang sedang mengejar mobil yang bu Erni kendarai, memecah kesunyian malam dan memberi rasa takut pada preman-preman yang Hanas bayar. Bukan hanya itu, bunyi sirene itu juga mampu mencegah langkah kaki Dewa yang berniat untuk masuk ke dalam bangunan kosong itu lebih jauh.


Para preman yang sedang berjaga di pintu masuk, berhamburan lari ketakutan. Salah satu dari mereka segera menghampiri bos mereka yang sedang bersama dengan Hanas di samping gedung.


"Gawat bos, gawat."


"Ada apa? Katakan dengan jelas!"


"Orang itu ternyata membawa polisi ikut serta dengannya. Kita tidak bisa berada di sini lagi atau kita akan ditangkap dan di jobloskan ke dalam penjara."


"Gawat. Bagaimana ini, nona? Ternyata, orang itu memanggil polisi untuk ikut dia datang ke sini."


"Sial. Kenapa aku tidak memikirkan hal itu sebelum membuat rencana?" Hanas bergumam dengan wajah dan nada sangat kesal.


"Kalian langsung pergi saja. Biar aku yang memikirkan jalan selanjutnya untuk aku sendiri."


"Baiklah."


Bos preman itu segera pergi dengan langkah besar menyusul ke empat anak buahnya yang sudah duluan kabur meninggalkan gedung Camolia. Mereka sangat takut dengan kehadiran polisi. Karena jika mereka tertangkap di sekita gedung ini, maka hukumannya akan sangat berat. Karena gedung ini sudah di catat sebagai gedung berbahaya. Semua yang tertangkap akan dianggap penjahat dengan tuduhan kriminal kelas atas.


Setelah bos preman itu pergi, Hanas berusaha keras memutar otak untuk mengubah rencananya yang telah gagal totol akibat keteledoran dirinya sendiri. Karena dia yang tidak mempertimbangkan semua kemungkinan, akhirnya, ia harus menelan kegagalan.


Rencananya, dia akan menjebak Dewa di gedung kosong ini. Dewa akan di tangkap, lalu di beri obat agar ia melakukan sesuatu di luar kendali. Dengan begitu, Dewa akan bersedia menikahinya dengan alasan jebakan itu.


Dia akan bersikap sebagai korban dengan Dewa juga korbannya di sini. Dengan begitu, Dewa tidak akan menyalahkan dirinya karena kejadian diluar kendali itu. Karena mereka sama-sama korban kejahatan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.


Rencana gila yang entah bagaimana sampai Hanas bisa memikirkan untuk menjalankannya. Mungkin karena dia sudah sangat sakit hati atau mungkin juga karena dia sudah tidak bisa berpikir jernih karena mengingat sikap Dewa tadi siang pada Yola.

__ADS_1


Dewa yang begitu menyayangi Yola, walau sebagai adik itu membuat ia sangat sakit hati. Meski dihasut seperti apapun, Dewa tetap tidak akan mau meninggalkan Yola. Karena dia sayang adiknya.


Maka dari itu, Hanas semakin berpikir untuk masuk ke dalam kehidupan Dewa agar bisa merusak segalanya. Agar dia bisa menghancurkan keluarga Aditama yang dia pikir menjadi penyebab kehancuran dalam hatinya.


Setelah berpikir keras dengan memutar otak habis-habisan, akhirnya, ia temukan juga cara untuk keluar dari rencananya yang telah gagal total. Hanas berpura-pura menangis sambil berlarian keluar dari gedung itu. Ia memasang wajah yang sangat ketakutan agar bisa terlihat memprihatinkan nantinya.


Dewa yang sebelumnya menghentikan langkah karena bunyi sirene mobil polisi, kini kembali melanjutkan langkah kakinya untuk masuk ke dalam. Tapi, langkah itu terhenti ketika melihat Hanas yang berlarian menghampiri dia.


"Hanas!" Dewa berteriak kaget sekaligus lega.


"Kak Dewa! Tolong aku, kak."


Hanas langsung menghambur ke dalam pelukan Dewa sekarang juga. Dewa menerima pelukan itu dan segera memeluk erat tubuh Hanas untuk beberapa saat lamanya. Lalu kemudian melonggarkan pelukan itu untuk melihat wajah Hanas dengan seksama.


"Hanas, tenang. Kamu aman sekarang."


"Aku takut, kak Dewa. Takut banget."


"Apa yang terjadi sebenarnya."


"Aku takut," ucap Hanas tidak ingin bicara, tapi malah kembali menghambur ke dalam pelukan Dewa.


Bimo yang merasa tidak enak hati, ia malah mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tapi, saat itu ia merasa, kalau ada masalah dengan Hanas. Ada yang tidak beres sebenarnya. Namun, tidak bisa mengatakan pada Dewa, karena Dewa tidak akan percaya.


"Sudah-sudah. Kamu aman sekarang."


Dewa lalu membawa Hanas masuk ke mobil.


Ia memapah Hanas dengan lembut, sambil terus berusaha menenangkan gadis itu.


Sementara itu, di sisi lain. Mobil yang bu Erni kendarai telah sampai di rumah sakit dengan selamat tanpa ada halangan. Polisi yang mengejar mereka, ternyata tidak mengikuti mobil itu sampai ke rumah sakit. Entah apa alasannya, bu Erni pun tidak ingin ambil pusing. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah, bagaimana ia bisa membawa nona kecil ke sayangannya secepat mungkin bertemu dokter.

__ADS_1


__ADS_2