I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 43


__ADS_3

Sementara itu, di depan pintu kamar tersebut, Dewa mendengarkan semua yang mama angkatnya ucapkan. Rasa bersalah semakin menguasai hati dan pikiran Dewa saat kata-kata itu masuk melalui kuping, lalu menyentuh ke hatinya.


'Maafkan aku, Ma. Aku adalah anak angkat yang tidak tahu balas budi. Kalian pantas benci padaku setelah kelakuanku yang begitu tega menyakiti hati adikku demi perempuan yang tidak pantas aku bela.'


Dewa menutup mata rapat-rapat sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok. Tanpa ia sadari, ia diawasi oleh Brian sejak tadi.


Melihat anak angkatnya yang begitu tersiksa dengan beban berat yang terjadi dalam keluarga mereka, Brian segera menghampiri Dewa. Menepuk pelan pundak itu untuk menyadarkan Dewa dari apa yang sedang ia pikirkan sekarang.


Sontak saja. Sentuhan itu membuat tubuh Dewa sedikit kaget dan segera membuka mata untuk melihat siapa yang sudah menepuk pundaknya.


"Papa."


"Ngapain kamu di sini? Kenapa gak langsung masuk kamar untuk istirahat, hm?" Gak capek kamu? Gak ngantuk begadang semalaman?"


"Capek, Pa. Tapi .... " Dewa tidak melanjutkan katan-katanya. Ia terlihat sedang begitu tertekan saat ini. Sampai-sampai, ia tidak tahu harus bicara apa pada papa angkatnya.


"Tapi apa, Dewa? Katakan saja apa yang ingin kamu katakan. Tidak perlu menyimpannya dalam hati."


"Pa, maafkan aku yang tidak tahu balas budi."


"Apa sih yang kamu bicarakan, Dewa? Bukankah ini semua bukan salah kamu? Jadi, tidak usah terlalu dipikirkan sekarang."


"Sebaiknya, kamu istirahat segera. Biar pikiranmu tenang kembali."


"Baik, Pa. Permisi."


"Hm .... "


_____


"Apa! Papa masih hidup?" tanya Hanas dengan wajah yang sangat amat kaget ketika salah satu suster membawa kabar padanya.


"Iya, Nona. Tuan Johan masih hidup, tapi keadaannya sangat kritis sekarang."


"Kritis? Lalu mamaku? Bagaimana keadaannya?"


"Ibu Saras ... dia tidak selamat. Dia sudah tewas saat polisi datang."


Seketika, tubuh Hanas kembali melemah. Ia yang sangat berharap kalau mamanya juga selamat, kini harus menelan rasa kecewa. Air mata tidak bisa ia tahan lagi. Turun dengan cemas membasahi kedua pipinya.

__ADS_1


"Tuhan! Kenapa papa yang selamat, hah? Kenapa bukan mama?"


Hanas berteriak keras sambil mengangkat wajahnya. Tidak ia perduli kan apa yang suster itu pikirkan. Yang penting, rasa kesal dalam hati bisa ia salurkan dengan teriakan itu.


"Aku benci, Papa. Aku benci papa yang sudah bunuh mama."


Dokter pun datang bersama kedua polisi. Ketika itu, Hanas baru ingat kalau dia sedang di awasi oleh polisi. Penyakit sandiwaranya kini mulai semakin kambuh. Ia semakin histeris dengan mengatakan kalau dia benci papanya karena membunuh mamanya.


Ia kini bertingkah bak orang gila yang sedang tidak ingat dunia lagi. Karena hal itu, dokter terpaksa memberikan Hanas obat penenang. Polisi pun terpaksa menunda kembali niat mereka untuk mengintrogasi Hanas.


Sementara di sisi lain, Yola yang baru bangun dari tidur nyenyak nya, langsung segera ke kamar mandi. Ia segera mengguyur tubuhnya dengan air untuk menyegarkan diri. Kejadian kemarin membuat ia lelah tubuh juga lelah hati.


Setelah mandi kurang dari lima belas menit lamanya, Yola langsung keluar dari kamar mandi tersebut. Ia kaget saat melihat mamanya berada di depan pintu kamar mandi.


"Udah selesai mandinya, Sayang?" tanya mamanya sambil tersenyum manis.


"Uh ... mama."


Bukannya menjawab, Yola malah langsung menghambur ke dalam pelukan sang mama dengan sangat bahagia.


"Mama aku kangen sama mama."


Mereka berpelukan untuk beberapa saat lamanya. Saling berpelukan untuk melepas rindu.


"Udah, ayo cepat pakaikan bajunya nih. Kemudian, kita sarapan bersama. Papa sama opa udah nunggu kamu tuh di meja makan."


"Ah, iya-iya. Aku kangen sama papa."


"Tapi, Ma ... Baju aku di kamar aku," ucap Yola dengan nada manjanya.


"Udah, bajunya ada di atas ranjang. Udah mama bawakan untuk kamu. Kamu sih ... kebiasaan. Kalau mandi gak mikir dulu. Bajunya ada apa nggak? Sama sekali gak dipikirin."


"Ih mama .... "


"Uh, mama emang orang yang paling ngertiin aku. Makasih ya, Ma." Yola berucap sambil mencium pipi Kania.


Kania hanya tersenyum saja. Anaknya ini emang sudah hampir dewasa. Tapi, prilakunya masih mirip anak-anak terkadang. Semakin bersama orang tuanya, semakin terlihat sikap anak-anak dari seorang Yola.


"Sama-sama, Sayang."

__ADS_1


"Ya udah, pakaikan cepat bajunya. Mama tinggal dulu."


"Iya, siap."


"Hm ... oya, anak mama gak lama lagi umurnya akan genap dua puluh tahun. Sebaiknya, bersikap dewasa sedikit ya, Nak. Biar kamu pantas dicintai oleh lawan jenismu."


Yola hanya terdiam mendengarkan apa yang mamanya katakan. Dia masih mematung ketika Kania meninggalkan kamar itu.


"Bersikap dewa agar aku pantas dicintai oleh lawan jenis? Apa selama ini aku tidak dewasa? Apa karena hal itu kak Dewa menyakiti aku dengan mementingkan perempuan lain?"


"Ah, aku tidak peduli dengan semua itu. Apa gunanya aku bersikap dewasa hanya karena seorang laki-laki. Lagipula, selama ini aku kurang dewasa apa, hah? Bukankah aku hanya manja saat bersama keluargaku. Ya ampun ... salahnya di mana aku manja?"


Yola kesal dengan kata-kata yang mamanya ucapkan. Hal itu menghambat niatnya untuk segera ke meja makan. Bukannya bersiap segera, tapi malah duduk diam dengan menatap wajahnya di depan meja rias.


Di meja makan, semua keluarga sudah berkumpul. Hanya tinggal menunggu Yola saja lagi. Ini bukan seperti sarapan pagi, malahan, mirip makan siang. Karena beberapa alasan, semua penghuni vila bangun kesiangan.


"Di mana Yola? Kok gak muncul-muncul?" tanya Brian sambil terus melihat ke arah depan.


"Mungkin sebentar lagi, Pa." Kania menjawab sambil meletakkan air di samping Brian dan Dewa.


"Kalau lapar, makan dulu aja," ucap Kania lagi.


"Tidak-tidak. Tidak boleh makan sebelum cucuku datang. Bukankah kita niatnya makan bersama? Mana boleh makan sebelum Yola ada."


"Ya sudah kalo gitu, biar aku yang panggilkan lagi. Kasihan papa, mungkin sudah lapar." Dewa beranjak dari duduknya.


"Eh ... ngapain kamu yang panggilkan?"


"Pa, biarlah. Biarkan Dewa yang panggilkan Yola."


"Kania benar, Pa. Biarkan dia yang pergi."


"Dewa, pergilah! Katakan padanya, kami menunggu dia untuk datang segera."


"Baik, Pa."


Dewa segera beranjak meninggalkan meja makan. Sampai di kamar tamu, dia segera mengetuk pintu kamar tersebut.


Perasaan kaku dan deg-degan mulai menyelimuti hati saat ia mendengar langkah kaki berjalan mendekati pintu. Ketika pintu terbuka, mata mereka saling tatap. Saat itu, kejadian di rumah sakit, tergambar dengan diingatan masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2