I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 35


__ADS_3

Saat mendengar kata-kata yang opa David ucapkan barusan, mata Dewa mendadak melebar. Ia tidak mengerti apa yang opa David katakan barusan.


'Apa? Opa David barusan bilang aku berduaan di kamar hotel dengan perempuan? Apa yang dia katakan ini sebenarnya? Siapa yang berduaan di kamar hotel?'


Dewa bertanya pada dirinya sendiri dalam hati.


Mendadak, otaknya tiba-tiba beku dan tidak bisa memikirkan semua yang telah terjadi sekarang. Karena sebelumnya, ia pikir masalah antara dia dan Yola adalah karena pertengkaran mereka tadi pagi. Tapi ini ....


Saat Dewa sibuk memikirkan apa yang sedang terjadi saat ini, dari arah depan muncul Johan. Johan yang berjalan perlahan menghampiri ruang tamu dengan wajah yang sulit untuk ia pahami.


"Tuan muda, Tuan David, nona Kania, aku minta maaf. Aku yang tidak becus mengurus keluargaku. Aku salah. Aku .... "


"Kamu tidak salah, Johan. Aku yakin kalau .... "


"Tidak salah apanya, hah! Jelas-jelas itu salah dia karena tidak becus mendidik anak." Opa David memotong perkataan Brian dengan nada kesal dengan cepat.


"Papa, tolong jangan emosi dulu. Sudah cukup papa emosi sejak tadi. Jadi sekarang, tolong jangan ada kata emosi lagi, Pa. Kita selesaikan masalah ini dengan cara baik-baik."


"Cara baik-baik? Apa cara baik-baik bisa membuat hati cucuku bahagia, hah?" Opa David menatap mata Brian dengan tatapan kesal.


"Mungkin bisa, papa. Tolonglah. Mengerti keadaan yang sedang terjadi sekarang. Papa jangan menambah keruh suasana. Aku tahu papa kesal dan marah atas apa yang telah terjadi. Tapi tolong, Pa, tenang."


"Kalian berdua sama saja. Kalian tidak sayang anak kalian. Kalian lebih sayang dengan anak pungut ini. Heh! Tidak ada gunanya aku tetap berada di sini," ucap opa David sambil beranjak meninggalkan tempatnya.


"Papa .... "


"Biarkan, Kania. Biarkan papa pergi untuk menenangkan diri. Jika ia tetap berada di sini, maka dia akan tetap emosi setiap saat."


Kania tidak berdaya. Ia juga berpikir hal sama dengan yang Brian katakan. Selanjutnya, beberapa detik setelah kepergian opa David, mereka kembali bicara serius.

__ADS_1


"Katakan sejujurnya, Dewa! Apa yang kamu inginkan sekarang?" tanya Brian dengan wajah kesal, yang sedari dati berusaha ia tahan.


"Mak--maksud, Papa?"


"Apa kamu ingin bercerai dengan Yola?"


"Apa yang papa katakan? Kenapa masalah ini sampai ke jalan titik akhir, Pa?"


"Kenapa kamu tanya aku? Kamu yang membawa permasalahan besar sehingga aku tidak punya jalan lain selain titik akhir ini."


"Papa, mama. Apa ini? Kesalahan besar apa yang aku perbuat sebenarnya? Kenapa kalian sampai mengungkit soal perceraian segala."


"Bu Erni. Putar ulang vidio nya!


"Baik tuan Brian."


Bu Erni yang sedari tadi berada di belakang Kania, segera beranjak ke meja di mana laptop sedang berada. Ia langsung melakukan apa yang Brian katakan. Yaitu, memutar ulang vidio yang memang sudah ada di layar laptop sejak tadi.


Dewa membulatkan matanya ketika ia melihat vidio yang sedang diputar di layar laptop tersebut. Ia benar-benar tidak percaya, ketika melihat akhir dari vidio tersebut. Karena di dalam vidio itu, hanya ada dirinya dan Hanas saja. Sedangkan Bimo, tidak terlihat sama sekali.


"Ini .... "


"Apa kamu puas telah menyakiti hati adikmu sekarang, Dewa?" tanya Kania memotong perkataan Dewa.


"Ma. Ini tidak benar."


"Apanya yang tidak benar, hah! Jelas-jelas itu kamu." Kania membentak Dewa sekarang.


"Ma ... tolong dengarkan penjelasan ku. Ini tidak sama dengan apa yang kalian lihat dan pikirkan. Ini .... "

__ADS_1


"Kamu ingin bilang kalau vidio ini palsu, Dewa?"


"Asal kamu tahu, aku sudah sangat teliti sebelum bertindak. Aku sudah mengecek keaslian dari vidio ini terlebih dahulu. Dan itu aku lakukan saat kami masih berada di luar negeri. Apa kamu tahu apa hasilnya? Vidio ini asli seratus persen tanpa editan sama sekali."


"Kau tahu apa harapanku saat mengecek vidio ini, Dewa? Aku berharap kalau ini vidio cuma editan saja. Agar aku bisa menjelaskan pada adikmu, apa yang telah terjadi. Agar hatinya tidak sakit ketika melihat vidio ini. Tapi nyatanya, sungguh membuat aku dan mamamu kecewa padamu. Sangat-sangat kecewa."


"Pa, Ma, aku ingin tahu dari mana kalian dapat vidio ini sebenarnya?" tanya Dewa dengan nada putus asa.


"Bu Erni. Ceritakan pada Dewa sekarang! Biar dia bisa membela dirinya dengan cara dia sendiri." Brian berucap dengan nada lemah. Ia terlihat sedang menahan beban berat dibenaknya saat ini.


Bu Erni lalu mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Saat itu, ketika Dewa di minta Yola untuk membelikan sarapan dengan nada kesal, ia sudah merasakan ada kejanggalan dari sikap Yola pada Dewa itu. Tapi, dia pikir, kalau sikap Yola itu wajar. Karena Yola sedang kesal pada Dewa yang tidak ada saat ia sangat membutuhkan.


Bu Erni tidak ingin ambil pusing soal sikap yang Yola tunjukkan. Namun, saat Yola mengatakan ingin ke kamar mandi setelah kepergian Dewa, bu Erni mulai berpikir sesuatu.


Lalu, setelah Yola benar-benar pergi ke kamar mandi. Bu Erni berniat untuk menemani dan menjaga nona kecilnya. Tapi, saat ia berada di depan pintu, ia melihat barang pipih yang sangat ia kenali siapa pemiliknya. Itu adalah ponsel Yola.


Bu Erni semakin merasa ada yang tidak beres dengan nona kecilnya sekarang. Karena tidak mungkin benda kesayangan ini berada di depan pintu jika tidak ada masalah.


Dengan rasa was-was karena takut di bilang lancang, bu Erni akhirnya membuka layar ponsel yang kebetulan tidak di kunci dengan pola atau sandi. Saat melihat layar ponsel tersebut, ia benar-benar kaget dengan tampilan depan layar itu.


"Tu--tuan muda Dewa? Nona Hanas. Ya Tuhan ... tuan Brian dan Nona Kania harus tahu soal ini."


Bu Erni segera mengabari apa yang ia temukan pada Brian dan Kania. Barang bukti pun tak lupa ia kirim serta setelah ia melaporkan apa yang ia temukan.


"Begitulah ceritanya," ucap Bu Erni setelah bercerita pada semuanya.


"Tidak. Papa, mama, ini ada yang tidak beres. Vidio ini memang bukan editan. Tapi, kenyataan sebenarnya tidak seperti ini. Kalian harus percaya padaku," ucap Dewa dengan wajah sedih.


"Kalian harus percaya padaku."

__ADS_1


"Bimo! Bimo! Tolong aku, Bim." Dewa berteriak memanggil nama Bimo dengan keras.


Kebetulan, Bimo yang baru saja selesai mandi itu mendengar teriakan dari Dewa. Teriakan yang begitu mengharapkan pertolongan itu tidak bisa ia abaikan. Akhirnya, Bimo terpaksa keluar dari kamar meski hanya dengan handuk yang melilit di pinggang.


__ADS_2