
Bu Erni yang tahu kalau Yola sedang menantikan Dewa, ia tersenyum sambil berjalan masuk ke dalam kamar tersebut. Senyuman yang penuh dengan godaan ia perlihatkan pada Yola saat ini.
"Nona sedang menantikan tuan muda?" tanya bu Erni tanpa pikir panjang lagi.
"Apa? Nunggu kak Dewa? Ya jelas nggaklah, Bu."
"Masa sih nggak?" Bu Erni semakin melanjutkan godaannya.
"Bu Erni apa-apaan sih? Iya-iyalah aku gak nungguin kak Dewa. Orang .... " Yola menggantungkan kalimatnya.
"Orang apa atuh, Nona?"
"Ih, gak apa-apa. Bu Erni ngapain ke sini? Tahu dari mana coba aku ada di kamar ini?"
"Tahu dari tuan muda. Ibu disuruh tuan muda buat jagain nona kecil di sini."
"Jagain? Emang aku anak kecil apa harus dijagain karena takut jatuh," ucap Yola sambil tersenyum geli. Namun, beberapa saat kemudian, ia baru bisa mencerna apa yang bu Erni katakan.
"Tunggu! Bu Erni bilang apa barusan? Kak Dewa minta ibu jagain aku malam ini?" tanya Yola dengan wajah tak percayanya.
"Iya," ucap bu Erni sambil menganggukkan kepalanya.
"Ngapain harus minta bu Erni buat jagain aku? Terus, kak Dewa nya di mana sekarang?"
"Tuan muda di kamar tamu, nona kecil. Katanya dia lelah, mau istirahat. Makanya, dia minta ibu buat jagain nona malam ini. Dia bilang .... "
"Nona. Dahi nona kenapa?" tanya Bu Erni dengan perasaan cemas ketika menyadari kalau ada yang cacat dengan nona kecilnya.
"Gak papa, bu."
"Gak papa apanya. Ini memar lho, nona kecil. Aduh ... bahaya ini. Tunggu sebentar, ibu ambilkan obat buat ngobatin memar ini, ya."
Bu Erni terlihat sangat cemas sekarang. Tapi, Yola malah terlihat begitu bahagia. Meskipun ia jauh dari orang tuanya, ia bahagia dikelilingi oleh orang-orang yang sangat perhatian dan menyayangi dirinya dengan sepenuh hati.
"Bu Erni, aku gak papa kok. Gak perlu cemas. Ini udah kak Dewa obatin. Besok juga sembuh. Kejedot dikit doang kok, Bu. Gak perlu cemas ya," ucap Yola dengan nada lemah lembut sambil memegang tangan bu Erni.
"Beneran gak papa, nona kecil? Jangan buat ibu takut lho ya."
"Iya, bu Erni. Aku gak papa. Udah, gak perlu di takutin. Aku gak papa. Oh ya, ada yang ingin aku tanyakan sama ibu."
__ADS_1
"Apa nona kecil? Tanyakan saja, ibu akan jawab jika ibu tahu."
Yola tidak langsung menjawab. Tangannya sibuk menggapai bingkai foto yang berada di atas nakas tak jauh darinya.
"Ini ... apa dia pacarnya kak Dewa, Bu?" tanya Yola sambil menunjuk perempuan yang ada di dalam bingkai foto tersebut.
Bu Erni menggelengkan kepalanya dengan cepat saat melihat wanita yang Yola tunjuk di foto tersebut.
"Bukan, nona kecil."
"Bukan?" tanya Yola kebingungan.
"Iya bukan, nona. Itu bukan pacarnya tuan muda. Lebih tepatnya, bukan pacar tuan muda yang sekarang."
"Maksud bu Erni? Ini bukan pacarnya kak Dewa yang sekarang? Ini mantan pacarnya kak Dewa gitu?"
Bu Erni mengangguk pelan.
"Iya, nona kecil. Itu namanya, mbak Sulis kalau gak salah ibu. Soalnya, udah lama banget jadi mantan pacarnya tuan muda."
"Oh gitu. Terus, pacar yang sekarang, namanya siapa, bu?"
"Hanas."
"Iya, nona kecil. Nona Hanas, anaknya tuan Johan itu lho."
"Se--sejak kapan mereka pacaran?" tanya Yola gelagapan. Berusaha menyembunyikan rasa kaget yang ada dalam hatinya.
"Wah ... kalau itu, ibu juga kurang tahu, Nona kecil. Yang jelas, mereka dekat saat tuan muda sudah tidak lagi bersama dengan cinta pertamanya," ucap bu Erni menjelaskan.
Yola terdiam. Ia berusaha mencerna setiap kata yang bu Erni katakan barusan.
'Hanas pacaran dengan kak Dewa?' Pertanyaan itu terus saja memenuhi benak Yola hingga malam terus berlarut. Sehingga, ia kembali lagi tidak bisa memejamkan matanya meskipun bu Erni sudah terlelap dalam mimpi indahnya.
Yola terbangun ketika matahari sudah bersinar terang benderang. Efek tidak bisa tidur semalaman, akhirnya, ia bangun terlambat lagi pagi ini.
Ketika menyadari dirinya sudah bangun kesiangan untuk yang kesekian kali, Yola langsung bergegas menuju kamar mandi. Ia melupakan, kalau dirinya sekarang sedang berada di dalam kamar Dewa, bukan kamarnya.
Kebetulan yang tidak bisa ditolak. Tepat saat Yola berlarian menuju kamar mandi, Dewa yang juga bangun kesiangan baru saja selesai mandi dan bersiap-siap untuk melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Bruk ....
"Aaaa ....!"
Tabrakan untuk yang kedua kalinya tidak bisa mereka hindari. Kali ini, bukan Yola sendirian yang jatuh, melainkan, Dewa yang juga ikutan jatuh dengan tambahan Yola di atasnya.
Untuk beberapa saat lamanya, Yola terdiam dengan mata tertutup rapat. Ia tersadar ketika suara Dewa yang mengeluh kesakitan karena punggungnya menghantam lantai marmer kamar mandi yang keras.
"Aduh .... "
"Kak Dewa!" Yola kaget bukan kepalang ketika mendapati tubuhnya terjatuh beralaskan tubuh kakak angkat yang sekarang sudah bergelar suami.
"Bisakah kamu bangun sekarang, Yolan? Aduh ... punggungku ... sakit sekali," ucap Dewa dengan suara yang terputus-putus karena menahan rasa sakit.
Dengan gerak cepat, tanpa bicara lagi, Yola segera bangun dari jatuhnya. Perasaan bahagia bercampur cemas sedang menguasai hati Yola saat ini. Bahagia karena bisa jatuh ke dalam pelukan orang yang ia cintai. Sedangkan rasa cemas, karena takut Dewa kenapa-napa.
"Kak Dewa gak papa, kak?" tanya Yola sambil berusaha membantu Dewa untuk bagun.
"Aduh, sepertinya, aku apa-apa banget. Punggungku ...."
"Kak Dewa kok gak hati-hati sih?"
Dewa mengalihkan tatapannya untuk melihat Yola dengan tatapan tajam.
"Aku yang tidak hati-hati?" tanya Dewa dengan nada kesal.
"Iya-iya, aku yang salah. Aku yang tidak hati-hati," ucap Yola cepat menjawab perkataan Dewa.
"Ya sudah kalo gitu, ayo kita ke dokter sekarang, biar kak Dewa bisa di periksa."
"Gak perlu." Dewa berucap sambil berusaha berdiri tegak dengan satu tangan yang terus memegang pinggang.
"Lho, kok gak perlu sih? Katanya, kak Dewa sakit pinggang. Mana tahu tulang kak Dewa retak akibat terjatuh barusan."
Dewa menoleh ke arah Yola yang berada di sampingnya saat mendengar kata-kata yang Yola ucapkan barusan. "Kata-katamu itu terdengar seperti sebuah kutukan saja. Aku gak papa. Lagipula, aku gak punya waktu untuk ke dokter sekarang. Karena aku sedang buru-buru."
"Buru-buru? Mau ke mana kak Dewa buru-buru?"
"Ke kantor."
__ADS_1
"Ya Tuhan ... Yolan, aku harus ke kantor sekarang juga. Bisakah kamu keluar dulu dari kamar ini?"
Dewa memang wajah cemas sambil terus memegang pinggangnya yang masih terasa sangat sakit. Ia baru ingat, kalau sekarang, ia harus segera ke kantor karena harus menghadiri rapat penting dengan klien yang berasal dari luar negeri.