
Sopir muda yang tampan itupun memutar arah mobil mereka. Berjalan kembali ke arah yang sebelumnya sudah mereka lewati.
Tepat beberapa meter jarak mobil yang Yola tumpangi akan sampai, saat itu pula, taksi yang Dewa pesan datang. Dewa segera masuk ke dalam taksi tersebut. Lalu, taksi itu berjalan dengan kecepatan sedang.
"Ikuti mereka, mas Bimo!"
"Ikuti, nona Yolan? Untuk apa mengikuti tuan muda?"
"Ya ampun, mas Bimo. Aku tahu mas Bimo ini sopir yang kak Dewa pekerjakan. Tapi saat bersama aku, berarti, mas Bimo kerjanya sama aku. Jadi tolong, dengarkan saja apa yang aku katakan."
"Baiklah nona Yolan. Aku akan dengarkan apa yang nona katakan." Bimo berucap dengan nada pasrah.
"Nah, gitukan enak. Tapi, sebaiknya mas Bimo melakukan apa yang aku katakan dengan ikhlas. Biar gantengnya mas Bimo itu tetap kekal dan gak akan berkurang."
"Nona Yolan bisa saja." Bimo berucap sambil tersenyum.
Mobil terus berjalan mengikuti taksi online yang membawa Dewa di dalamnya. Saat mobil itu melewati jalan perkomplekan, Yola merasa ada yang tidak beres dan ada yang mengganjal dengan arah yang Dewa ingin datangi.
Perasaan tidak beres itu semakin kuat ketika taksi tersebut berhenti di sebuah rumah yang sepertinya ia tau itu rumah siapa. Meskipun sepuluh tahun berada di luar negeri, tapi suasana tempat itu sepertinya masih bisa ia kenali dengan cukup baik. Karena tidak ada yang berubah dari rumah tersebut.
"Bukankah itu rumah om Johan, Mas Bimo?" tanya Yola untuk memperkuat tebakannya.
"Iya, nona Yolan. Itu rumah tuan Johan."
"Kenapa kak Dewa datang ke rumah om Johan? Bukankah dia bilang mau ke kantor tadi?"
"Mungkin untuk bertemu dengan tuan Johan, Nona."
"Mungkin saja."
"Oh ya, mas Bimo tunggu di sini dulu. Aku juga ingin sekalian mampir ke rumah om Johan."
__ADS_1
"Tapi, nona Yolan .... "
"Tapi apa, mas Bimo?"
"Tidak jadi, Nona. Silahkan! Saya akan tunggu nona di sini."
Yola pun langsung beranjak meninggalkan mobilnya. Namun, selang beberapa langkah saja lagi untuk ia sampai ke depan pintu rumah tersebut, Johan tiba-tiba saja menyentuh pundak Yola dari belakang.
Sontak, Yola yang mendapat sentuhan itu langsung memutar tubuh sambil menahan perasaan kaget. "Om Johan."
"Nona kecil kapan datang? Kenapa gak ngasi tau om dulu kalo mau main ke rumah om?" tanya Johan sambil tersenyum manis.
"Aku baru saja sampai, Om. Gak sempat ngasi tau, soalnya dari bandara. Ingat Hanas sakit, langsung aja aku jalan ke sini."
"Oh ya, om Johan dari mana? Tadi ... kak Dewa juga datang ke sini. Orangnya ada di dalam."
"Apa? Tuan muda ada di dalam?" tanya Johan dengan wajah kaget.
"Iya. Kak Dewa ada di dalam om. Mungkin dia sekarang lagi nungguin om Johan."
"Mm ... nona kecil, tuan muda tidak sedang mencari aku sebenarnya. Dia datang untuk memeriksa dokumen penting di ruang kerjaku."
"Memeriksa dokumen penting? Maksud om Johan?"
"Tuan muda sering datang ke sini. Tapi bukan untuk bertemu dengan aku secara langsung, melainkan, memeriksa semua dokumen kantor yang aku pegang, nona kecil."
"Kok dokumen kantor di rumah om Johan sih? Kenapa gak di kantor?"
"Itu .... " Johan terlihat kebingungan untuk menjawab. Karena sebenarnya, dari tadi juga dia sudah bohong soal maksud kedatangan Dewa yang sesungguhnya.
"Itu ... ada beberapa alasan yang om tidak bisa katakan pada nona kecil. Maafkan om ya, nona kecil. Oh ya, sebaiknya, nona ikut om jalan-jalan saja. Karena om sudah lama tidak merasakan jalan-jalan bersama nona kecil. Om sangat merindukan kebersamaan kita seperti saat sebelum nona kecil pergi," ucap Johan dengan nada memelas dan penuh harap.
__ADS_1
"Tapi om .... "
"Mmm ... baiklah. Ayo kita jalan-jalan. Lain kali saja aku mampir ke rumah om Johan nya," ucap Yola pada akhirnya. Karena ia tidak ingin melihat Johan kecewa, ia langsung memutuskan untuk menerima tawaran Johan yang ingin mengajaknya jalan-jalan.
Mereka pun meninggalkan tempat tersebut dengan mengendarai mobil Yolan. Sedangkan di dalam rumah, Dewa sedang berada di kamar Hanas. Di mana Hanas sedang terbaring lemas di atas ranjangnya dengan mata bengkak dan wajah pucat.
Dewa sedang berusaha membujuk Hanas supaya ingin makan sedikit bubur yang sedari tadi ia pegang di tangannya. Sudah hampir lima menit ia membujuk Hanas, tapi tetap saja, tidak ada hasilnya.
"Hanas. Ayolah, makan sedikit saja ya," ucap Dewa dengan nada putus asa.
"Tidak kak Dewa. Aku tidak ingin makan karena aku ingin mati saja sekarang. Aku tidak sanggup hidup di atas muka buki ini lagi. Karena satu-satunya orang yang aku cintai, kini telah mengkhianati aku dengan memutuskan hubungan ini. Ia bahkan menikah dengan perempuan lain sekarang. Jadi, untuk apa lagi aku hidup di dunia ini kak Dewa." Hanas berucap panjang lebar dengan nada lemas nya.
"Jangan bicara seperti itu, Hanas. Bagaimanapun, hidup kamu harus tetap berlanjut. Karena laki-laki bukan cuma satu di atas muka bumi ini. Masih banyak laki-laki yang lain selain aku."
Hanas yang tadinya memalingkan wajahnya dari Dewa, sekarang kembali menoleh ke arah Dewa dengan tatapan kesal. Ia tersenyum mirip pada Dewa untuk beberapa saat.
"Pergilah kak Dewa. Aku tidak ingin melihat kak Dewa lagi."
"Mungkin pilihan terbaik yang aku pilih sekarang sudah tepat. Memilih meninggalkan kak Dewa selama-lamanya, adalah pilihan yang paling tepat buat aku. Karena aku tetap tidak sanggup melihat kak Dewa bersama wanita lain apapun alasannya."
"Hanas. Tolong jangan bicara yang tidak-tidak. Kamu masih muda. Masih .... "
"Cukup! Jangan lanjutkan lagi kata-kata menyedihkan itu kak Dewa. Aku tahu kak Dewa sudah menikah dan akan fokus pada istri kak Dewa. Jadi sekarang, jangan hiraukan aku lagi. Apapun yang ingin aku lakukan, tidak ada hubungannya dengan kak Dewa."
"Sekarang, kak Dewa pergi dari sini! Pergi! Aku bilang pergi!" Hanas dengan tubuh lemahnya mendorong Dewa untuk menjauh dari dirinya.
"Hanas."
"Pergi kak Dewa! Pergi!"
"Mama!"
__ADS_1
Mendengar teriakan itu, Saras segera datang ke kamar anaknya. Dengan wajah cemas, ia menghampiri Hanas yang sedang terbaring sambil menangis memeluk selimut di atas ranjangnya.
"Ada apa ini? Tuan muda, kamu apakan putriku, hah!"