
"Dia .... "
"Bu."
"Dia di ... tuan muda."
"Katakan saja yang sebenarnya. Kenapa harus memikirkan terlebih dahulu."
"Tuan muda tidak tahu ada di mana sekarang, nona kecil. Santi bilang, dia masih belum pulang sejak pergi tadi malam."
"Ya Tuhan ... ke mana kak Dewa sebenarnya? Apa yang telah terjadi dengan dia?"
Yola ingin turun dari ranjangnya. Dengan wajah yang terlihat sangat cemas.
"Nona kecil mau ke mana?" tanya bu Erni dengan cepat sambil mencegah Yola.
"Ada apa?" tanya Zaka yang baru saja terbangun karena suara tinggi yang bu Erni ucapkan.
"Zaka." Perhatian Yola teralihkan untuk sesaat. Lalu kemudian, ia kembali berniat untuk turun dari ranjang itu.
"Yola. Mau ke mana kamu? Dokter bilang, kamu belum boleh ke mana-mana sampai kamu benar-benar sembuh. Karena alergi yang kamu alami, sungguh sangat parah."
"Aku tidak bisa tetap di sini, Zaka. Aku khawatir dengan kakakku yang sekarang entah ada di mana. Dia pergi dari tadi malam tanpa kabar sedikitpun. Sekarang pun, dia masih tidak pulang ke rumah."
"Mungkin dia sedang di rumah temannya, Yola. Kamu jangan cemas dulu. Coba hubungi dia, tanya di mana dia sekarang."
"Tidak bisa dihubungi. Nomor tuan muda tidak aktif."
"Ya Tuhan ... aku semakin cemas sekarang, bu Erni. Biarkan aku cari kak Dewa sekarang. Aku sudah baik-baik saja. Jadi, tidak apa-apa kalau aku pergi."
__ADS_1
"Yola. Tidak perlu kamu yang pergi. Biar aku saja yang pergi mencari kakakmu. Kamu tetap berada di sini bersama pengasuh mu. Aku janji, aku akan cari kakak mu sampai ketemu."
"Tapi, Zaka .... "
"Tidak ada tapi-tapinya. Dengarkan saja apa yang aku katakan. Ini demi kebaikan kamu juga."
"Baiklah. Aku mohon kamu cari kakakku sampai ketemu ya, Zaka. Tolong."
"Iya. Tenang saja. Akan aku temukan kakakmu di manapun dia berada, untuk kamu."
Zaka pun pamit meninggalkan kamar rawat Yola. Dengan tatapan penuh harap, Yola mengantarkan kepergian Zaka meninggalkan kamarnya. Ia terus melihat punggung itu sampai hilang di balik pintu kamar tersebut.
"Nona."
"Bu, apa ibu tahu di mana ponselku? Perasaan dalam saku piyama ku ada ponsel tadi malam."
"Ada nona. Ponsel nona ada pada ibu. Ini dia," ucap bu Erni sambil merogoh saku bajunya. Lalu kemudian, bu Erni menyerahkan benda pipih itu pada Yola.
Karena rasa penasaran itu, tangan Yola begitu lincah menekan notifikasi pesan tersebut. Dia langsung di perlihatkan dengan sebuah vidio yang mampu membuat jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat. Bagaimana tidak, dua orang yang ada di cover vidio itu sangat ia kenali dengan baik. Meskipun ia belum membuka vidio itu, tapi, wajah dari cover itu sudah cukup membuat hatinya merasa sakit.
Masih belum siap untuk membuka vidio, mata Yola malah melihat beberapa foto yang dikirim si pengirim tanpa nama itu. Foto itu tak lain adalah ... ya, Dewa yang sedang terlelap bersama Hanas di pangkuannya.
Sekilas, foto itu terlihat wajar bagi orang biasa. Tapi, bagi Yola, itu adalah bencana. Awalnya ia ingin berpikir positif dengan menganggap kalau foto itu adalah foto lawas, foto saat Dewa masih belum menikah dengannya. Tapi ... tanggal di foto itu dengan jelas memperlihatkan, kalau kejadian itu terjadi tadi malam.
Bu Erni yang sedari tadi memperhatikan Yola, merasa penasaran dengan ekspresi dari nona kecilnya yang mendadak murung, kemudian sedih. Lalu, saat air mata jatuh, bu Erni tidak bisa menahan diri lagi.
"Ada apa, nona kecil? Apa yang terjadi?"
"Ti--tidak ada, bu Erni. Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingat mama dan papa saja. Aku rasanya ingin pulang agar bisa bersama mereka lagi."
__ADS_1
"Hubungi saja nyonya dan tuan lewat vidio call, nona kecil. Dengan begitu, kerinduan nona akan berkurang. Lagipula, tuan dan nyonya juga sebentar lagi akan pulang bukan?"
"Iy--iya," ucap Yola sambil menyeka air matanya dan berusaha tersenyum pada bu Erni.
"Sudah ya nona kecil. Jangan menangis lagi. Nona kecil di sini tidak sendirian. Ada ibu dan tuan muda di sini, juga ada yang lainnya yang selalu menyayangi dan menjaga nona kecil dengan baik."
"Aduh ... oh ya, ibu ke kamar mandi dulu ya, nona kecil. Gak papakan, kalau nona kecil tinggal sendirian dulu?"
"Iya, bu Erni. Gak papa."
Setelah bu Erni pergi meninggalkan kamarnya, Yola kembali melihat pesan itu. Dengan perasaan sangat berat, ia tekat vidio yang pastinya akan membuah hatinya sakit, bahkan remuk sekalian.
Benar saja, Yola merasakan sakit yang luar biasa tepat mengenai hatinya ketika dia melihat, Dewa berpelukan dengan Hanas di kamar mandi. Yang tidak bisa ia terima, Hanas sedang memakai handuk hanya menutupi bagian penting dengan sebagian besar tubuh terbuka.
"Tidak. Ini tidak mungkin. Ini tidak benar," ucap Yola sambil memegang dadanya yang terasa begitu perih bak luka yang disiram dengan air garam.
"Kenapa kamu tega, kak Dewa? Kenapa?"
Saat itu, air mata tidak bisa ia tahan lagi. Karena rasa sakit sudah menjalar ke seluruh penjuru hati. Ponsel itu jatuh dari genggaman, sedangkan Yola tertunduk dengan air mata yang mengalir begitu deras.
Sakit, kesal, emosi, bahkan, amarah kini memuncak menguasai hatinya. Rasa geram pun menghampiri. Ia ambil ponsel yang terjatuh di atas pangkuannya itu, lalu, ia lemparkan ke arah pintu kamar.
Tepat saat itu pula, dokter Leo membuka pintu kamar itu untuk masuk ke dalam kamar tersebut. Niatnya, ia akan menjalankan tugas merawat pasien dengan baik. Tapi, siapa sangka, dia akan dilempari dengan benda pipih yang lumayan berat itu.
Kena? Ya, sudah pasti kena. Lemparan itu sangat cantik. Ponsel yang Yola lempar tepat mengenai dada Leo sampai menimbulkan bunyi pula.
Saat benda itu mendarat di dadanya. Dokter Leo emosi bukan kepalang. Ia rasanya sangat ingin marah atau bahkan, ingin memukuli orang yang sudah melempari dia dengan benda pipih tersebut.
Tapi ... ketika ia melihat Yola yang sedang menangis tersedu-sedu dengan menundukkan wajahnya di atas ranjang, rasa emosi lenyap seketika. Rasa emosi itu kini telah berganti dengan perasaan iba.
__ADS_1
Entah mengapa, untuk yang pertama kalinya, seorang Leo yang punya ego sangat amat tinggi, bisa luluh ketika melihat pasiennya yang bernama Yolanda ini. Ini bukan yang pertama kalinya dia merasakan perasaan berbeda. Tapi, untuk yang kesekian kalinya. Tepatnya, bisa di katakan, setiap kali berhadapan dengan Yola. Perasaan itu akan muncul begitu saja.