
"Ya, aku menyalahkan kamu. Karena kamu pantas di salahkan."
Setelah berucap kata-kata itu, Dewa segera melepas tangan Hanas dari lengannya. Lalu kemudian, ia beranjak meninggalkan Hanas dengan langkah besar.
"Kak Dewa. Tunggu kak!"
Dewa sama sekali tidak menghiraukan panggilan itu lagi. Ia terus berjalan dengan langkah cepat keluar dari ruangan itu. Dalam hatinya ia berharap, Yola bisa memaafkan dia atas apa yang telah terjadi sekarang.
Hanas tersenyum bahagia sambil melihat Dewa yang berjalan semakin menjauh meninggalkan dirinya.
"Aku masih belum puas merusak hubungan kalian sebenarnya. Tapi, apa yang telah terjadi barusan, itu sangat membuat hati ini bahagia," kata Hanas bicara pada dirinya sendiri sambil tersenyum menyeringai.
Sementara itu, Yola yang sebelumnya bertemu dengan Zaka, kini berada di taman belakang rumah sakit bersama Zaka. Zaka berusaha menenangkan hati wanita cantik ini dengan membawanya ke taman.
"Yola. Aku tidak bisa membawa kamu pergi meninggalkan rumah sakit ini. Karena kata dokter Leo, kamu masih butuh perawatan dan istirahat yang banyak sebenarnya. Dia bilang, alergi itu sangat bahaya."
"Aku tidak perduli dengan semua itu. Yang aku inginkan hanyalah, meninggalkan kota ini secepat mungkin."
"Yola. Tenang dulu ya. Jangan terburu-buru. Kamu bisa pergi setelah sembuh. Oh ya, aku janji akan bawa kamu pergi ke desa. Kamu tahu, ada sebuah desa yang paling cantik di sisi kiri kota ini. Aku yakin, jika kamu lihat desa itu, kamu akan takjub dan mungkin, tidak ingin pulang lagi."
"Tapi ... itu jika kamu ingin pergi. Aku hanya menyarankan dan berharap bisa membawa kamu ke sana. Agar bisa membuat hati kamu tenang dengan melihat desa indah itu."
"Desa indah?"
"Iya. Desa indah. Apa kamu bersedia pergi ke sana bersamaku nanti?"
"Tentu saja aku bersedia. Karena memang itu yang aku butuhkan sebenarnya. Menenangkan pikiran dengan pergi sejauh mungkin. Tapi ... aku tidak ingin pergi nanti. Melainkan, sekarang."
"Yola. Tapi .... "
"Apa? Tidak ingin ajak aku pergi ke desa itu sekarang ya? Niat ajak aku atau tidak sebenarnya?"
__ADS_1
Zaka menarik napas panjang. Lalu kemudian, melepas napas itu dengan berat.
"Bukan tidak ingin ajak kamu pergi sekarang, Yola. Tapi sekarang, kesehatan kamu tidak memungkinkan untuk kita pergi."
'Aduh, salah ngomong deh kayaknya. Aku ini gimana sih? Niatnya kan biar dia tenang, dan tidak berniat untuk pergi ke mana-mana untuk saat ini. Tapi ... ah, malah salah sasaran.' Zaka bicara dalam hati, menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah ia katakan.
"Zaka! Kok diam? Gak bersedia ajak aku pergi? Gak papa. Aku akan pergi sendiri. Atau, aku akan kembali saja keluar negeri hari ini juga."
"Jangan-jangan. Baiklah-baiklah. Aku akan ajak kamu pergi ke desa itu sekarang juga. Tapi sebelum kita pergi, sebaiknya, kamu pamit dulu pada pengasuh dan juga kakakmu. Biar mereka tidak kebingungan dan cemas memikirkan kamu nanti."
"Tidak! Jangan bicarakan pada siapapun tentang kepergian kita. Aku tidak ingin ada orang lain tahu tentang keberadaan ku nantinya."
"Tapi Yola .... "
"Zaka, aku mohon. Bisakah kamu tidak membantah apa yang aku katakan? Apakah kamu tidak tahu betapa sedih dan sakitnya hatiku saat ini? Jika kamu masih membantah dan tidak ingin mendengarkan apa yang aku katakan, maka kamu juga sebaiknya menjauh dari aku. Karena sekarang, aku tidak butuh teman."
"Baiklah-baiklah. Aku minta maaf untuk kebawelan yang barusan itu. Aku akan dengarkan apa yang kamu katakan. Janji."
Zaka meminjam mobil pada teman sekaligus bos rumah makan tempat ia bekerja. Sisil namanya. Gadis cantik anak orang berada juga. Mereka akhirnya berangkat meski tanpa ada persiapan sedikitpun sebelumnya.
Sementara itu, Dewa sudah puas berkeliling rumah sakit mencari keberadaan Yola. Ia juga mengerahkan Bimo untuk memanggil beberapa anak buah agar bisa ikut mencari Yola.
Sementara saat bertanya pada Santi tentang keberadaan Yola di vila. Santi tetap menjawab tidak ada.
Perasaan cemas semakin menyelimuti hatinya saat ini. Ia tahu betul bagaimana sifat adik angkatnya ini. Kalau lagi marah, terus ngambek, itu akan memakan waktu lama untuk bisa membaik.
"Di maka kamu, Yolan? Bisakah kamu kalau marah jangan pakai sembunyi seperti ini? Aku lebih suka kamu marah terus memukul-mukul aku dari pada kamu marah terus menghilang dari pandangan mataku." Dewa berucap dengan nada penuh beban dan rasa sedih.
Siang sudah berubah sore. Akhirnya, ia memutuskan untuk pulang sekarang juga. Tapi, baru saja dia masuk ke dalam mobil ponsel miliknya kini berdering hebat. Dengan cepat, Dewa langsung mengambil ponsel yang sebelumnya ia simpan di dalam saku celana.
Mata Dewa membulat ketika melihat nama si pemanggil yang tertulis dengan sangat jelas di layar ponsel miliknya. 'Papa'. Ya, itulah si pemanggil yang sedang ada di layar ponsel milik Dewa sekarang.
__ADS_1
"Papa? Ya Tuhan .... "
Hatinya semakin dirundung rasa cemas ketika melihat nama itu. Karena sebelumnya, Brian tidak akan menghubungi Dewa jika tidak ada hal penting.
Tangan Dewa sedikit gemetaran ketika menggeser layar ponsel tersebut untuk menjawab panggilan dari papa angkatnya. Tapi bagaimanapun, ia harus tetap menjawab panggilan itu sekarang.
"Ha ... halo, Pa."
"Di mana kamu sekarang?"
"Di ... di .... "
"Cepat pulang ke vila. Ada yang ingin aku bicarakan."
Belum sempat Dewa menjawab apa yang Brian katakan, panggilan sudah langsung di putus begitu saja. Dewa menatap layar ponsel itu dengan tatapan yang di penuhi dengan banyak pertanyaan.
"Papa di vila? Kapan mereka datang ke vila?"
"Tunggu! Apa mereka sudah tahu soal pertengkaran aku dan Yolan? Tapi ... tidak mungkin secepat inikan, papa sampainya."
"Ada yang tidak beres ini. Benar-benar tidak beres."
Dewa terus saja ngoceh sendirian. Sementara Bimo, ia tidak bicara sepatah katapun untuk menangapi ocehan dari tuan mudanya ini.
"Bawa mobil lebih cepat, Bimo! Kita harus segera sampai rumah. Aku tidak ingin papa mama menunggu terlalu lama."
"Baik tuan muda."
Sementara itu, mobil yang Zaka kendarai baru tiba di desa. Tempat tujuan yang ingin mereka tuju agar semangat Yola bisa kembali lagi.
"Yola. Kita sudah sampai," ucap Zaka saat mereka berhenti tepat di gerbang ladang bunga yang sangat indah.
__ADS_1
Tidak ada jawaban sama sekali dari Yola. Hal itu membuat Zaka dengan cepat menoleh untuk melihat si gadis cantik yang ada di sampingnya tadi.