
Leo berjalan mendekat ke arah ranjang Yola. Perlahan, tangannya menyentuh bahu Yola.
"Ada apa? Ada yang sakit sampai kamu menangis seperti itu? Menangis tersedu-sedu seperti orang yang ditinggal pergi untuk selama-lamanya oleh orang yang paling kamu sayangi."
Yola mengangkat kepalanya dengan perasaan kesal. Dengan tatapan tajam, ia tatap Leo yang berdiri di sampingnya.
"Untuk apa ikut campur? Kamu tidak akan tahu betapa beratnya rasa sakit yang aku rasakan saat ini. Dokter sepertimu, hanya bisa bilang, gak papa. Dia sudah baik-baik saja."
"Ya ampun, sepertinya kamu punya dendam tersembunyi padaku setelah kejadian itu."
"Dengar ya, aku memang tidak tahu apa yang kamu rasakan sekarang. Karena bukan aku yang merasakan apa yang kamu rasakan. Tapi ... aku hanya ingin bilang, sebagai seorang dokter yang bertugas menangani dan menjaga pasiennya, kamu tidak boleh menangis seperti itu. Karena kondisimu baru saja ingin pulih."
"Peduli apa aku dengan apa yang kamu katakan itu? Kamu tidak tahu ... hati ini ... sakit, sakit sekali." Yola kembali menundukkan kepalanya karena ingat apa yang baru saja terjadi.
"Nona, sakit hati itu sebenarnya hal yang wajar. Kamu merasakan rasa sakit, karena kamu berpikir itu menyakitkan buat hatimu. Coba saja kamu melupakan apa yang membuat hatimu terasa sakit, maka tidak akan ada rasa sakit lagi yang bisa kamu rasakan."
Mendengar perkataan yang begitu enteng, yang Leo ucapkan. Yola semakin kesal dengan dokter yang ada di hadapannya saat ini. Dokter muda nan ganteng, tapi sayangnya, tidak punya perasaan. Setidaknya, itulah yang ada dalam pikiran Yola sekarang.
"Kamu gampang mengucapkan kata-kata itu karena kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan. Sekarang, pergi! Aku tidak ingin mendengarkan apa yang kamu katakan lagi," ucap Yola sambil mendorong dokter yang sudah sangat membuat hatinya yang sedih berubah jengkel.
Bukannya pergi, Leo malah tetap bertahan, bahkan, sekarang ia duduk di samping Yola.
Yola semakin membulatkan matanya ke arah Leo. Ia tak percaya dengan apa yang dokter itu lakukan.
"Kamu! Apa-apaan sih? Ngapain malah duduk di samping aku, hah? Aku minta kamu pergi, bukan duduk."
"Katanya sedih. Tapi sekarang malah marah-marah. Perempuan memang bisa mengubah perasaannya begitu cepat."
__ADS_1
"Kamu! Ih ... bikin kesal aja." Yola mendorong Leo dengan kedua tangannya. Bukannya beranjak, Leo malah tersenyum.
"Kamu itu belum sembuh. Jangan banyak gerak dulu. Alergi obat yang kamu derita itu terlalu parah. Jadi ... maaf, aku terpaksa tetap di sini untuk memastikan keadaan kamu. Semakin membaik kah, atau ... malahan semakin parah." Leo berucap setelah ia berhasil memegang tangan Yola dengan kedua tangannya.
'Dokter muda yang gila. Apakah semua laki-laki itu terlahir dengan sifat mengesalkan seperti ini? Tidak kak Dewa, tidak pula dokter menyebalkan ini. Oh tidak, tunggu! Papaku tidak termasuk ke dalam semua laki-laki itu. Karena papaku sikapnya sangat jauh berbeda dari laki-laki yang aku temui di tanah air ini,' kata Yola bicara dalam hati.
"Sekarang, tenang. Kamu bisa tenang, bukan? Harusnya bisa jika tidak ingin aku berlama-lama di kamar ini bersama kamu," ucap Leo ngoceh sendiri dengan tatapan mata yang lurus melihat mata Yola.
"Kamu dokter pertama yang terlalu banyak bicara yang pernah aku temui di kota ini. Huh ... lakukan tugasmu dengan cepat. Aku ingin kamu segera pergi dari kamar ini, agar aku bisa sendirian di sini." Yola berucap dengan nada tanpa beban seolah-olah hatinya tidak terluka sebelumnya.
"Kamu ingin sendirian supaya bisa menangis kembali, iya?"
"Itu bukan urusanmu. Cepat lakukan supaya kamu bisa pergi secepatnya dari hadapanku."
Leo menggelengkan kepalanya sambil melihat Yola yang memalingkan wajah dari dirinya.
"Jangan banyak bicara lagi. Lakukan tugasmu secepatnya. Karena saat ini, hatiku sedang dalam situasi yang tidak baik. Jangankan dokter banyak bicara seperti kamu, preman pun bisa aku makan jika banyak tingkah."
"Wah ... ternyata kamu manusia super. Tunggu! Kamu manusia super atau vampir, ya? Oh bukan-bukan. Kamu zombi. Ya-ya-ya, zombi yang makan orang."
"Kamu!" Yola berucap dengan nada kesal. Matanya melotot ke arah Leo.
Bukannya takut, Leo malah menanggapi pelototan itu dengan senyum manis. Tepat saat itu pula, Bu Erni kembali dari kamar mandi. Ia terdiam ketika melihat dokter Leo yang tersenyum ke arah Yola. Dokter muda itu terlihat begitu tampan dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya.
Sementara itu, Dewa baru tiba di vila saat matahari sudah mulai menampakkan sinarnya. Karena kelelahan, ia bangun kesiangan. Sementara Bimo, ia tidak membangunkan Dewa sama sekali. Padahal dirinya sudah bangun sejak adzan subuh berkumandang. Bimo malah memilih menunggu Dewa di mobil dari pada membangunkan tuan mudanya yang sedang tidur di atas sofa kamar hotel tersebut.
Entah karena ia tidak sampai hati untuk membangunkan Dewa yang sedang terlelap, atau mungkin karena rasa kesal yang menguasai hatinya sejak dari kemarin malam.
__ADS_1
Yang jelas, ia tidak banyak bicara sejak kejadian tadi malam.
Ketika sampai di gerbang masuk vila, ia di sambut tatapan tajam oleh mas satpam. Sedangkan saat ia baru saja ingin menjatuhkan kaki ke depan pintu masuk vila, ia di sambut teriakan oleh Santi.
"Tuan muda!"
"Ya ampun, Santi. Ada apa sih? Kenapa kamu harus berteriak keras seperti itu padaku? Aku masih bisa mendengarkan panggilan dengan nada normal. Tidak perlu berteriak-teriak jika ingin memanggil aku."
"Maaf tuan muda. Habisnya, tuan muda baru muncul sekarang. Sejak kepergian tuan muda tadi malam, kami tidak bisa menghubungi tuan muda sama sekali. Nona .... "
"Yolan? Ada apa dengan dia? Apa dia sangat mencemaskan aku?"
"Bukan, tuan muda. Bukan soal mencemaskan tuan muda atau tidak. Tapi .... "
"Tapi apa, Santi? Katakan dengan jelas ada apa? Di mana Yolan sekarang?"
"Nona kecil di rumah sakit."
"Apa! Rumah sakit? Kenapa Yolan ke sana? Tidak mungkin dia berpikir aku di rumah sakit, bukan?"
"Nona kecil yang masuk rumah sakit, tuan muda. Dia .... "
"Apa!? Yolan kenapa bisa masuk rumah sakit? Apa yang terjadi sebenarnya? Ada apa dengan adikku?" Dewa terlihat begitu kaget dan cemas saat tahu Yola berada di rumah sakit. Ia sampai mengguncang-guncangkan tubuh Santi untuk meminta penjelasan dari perempuan itu prihal adiknya yang berada di rumah sakit sekarang.
"Tadi malam, mungkin sekitar pukul sembilan, nona berteriak histeris di kamarnya .... "
Santi lalu menceritakan kejadian tadi malam secara detail pada Dewa. Dengan wajah serius, Dewa mendengarkan apa yang Santi katakan dengan seksama.
__ADS_1