I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 20


__ADS_3

Tidak ada obrolan lagi setelah itu. Hingga mobil sampai di halaman kediaman merekapun, Yola tetap diam tanpa kata.


Yola turun dari mobil setelah Bimo membukakan pintu mobilnya. Lalu, tanpa berucap sepatah katapun, ia langsung berjalan cepat meninggalkan Dewa yang masih terdiam memikirkan perubahan sikapnya.


"Apa lagi yang salah sekarang?" tanya Dewa kesal pada diri sendiri.


Dewa menarik napas panjang, lalu melepaskan napas itu dengan berat.


"Kembali ke kantor, Bimo."


"Baik tuan muda."


Saat Bimo baru saja menghidupkan mesin mobil, Dewa tiba-tiba ingat dengan obat Yola yang masih belum ia serahkan.


"Ya ampun, obat Yolan. Berhenti, Bim! Aku lupa memberikan obat pada Yola."


"Kamu tunggu di sini sebentar. Aku mau ke kamar Yola untuk menyerahkan obat ini," kata Dewa sambil membuka pintu mobilnya.


"Baik, tuan muda."


Dewa beranjak masuk ke dalam vila. Ia berniat untuk pergi ke kamar Yola. Namun, karena buru-buru ingin ke kantor, ia terpaksa menitipkan obat itu pada bu Erni yang ia temui di ruang tengah. Lalu kemudian, ia pun kembali ke mobil.


_____


Yola masih duduk bersandar di tempat tidur ketika Dewa mengetuk pintu kamarnya.


"Siapa?"


"Aku, Dewa."


"Masuk saja. Pintunya tidak aku kunci."


Dewa mengikuti apa yang Yola katakan. Masuk ke dalam dengan langkah pelan. Saat itu, jam baru menunjukkan pukul delapan malam.


"Sedang apa sih?" tanya Dewa sambil duduk di samping ranjang adiknya.


"Duduk aja. Seperti yang bisa kak Dewa lihat sekarang. Oh ya, kenapa kak Dewa datang ke kamarku malam ini? Ada perlu apa?


"Kenapa nada bicaranya seperti itu, Yolan? Gak suka aku datang ke kamar kamu? Gak boleh?"

__ADS_1


"Tumben."


"Kamu marah sama aku?"


"Marah untuk apa? Nggak kok."


"Aku tahu kamu. Kamu pasti sedang kesal sekarang. Buktinya, obat aja masih tidak mau kamu minum sampai malam ini," ucap Dewa sambil melirik obat yang ada di atas nakas di sampingnya.


"Nggak kok. Aku gak kesal. Kak Dewa jangan sok tahu dengan apa yang aku rasakan sekarang. Karena kak Dewa gak akan ngerti apa yang aku rasakan. Kak Dewa itu gak peka jadi laki-laki."


Dewa tersenyum. Kata-kata itu sungguh sangat ia hafal dan pahami seperti apa suasana hati Yola saat ini. Karena kata-kata itu pasti akan muncul jika Yola sedang ngambek, dan hatinya sedang di landa kekesalan.


"Kenapa tersenyum?"


"Tidak ada. Aku tahu kamu sedang kesal, atau bahkan marah padaku saat ini. Untuk itu, aku minta maaf padamu, Yolan."


"Kak Dewa gak akan paham apa yang aku rasakan!"


"Yolan, sepuluh tahun bersama, aku tidak pernah bisa melupakan bagaimana sifat kamu yang kekanak-kanakan itu. Meskipun sepuluh tahun berjauhan, sifat itu masih tetap ada dan masih tetap sama. Aku adalah kakakmu, Yolan. Jadi .... "


"Cukup kak Dewa. Aku tidak ingin mendengar kata adik kakak adik kakak yang terus-terusan kamu ucapkan. Aku tidak suka dengan kata itu."


"Kak Dewa, sebaiknya kakak keluar dulu. Aku sedang tidak enak hati sekarang. Aku ingin istirahat."


"Kamu usir aku, Yolan? Apakah tidak ingin mendengarkan apa yang akan aku bicarakan padamu? Sebenarnya ... aku ke sini ingin bicara satu hal padamu. Tapi ya sudahlah, jika kamu tidak ingin mendengarkannya, maka aku akan keluar sekarang."


Dewa bagun dari duduknya. Ia berniat untuk beranjak meninggalkan kamar itu. Tapi, dengan cepat tangan Yola menyambar tangannya. Seketika, langkah kaki Dewa tertahan.


Dewa tersenyum kecil dengan wajah yang menghadap lurus ke depan.


'Kamu tetap adikku, Yolan. Masih tidak berubah sedikitpun walau sudah sepuluh tahun berjauhan. Untuk itu, aku tidak akan membiarkan kamu jatuh ke tangan orang lain bagaimanapun caranya. Walau aku harus mengorbankan perasaan ini untuk mempertahankan kamu agar tetap berada di sampingku.'


"Ada apa?" tanya Dewa sambil menoleh dengan wajah yang pura-pura kesal.


"Kak Dewa mau bicara apa? Katakan apa yang ingin kakak bicarakan padaku tadi. Aku berubah pikiran. Aku akan mendengarkan apa yang ingin kak Dewa katakan."


"Cepat banget berubah pikirannya."


"Ih, mau bicara tidak! Atau aku akan berubah pikiran lagi."

__ADS_1


"Iya-iya, sabar. Jadi cewek kok cepat banget merubah pikirannya."


"Biarin. Katakan apa yang ingin kakak katakan!"


"Baiklah." Dewa kembali menghentakkan bokongnya ke atas ranjang Yola.


"Aku ingin bicara soal hubungan kita. Soal status yang kita sandang sekarang."


"Yolan, kita ini suami istri sah di mata hukum dan di mana agama. Aku ingin kita sama-sama menjaga status itu jika kita berada di luar rumah. Bagaimana?"


"Maksud kak Dewa?" tanya Yola sambil menaikkan satu alisnya.


"Begini. Aku ingin kita sama-sama menjaga nama baik sebagai pasangan suami istri di depan umum, Yolan. Kamu jaga jangan sampai nama baik keluarga kita tercemar. Begitu pula dengan aku. Intinya, kita harus sama-sama ingat, kalau kita ini adalah pasangan suami istri yang harus menjaga jarak dengan lawan jenis saat berada di muka umum."


Yola melotot tak percaya saat kata-kata itu berhasil dicerna oleh benaknya. Benar-benar bagaikan sebuah mimpi manis saat ia tidur di malam hari ketika mendengar kata-kata itu Dewa ucapkan.


Berkali-kali ia kucek matanya agar sadar, kalau benar itu mimpi, maka dia harus bagun secepat mungkin. Tapi kalau itu memang nyata, batinnya mempertanyakan, ketiduran di mana sang kakak angkat sampai bisa bicara seperti itu barusan.


"Ada apa?" tanya Dewa kebingungan melihat tingkah Yola yang terus-terusan mengucek matanya dengan kedua tangan.


"Tidak ada."


"Lalu, kenapa kamu terus mengucek matamu seperti yang kamu lakukan barusan? Apa kamu memahami apa yang aku katakan tadi?"


"Aku memahami apa yang kak Dewa katakan. Tapi, aku tidak memahami, apa alasan kak Dewa mengatakan hal itu padaku? Apakah kak Dewa tidur tadi sore, dan sekarang masih mengigau?"


"Kenapa kamu bicara seperti itu, Yolan? Apakah kamu tidak setuju dengan apa yang aku katakan?"


"Bukan aku tidak setuju, kak Dewa. Kamu juga tahu, bagaimana perasaanku padamu, bukan? Aku tentu sangat bahagia ketika mendengar kata-kata yang kamu ucapkan barusan. Tapi ... bukankah kamu yang bersikeras menolak rasa cinta yang aku punya kemarin. Jadi sekarang, aku merasa ada yang salah dengan kamu saat kamu mengatakan hal itu padaku."


"Aku tahu kamu pasti tak percaya dan pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa berubah seperti ini. Ketahuilah Yolan, aku memang tidak bisa merubah posisi kamu dalam hatiku sekarang. Tapi, aku minta padamu, beri aku waktu agar aku bisa belajar mengubah rasa itu."


Mendengar kata-kata itu, mata Yola berbinar-binar sangking bahagianya. Ia segera melompat ke dalam pelukan Dewa secepat mungkin.


_____________________________________________


Catatan:


"Semoga kalian suka dan puas dengan crazy up nya yah. Untuk besok, aku akan up dengan bab normal. Semoga kalian terus mengikuti karya aku ya teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2