
Tidak ada jawaban sama sekali dari Yola. Hal itu membuat Zaka dengan cepat menoleh untuk melihat si gadis cantik yang ada di sampingnya tadi.
Mata Zaka terpana ketika ia melihat perempuan yang duduk di sampingnya saat ini sedang terlelap. Untuk beberapa saat lamanya, rasa kagum sekaligus terpesona itu menyelimuti hati dan perasaannya.
Tapi, beberapa detik kemudian, ia ingat siapa gadis itu, dan siapa diri. Mereka punya status yang sangat jauh berbeda. Mereka punya batasan yang luar biasa. Bak langit dan bumi yang tidak mungkin menyatu selagi dunia masih tetap berjalan.
"Pantas saja tidak menjawab. Ternyata dia tidur," ucap Zaka pada dirinya sendiri.
"Apa aku bangunkan saja dia, ya? Atau ... biarkan saja dulu dia tidur di sini. Bukankah dia baru saja melewati hari lelahnya."
Belum sempat memutuskan harus berbuat apa pada Yola, pintu mobilnya malah diketuk oleh seorang laki-laki yang terlihat sudah berumur tua. Belum terlalu tua, tapi pantas ia sebut sebagai kakek.
Perhatian Zaka seketika teralihkan karena ketukan itu. Ia segera membuka pintu mobil, lalu kemudian keluar dari mobil tersebut.
"Kok gak langsung masuk aja sih, Zaka? Kenapa malah berhenti di depan sini?" tanya laki-laki tua itu.
"Maaf, Kek. Rencananya mau langsung masuk. Tapi, aku tidak sendirian datang kali ini. Aku datang bersama seorang teman."
"Teman? Wanita lagi?"
Zaka tersenyum mendengarkan pertanyaan itu. Iya, tentu saja ia tersenyum karena kata-kata yang kakek itu ucapkan. Karena sebenarnya, dia sudah beberapa kali datang ke desa ini bersama perempuan.
"Kamu ini. Jangan suka mainin perasaan perempuan, Zaka. Kena karma baru tahu."
"Ih, kakek ini. Jangan ngomong gitu ah. Bikin aku merinding aja."
"Hm .... " Kakek itu tidak menjawab. Hanya menggelengkan kepalanya saja sambil melihat Zaka yang sedang salah tingkah.
"Ayo masuk sekarang! Untuk apa lagi kamu berdiam di sini. Terus, kenapa gadis itu tidak keluar? Kenapa masih diam di dalam mobil?"
"Itulah masalahnya sekarang, Kek. Dia sedang tidur saat ini. Aku tidak enak untuk membangunkannya. Harus bagaimana, ya? Apa aku tunggu dia bangun saja?"
"Gila! Kamu ini kalau bicara harus pikir dulu. Untuk apa kamu tunggu dia bangun baru kamu mau masuk ke dalam, hah? Kalau dia bangunnya nanti malam bagaimana? Apa kamu juga mau nunggu dia bangun tanpa berniat membangunkannya?"
"Aku tidak tega membangunkan dia, Kek. Dia kelihatannya sangat lelah. Tidurnya juga sangat nyenyak. Kasihan dia."
"Huh. Ya sudah kalau gitu, kamu bisa gendong dia saja. Bawa dia masuk ke dalam, lalu baringkan dia di kamar tamu. Gitu aja gak bisa mikir."
"Benar juga apa yang kakek katakan. Ya udah kalau gitu, aku akan bawa dia dengan cara menggendongnya."
"Hm .... "
Zaka tersenyum. Lalu kemudian, dia beranjak menuju pintu mobik tempat di mana Yola berada. Saat pintu itu terbuka, kakek yang berada di samping Zaka melihat dengan sangat jelas wajah Yola.
Ia tertegun sambil terus memperhatikan wajah Yola dengan seksama. Ingatan tentang masa lalu, kini memutar kembali di benaknya.
"Dia!"
__ADS_1
"Ada apa, Kek?" tanya Zaka penasaran.
"Tidak ada. Lanjutkan! Cepat sedikit. Aku tunggu di rumah."
"Baik, Kek."
Zaka berusaha mengambil Yola dari tempat duduknya. Saat proses pemindahan itu, Yola tiba-tiba tersadar dan langsung membuka matanya lebar-lebar.
"Zaka!"
"Yola! Kamu bangun?"
"Apa yang kamu lakukan, hah!"
"Ya Tuhan. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku hanya ingin menggendong kamu aja kok. Gak lebih."
"Gendong? Ngapain gendong aku, hah!"
'Ampun deh ni anak. Sejak kejadian tadi pagi, emosinya masih sangat labil ternyata. Dia begitu mudah marah dan selalu saja punya pikiran yang buruk.'
"Kenapa diam? Apa yang kamu pikirkan? Mau bohong?"
"Nona cantik. Bisakah anda tenang?"
"Yola, aku cuma gak tega untuk bangunin kamu. Kita udah sampai di tempat tujuan, tapi kamu malah tidur."
"Sejak hampir tiga puluh menit yang lalu."
"Oh ... maaf, aku tidak tahu kalau kita sudah sampai."
"Makanya, jangan emosian mulu. Kan capek jadinya."
Yola tidak menjawab. Ia malahan sibuk memperhatikan pemandangan yang sangat indah yang ada di hadapannya saat ini. Pemandangan yang sangat menakjubkan buat Yola.
"Ye ... malah diabaikan." Zaka bergumam pelan.
Namun, dalam hatinya saat ini, dia sangat bahagia ketika melihat kebahagiaan yang diperlihatkan oleh Yola.
Setelah membiarkan Yola menikmati pemandangan selama kurang dari sepuluh menit, Zaka pun langsung mengajak Yola masuk.
"Yol, ayo masuk! Kakekku sudah menunggu kira di dalam sejak tadi."
"Kakek? Kakek kamu? Kebun bunga ini punya kakek kamu?" Yola terlihat sangat penasaran.
Zaka tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya pelan. "Gimana ya mau bilangnya? Nanti sajalah aku ceritakan padamu. Karena jika ingin aku ceritakan sekarang, maka jalan hidup ini terlalu panjang. Butuh waktu berjam-jam untuk menyelesaikan semua itu."
"Apa maksud kamu? Kenapa bicara berbelit-belit sih? Kamu lupa, kalau aku tadi baru saja mengalami pusing yang sangat berat?"
__ADS_1
"Iya aku tahu. Nanti aku ceritakan perihal aku dan kakekku itu. Sekarang, kita langsung masuk ke dalam supaya kakek tidak menunggu terlalu lama."
Yola mendengarkan apa yang Zaka katakan. Mereka lalu masuk ke dalam bersama-sama.
Seperti yang Zaka katakan sebelumnya, mereka sudah di tunggu oleh seorang laki-laki tua yang Zaka sebut sebagai kakek. Laki-laki tua itu sedang duduk di kursi kayu ruang tamu.
"Maaf, Kek. Baru bisa masuk sekarang. Maaf sudah membuat kakek menunggu kami terlalu lama."
"Kamu menunggu dia bangun sendiri? Iya?"
"Itu .... "
"Sudahlah. Ayo, silahkan duduk!" ucap kakek itu sambil melihat ke arah Yola.
"Terima kasih, Kek."
"Siapa nama kamu?"
"Yola."
"Yola?"
"Iya, Yola. Tepatnya, Yolanda." Jelas Yola pada kakek itu.
"Boleh aku tahu siapa nama orang tuamu?"
"Kenapa kakek ingin tahu nama orang tua Yola, Kek? Ada masalah apa?" tanya Zaka merasa sangat aneh dengan tatapan dan pertanyaan yang kakeknya lontarkan pada Yola. Soalnya, perempuan yang ia bawa ke sini sebelumnya tidak pernah mendapatkan pertanyaan seperti yang Yola dapatkan barusan.
"Jangan banyak tanya kamu. Aku sedang bicara dengan dia, bukan dengan kamu."
"Ya aku hanya ingin tahu, kakek. Apakah itu salah?"
"Salah! Aku tidak suka kamu banyak bicara ketika berada di hadapanku."
"Ya Tuhan ... salah lagi aku."
"Memang kamu salah."
"Baiklah, aku salah. Sekarang, aku diam."
"Itu lebih baik."
"Lalu, gadis cantik, siapa nama orang tuamu?"
"Aku anak dari pasangan Brian dan Kania, Kek."
"Ap--apa! Anak Kania?"
__ADS_1
"Iya. Anak mama Kania," ucap Yola sambil menganggukkan kepalanya dengan tatapan kebingungan. Ia bingung dengan wajah kakek itu yang terlihat sangat kaget ketika ia menyebutkan nama mama dan papanya.