
"Tentu saja boleh, Sayang. Selama apapun kamu mau tinggal, maka kamu bisa tinggal di sini. Apapun yang mau kamu lakukan, maka kamu bisa melakukannya."
"Benarkah?"
"Tentu, Sayang."
Zaka yang sedari tadi melihat kedekatan kakeknya dengan Yola, kini tidak bisa menutupi rasa penasaran. Ia berjalan mendekat dengan tatapan tak percaya. Karena untuk yang pertama kalinya, ia merasa sang kakek jauh berbeda. Seperti bukan kakek yang selama ini ia kenali.
"Kakek, Yola. Kalian terlihat sangat dekat. Seperti orang yang sudah kenal dalam waktu yang lama."
"Kamu! Ah, ya Tuhan ... bisakah kamu datang itu basa-basi dulu sebelum bicara? Haruskah langsung bicara pada intinya?"
"Ya aku gak terbiasa berbasa-basi terlebih dahulu saat hatiku sedang dipenuhi dengan rasa penasaran yang mengganjal, kakek."
"Anak tidak tahu di untung kamu. Datang-datang bikin rusuh saja. Pergi sana! Aku tidak ingin bicara dengan kamu sekarang."
"Yah, aku cucumu, Kek. Tapi kamu malah memperlakukan aku sebagai orang asing. Yang benar saja."
"Memang kamu orang asing."
"Kakek, jangan bicara seperti itu pada Zaka. Kasihan dia. Lihat tuh, wajahnya benar-benar tidak enak untuk kita lihat sekarang," ucap Yola sambil menahan tawa karena geli melihat tingkah cemburu yang Zaka tunjukkan.
"Biar saja ank manis. Dia ini punya hati baja yang terkenal kekokohannya. Jadi, tidak perlu dipikirkan bagaimana perasaan dia."
"Oh benarkah?" tanya Yola dengan senyum manis bibirnya. Lalu kemudian, ia memberikan senyum godaan pada Zaka.
"Tentu saja."
"Ah, kalau gitu, aku tidak akan takut-takut lagi untuk menyakiti hati dia. Kan dia juga gak akan merasakan rasa sakit hati sama sekali. Benarkan, Kek?"
"Oh iya, Sayang. Kamu bebas melakukan apapun pada dia. Mau menyakiti dia seperti apapun. Itu terserah kamu."
"Huh! Kalian berdua terlihat sama. Sama-sama suka menindas orang," ucap Zaka pada akhirnya dengan menggunakan nada kesal. Tapi sebenarnya, dalam hati dia sangat bahagia. Bahagia melihat kedekatan kakeknya dengan Yola. Dan melihat Yola begitu bahagia ketika berada di desa ini.
"Hm ... sepertinya, kamu tidak cocok memanggil dia dengan panggilan Zaka, Yola."
Mendengar ucapan yang tiba-tiba dari sang kakek, Yola dan Zaka saling tatapan untuk sejenak. Lalu kemudian, mereka berdua menumpukan tatapan pada si kakek secara bersamaan.
__ADS_1
"Maksud kakek?" tanya Yola mewakili pertanyaan mereka berdua.
"Tidak ada maksud apa-apa. Hanya saja, aku melihat kamu lebih muda dari pada Zaka. Sangat tidak enak didengar ketika kamu memanggil Zaka yang lebih tua dengan panggilan nama. Terlihat ... tidak sopan saja."
"Wah ... kakek dalam diam aja bilang aku sudah tua. Benar-benar tidak bisa menyenangkan hati cucu kakek ini."
"Kalau cucunya kayak kamu, untuk apa aku senangi hatinya. Karena kamu juga tidak pantas bahagia."
"Kakek ... jangan gitu yah. Kasihan Zaka nya."
Saat itu, tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka. Orang itu tak lain adalah, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah itu.
"Maaf tuan, saya lancang mengganggu waktu tuan dengan tamu. Tapi .... "
"Tapi apa? Cepat katakan!" Kakek terlihat sangat kesal sekarang. Itu terdengar dari nada bicara dan tatapan matanya yang tajam melihat si asisten rumah tangga itu.
"Ada seseorang yang meminta dipertemukan dengan tuan. Katanya ... katanya ada hal penting yang ingin mereka bicarakan."
"Mereka? Apa tamu yang datang banyak?" tanya Zaka penasaran.
"Tidak juga, tuan Zaka. Hanya ada tiga orang saja. Tapi, saya tidak tahu entah masih ada lagi atau tidak. Yang bisa saya lihat hanya ada tiga untuk saat ini."
"Entahlah. Aku juga tidak tahu siapa mereka. Selama ini, aku tidak pernah berurusan dengan orang-orang tidak penting. Ya sudah, sebaiknya aku temui mereka dulu. Kalian tunggu di sini."
"Aku ikut, Kek." Zaka berniat untuk pergi.
"Tidak perlu. Kamu tinggal di sini saja. Temani Yola diam di sini. Ini urusan aku. Kalian jangan ke mana-mana."
"Tapi, Kek."
"Zaka. Jangan banyak membantah. Aku tidak suka sikapmu yang sok-sokan seperti itu."
"Baiklah." Zaka akhirnya mengalah. Ia tidak ingin memaksa keinginannya. Karena dia tahu, hubungan antara dia dan kakek juga tidak terlalu baik. Itu karena kakek tidak suka pada orang tuanya.
Entah apa alasan dari kata tidak suka itu, Zaka juga sampai saat ini tidak tahu. Setiap ditanya, dia selalu mendapat jawaban yabg tidak memuaskan dari mama apalagi kakeknya. Keluarganya seakan tidak ingin mengenang cerita lama itu. Sehingga tidak memberi dirinya jalan sedikitpun untuk tahu apa titik masalah yang telah terjadi di masa lalu.
Setelah kepergian kakek meninggalkan mereka, Zaka mengambil posisi duduk di samping Yola. Tempat duduk kakek sebelumnya.
__ADS_1
"Yola. Sebenarnya apa yang kakek katakan itu ada benarnya juga."
Yola yang sedari tadi melihat ke depan, kini langsung menoleh ke samping ketika mendengar kata-kata yang Zaka ucapkan.
"Maksud kamu? Apa? Apa yang benar?"
"Ya Tuhan ... bisakah kamu jangan galak-galak lagi padaku? Aku hanya ingin bilang, apa yang kakek katakan itu benar. Itu saja."
"Apanya yang benar, Zaka? Kata apa?"
"Kata ... kamu tidak cocok panggil aku dengan nama. Tapi, kamu bisa panggil aku dengan panggilan kakak. Yah, kak Zaka. Atau ... kakak Zaka."
"Huh ... bisa aja kamu. Aku pikir benar soal apa."
"Ye ... apa yang kamu pikirkan?"
"Tidak ada. Aku juga berpikiran yang sama sebenarnya. Kakek benar, kamu sudah tua."
"Yola ... aku itu tidak tua, tau. Hanya berjarak tiga tahun mungkin dari umurmu. Itu tidak tergolong tua, bukan?"
"Siapa bilang tidak tergolong tua, hah? Itu bahkan sangat tua, Zaka?"
"Ya Tuhan ... bisa-bisanya kamu berpikir seperti itu," ucap Zaka dengan menggunakan nada kesal yang dibuat-buat.
Belum sempat Yola menjawab apa yang Zaka katakan. Perhatian mereka berdua langsung teralihkan dengan kedatangan kakek kembali mendekati mereka.
"Bagaimana, Kek? Apa sudah selesai urusannya?" tanya Yola sambil tersenyum.
"Belum."
"Yola, kamu di tunggu mereka untuk diajak pulang. Papa dan mama mu sedang menunggu kepulangan kamu di kediaman kalian. Sebaiknya, kamu ikut mereka pulang agar papa dan mama mu tidak cemas lagi."
"Apa maksud, kakek? Siapa mereka itu? Kenapa mereka bisa sampai tahu di mana keberadaan Yola?"
"Kamu tidak perlu ikut campur dalam urusan ini, Zaka. Karena kamu tidak punya hak bicara, apa lagi ikut campur."
"Tapi, Kek. Yola datang bersama aku, maka dia juga harus pulang bersama dengan aku."
__ADS_1
"Zaka! Cukup. Jangan banyak bicara yang tidak penting. Kamu sebaiknya diam dan lihat saja apa yang terjadi."