
Namun, dengan cepat Yola menepis ingatan yang membuat hatinya kembali sakit. Ia mengalihkan pandangan matanya dari Dewa.
"Ada apa?" tanya Yola dengan nada bicara ketus yang terdengar sangat dingin menyentuh hati Dewa.
"Papa ... maksudku, kamu ditunggu semuanya di meja makan. Tinggal kamu saja yang belum datang."
"Oh."
Jawaban super singkat yang pertama kali Dewa dapatkan setelah sekian lama bersama dengan adik angkatnya ini. Jawaban itu membuat sakit hatinya. Karena selama ini, yang namanya Yola itu tidak pernah bersikap acuh seperti ini. Apalagi ketika bicara dengan dirinya.
Yola ingin beranjak melewati Dewa dengan wajah biasa saja. Tapi, Dewa yang merasa tidak enak dengan semua tingkah Yola, segera menahan tangan Yola dengan cepat.
"Yolan, tunggu!"
Yola melihat tangannya yang Dewa pegang. Lalu, dengan tatapan tajam, ia tatap wajah Dewa.
"Ada apa lagi? Bukankah aku sudah menuruti apa yang kak Dewa katakan? Pergi ke meja makan sekarang juga."
"Aku ingin minta maaf padamu, Yolan."
"Maaf untuk apa?"
"Atas kesalahan yang sudah aku perbuat kemarin. Aku salah. Aku .... "
"Sudahlah. Tidak perlu dibahas lagi soal itu. Aku sudah melupakannya."
"Kamu melupakan semuanya?"
"Iya. Kenapa? Apa ada yang salah lagi dengan apa yang aku katakan?"
Dewa yang awalnya bahagia kini kembali murung. Ia menundukkan wajahnya ketika mendengar ucapan ketus dari Yola.
"Kamu melupakan semuanya, tapi tidak memaafkan aku, Yolan. Itu tandanya, kamu masih marah padaku. Kamu tidak bisa memaafkan aku."
"Apakah kata maaf dariku sangat penting buatmu, kak Dewa?"
"Oh, tunggu! Aku tahu apa yang ingin kamu lakukan. Kamu minta maaf padaku, terus bilang kalau kamu akan belajar menerima status kita ini. Kemudian ... kamu akan menyakiti aku setelah bicara dengan kata-kata manis mu itu. Kamu sungguh luar biasa, kak Dewa."
__ADS_1
"Yolan .... "
"Cukup, kak Dewa. Aku manusia. Aku punya batasan untuk hatiku. Aku tidak akan mengemis cinta lagi dari orang yang tidak ingin mencintai aku. Aku tidak butuh kepura-puraan yang hanya akan menjadi penutup kebohongan saja."
'Walaupun sebenarnya, aku masih sangat mengharapkan kamu benar-benar mencintai aku, kak. Tapi, rasa sakit dan kecewa ini masih terasa kuat di dalam hati. Maaf, aku harus bersikap kasar padamu.'
Yola langsung melepas tangannya yang Dewa pegang. Ia beranjak meninggalkan Dewa yang terdiam mematung setelah kata-kata itu ia ucapkan.
'Yolan. Kamu ternyata beneran marah padaku. Kamu bilang aku hanya pura-pura? Aku tidak pura-pura, Yolan.'
'Aku akan buktikan kalau apa yang aku katakan malam itu benar adanya. Aku akan belajar mencintai kamu sepenuh hatiku. Aku akan pertahankan hubungan kita ini. Aku akan tetap perjuangkan kamu walau kamu tidak mengharapkan aku berada di sisimu.'
Dewa langsung mengikuti langkah Yola menuju meja makan. Setelah semua keluarga berkumpul, mereka langsung membahas soal ulang tahun Yola yang hanya tinggal beberapa hari saja lagi.
"Jadi sayang, pesta ulang tahun seperti apa yang kamu inginkan, untuk merayakan ulang tahunmu yang ke dua puluh tahun ini?" tanya Brian sambil tersenyum pada putrinya.
"Iya, Sayang. Ayo katakan! Pesta apa yang kamu inginkan? Mewah? Megah? Atau ... sangat mewah dan megah. Jika benar, perlukah kita undang semua orang yang ada di kota ini untuk ikut hadir?" tanya opa David sangat antusias.
"Ih, opa. Gak ah. Aku gak mau pesta mewah dan megah. Aku ingin pesta yang sederhana saja. Dan juga, tidak ingin mengundang orang satu kota. Cuma ingin mengundang orang-orang terdekat saja."
"Mm ... opa, papa, mama. Bolehkah aku minta satu hal pada kalian?"
"Iya sayangku. Jangankan satu hal, semua hal akan opa turuti. Janji opa bisa, maka opa akan lakukan apa yang kamu minta."
"Aku ingin pesta ulang tahun kali ini di rayakan di ladang bunga milik kakek Zaka. Bolehkah?"
"Kakek Zaka? Di mana ladang bunga itu?" tanya Kania dengan cepat.
"Ladang itu berada di desa Mekar, tepatnya di .... "
"De--desa ... Mekar?" tanya Kania agak kaget.
"Ya, mama. Desa Mekar. Tempat kemarin aku datangi bersama Zaka."
"Tidak! Tidak boleh. Kamu tidak boleh merayakan ulang tahun di desa itu."
"Kenapa, Ma? Apa ada yang salah?"
__ADS_1
"Pokoknya tidak! Jangan banyak tanya, Yola. Mama tidak mengizinkan kamu merayakan ulang tahun yang ke dua puluh ke sana."
"Tapi, Ma .... "
"Yola! Tidak!"
Kania beranjak dari duduknya. Ia segera meninggalkan meja makan tanpa menyelesaikan makan terlebih dahulu. Yola kebingungan dengan sikap mamanya, yang untuk pertama kali ia bersikap begitu aneh dengan menentang permintaan sederhana dari Yola.
"Mama .... "
"Yola, sudah. Kamu lanjutkan saja makannya. Biar papa yang bicara dengan mamamu sekarang."
Brin langsung menyusul Kania ke kamar. Sementara itu, Yola hanya bisa menatap kepergian papanya dengan kebingungan.
"Opa ... kenapa ini? Apa ada yang salah dengan permintaanku?" tanya Yola dengan wajah dan nada sedih.
"Tidak ada yang salah, Sayang. Ini hanya soal masa lalu mama kamu. Tidak usah dipikirkan. Opa yakin, papamu pasti mampu membujuk mama kamu. Kamu tenang saja, kamu pasti bisa merayakan ulang tahun di tempat yang kamu inginkan."
"Aku tidak ingin merayakan ulang tahunku di sana lagi, Opa. Jika mama tidak mengizinkan, maka aku tidak akan memaksa. Tapi ... aku hanya ingin tahu alasannya. Apa opa bisa mengatakan alasan itu padaku. Soal masa lalu apa?"
"Maaf, Sayangku. Opa tidak terlalu tahu soal masalah itu. Kamu bisa tanyakan pada papamu jika ingin tahu. Opa hanya tahu poin pentingnya saja, Nak."
Yola terdiam. Rasa penasaran menguasai hatinya sekarang. Tapi, rasa itu harus ia tahan karena opanya tidak mampu menjelaskan dengan jelas apa masalah yang mamanya alami.
"Sudah, sayangku. Ayo di makan makanannya. Masa cuma dilihat saja."
"Aku gak selera makan, Opa. Aku mau ke kamar saja."
"Lho tapi .... "
"Biarkan Yolan sendiri dulu, Opa. Dia butuh waktu untuk sendiri kayaknya."
"Jangan panggil aku opa. Karena aku bukan opa kamu," ucap David dengan nada kesal sambil ikut beranjak.
Di kamar utama, Brian menyentuh pundak Kania dengan lembut. Kania yang sedang berbaring di atas ranjang dengan posisi menghadap tembok itu, sedang menangis sambil memeluk guling dengan erat.
"Sayang .... "
__ADS_1
"Pa. Apa kamu tahu apa yang aku rasakan saat ini? Aku takut. Aku sedih, dan sangat-sangat merindukan desa itu. Tapi .... "
"Kania, sayang. Aku tahu apa yang kamu rasakan. Aku paham bagaimana perasaan kamu saat ini. Tapi, sayang ... kamu tidak bisa seperti ini pada Yola. Dia tidak salah, sayang."