I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 53


__ADS_3

"Oh ya, kita sudah sampai di sini. Sekarang, apa yang ingin kamu bicarakan dengan papa?" tanya Brian membuyarkan lamunan Dewa.


"Oh, iy-iya, Pa. Aku ingin bicara soal om Johan. Bukan. Maksudku soal Hanas, anaknya om Johan."


"Kamu beneran suka Hanas, Dewa?" tanya Brian mendadak mengubah raut wajah kesal dan kecewa pada Dewa.


"Aduh, papa. Papa ini ngomong apa sih? Bukan soal aku yang ingin aku bahas dengan papa. Tapi, soal om Johan dan anaknya."


Dewa lalu menceritakan semua yang ia lihat saat masuk ke kamar Johan dengan cepat. Karena dia tidak ingin dicurigai lagi, dan tidak ingin dibilang suka pada perempuan yang jelas-jelas telah memanfaatkan dirinya.


Sejujurnya, rasa cinta untuk Hanas telah musnah ketika dia tahu, kalau Hanas telah menjebaknya di kamar hotel waktu itu. Entah bagaimana caranya, cinta yang ia miliki mendadak berubah benci. Sampai-sampai, melihat wajah Hanas saja sudah membuat hatinya merasa muak.


"Jadi, kamu ingin bicara soal kecurigaan kamu pada anaknya Johan itu?"


"Iya, Pa. Itu yang ingin aku bicarakan dengan papa. Aku bukan hanya merasa curiga, tapi sudah melihat secara langsung apa yang ingin dia lakukan pada papanya. Mungkin perempuan itu sudah gila sekarang."


"Tapi ... bukankah kamu dikabarkan sangat cinta pada perempuan itu?" tanya Brian dengan nada menggoda.


"Ya Tuhan ... papa. Kenapa harus membahas soal itu sih? Rasa itu sudah hilang. Sudah berganti dengan rasa benci setelah apa yang dia lakukan padaku waktu itu."


"Secepat itukah?"


"Ya, tentu saja secepat itu. Karena aku tidak mungkin tetap mencintai orang yang jelas-jelas sudah menjadi perusak hidupku."


"Benarkah begitu, Dewa?"


"Tunggu! Bagaimana kalau Yola merasakan yang sama dengan yang kamu rasakan sekarang?"


"Apa! Maksud papa bagaimana? Apa papa juga mikir kalau Yolan sekarang benci aku, sama seperti aku benci Hanas?"


"Tidak! Yolan tidak bisa melakukan hal itu padaku. Karena aku tidak merusak hidup Yolan, Pa. Aku sama sekali tidak menyakitinya dengan apa yang aku lakukan. Aku ... aku hanya di jebak oleh dia. Aku yang bodoh. Karena rasa kasihan aku malah dimanfaatkan."


Dewa terlihat begitu frustasi sekarang. Entah apa yang sedang ada dalam benaknya, sehingga dia kelihatan begitu tertekan akibat pikirannya sendiri.

__ADS_1


Brian tidak sampai hati. Ia langsung menyentuh pundak Dewa dengan lembut.


"Apa yang kamu pikirkan, Dewa? Barusan, papa hanya bercanda. Tidak benar-benar mengatakan apa yang terjadi."


"Tidak, Pa. Aku rasa, Yolan benar-benar benci padaku. Lihat saja bagaimana perlakuan dia padaku sekarang. Dia tidak lagi menganggap aku ada."


"Yang kamu butuhkan hanya kata maaf dari adikmu, Dewa. Tapi, itu tidak sederhana. Kamu butuh kata maaf, yang tentunya, harus ada pembuktian yang kuat. Dengan begitu, hubungan kamu dengan Yola pasti akan kembali seperti semula."


Seperti mendapat cahaya di tengah kegelapan, wajah Dewa kembali cerah. Cahaya itu sepertinya sedang menerangi seluruh relung hati Dewa sekarang.


"Papa benar. Aku harus membuat Yolan percaya dengan apa yang aku katakan. Aku butuh bukti untuk membuat dia percaya."


Dewa lalu beranjak dari tempatnya. Hal itu membuat Brian kebingungan karena anak angkatnya pergi tanpa bicara terlebih dahulu dengannya.


"Mau ke mana kamu, Dewa?"


"Aku harus pergi mencari seseorang, Pa. Karena aku akan mulai mencari bukti untuk memperbaiki hubungan aku dan Yola."


Tanpa bisa mengucapkan kata lagi, Brian hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Dewa. Sambil tersenyum, ia tatap punggung yang berjalan semakin menjauh meninggalkan dirinya.


Belum sempat dia sampai ke tempat yang ingin ia tuju, langkahnya malah terhenti seketika. Karena tanpa susah payah lagi melihat rekaman cctv, orang yang ia cari sudah ada di depan matanya sekarang.


"Hanas!"


"Kak Dewa."


"Sini kamu, Hanas! Aku ingin bicara," ucap Dewa sambil mencengkram tangan Hanas dengan erat.


"Kak Dewa apa-apaan sih? Lepaskan aku! Kalau mau bicara, tidak perlu mencengkram tanganku segala. Bisa langsung bicara saja, bukan?"


"Kenapa kamu menjebak aku, hah! Kenapa kamu rusak hubungan aku dengan Yolan? Kamu benar-benar perempuan jahat, Hanas! Aku tidak akan melepaskan kamu lagi sekarang. Tapi, mungkin kamu bisa bebas karena terhalang Yolan. Sekarang .... "


"Sekarang apa, hah!" Hanas memotong perkataan Dewa dengan cepat. Tatapan tajam juga ia perlihatkan pada Dewa saat ini.

__ADS_1


"Kamu!"


"Apa! Aku apa kak Dewa?"


"Asal kamu tahu, yang jahat itu bukan aku. Tapi kamu dan keluarga Aditama, keluarga angkat mu itu."


"Kalian jahat! Kalian kejam! Terutama padaku."


"Apa kejahatan mereka yang membuat kamu tega merusak hubungan aku dengan Yolan, Hanas? Kami tidak pernah mengganggu kamu, bukan?"


Hanas tersenyum miris. Tersenyum, tapi matanya menangis.


"Tidak pernah mengganggu aku, kamu bilang?"


"Apakah mengambil apa yang aku punya itu namanya tidak mengganggu, kak Dewa. Sesuatu yang aku dapatkan dengan susah payah. Dengan perjuangan yang besar. Tapi, mereka malah dengan mudahnya mengambil itu dariku. Apakah itu namanya bukan mengganggu, hah!"


"Apa yang kamu punya yang mereka ambil, Hanas? Katakan padaku sekarang juga!"


"Kamu! Kamu sesuatu yang aku punya. Tapi malah mereka rebut dari aku, dengan menikahkan kamu dengan Yolan, anak kesayangan mereka. Apa itu namanya bukan merebut, kak Dewa! Katakan padaku!"


"Kamu sudah gila, Hanas! Pikiranmu sudah tidak berfungsi dengan baik. Pernikahan antara aku dan Yolan itu bukan keinginan kami, dan juga bukan keinginan keluarga Aditama. Tapi karena wasiat orang tuaku."


"Lalu kenapa tidak kamu ceraikan dia setelah kamu sudah menikah dengannya, kak Dewa?


Bukankah kalian hanya diminta menikah, tidak diminta hidup untuk selama-lamanya bersama."


"Itu karena aku sayang dengan Yolan. Aku sayang dia, dan tidak ingin menyakiti hati dan perasaannya."


"Kamu yang gila, kak Dewa. Kamu sayang adik kamu sendiri. Oh tunggu, apakah sayang sebagai adik itu harus membuat kamu tetap bertahan selamanya?"


"Tidak. Aku bukan hanya sayang dengan Yolan sebagai adik. Tapi sekarang, rasa itu sudah berubah jauh. Aku malahan sayang pada Yolan sebagai kekasih. Jelasnya, aku cinta sama dia."


"Kamu gila, kak Dewa. Sungguh gila." Air mata yang sedari tadi ia tahan, kini sudah tidak bisa ia tahan lagi. Air mata itu sekarang tumpah deras karena luka akibat pengakuan Dewa yang sekarang sudah mencintai gadis lain. Tepatnya, sudah berpaling dari hatinya, ke hati yang lain.

__ADS_1


"Aku tidak gila, Hanas. Karena mencintai Yolan itu sebenarnya adalah hal terindah, bukan sebuah kesalahan. Karena dia bukan adikku. Kami tidak ada ikatan darah di dalam keluarga Aditama."


__ADS_2