
Yola masih terdiam di depan pintu kamar Dewa. Ia baru sadar dari lamunannya ketika Dewa memanggil dia dari dalam kamar.
"Yolan ... Ayo masuk! Kenapa kamu masih diam di depan pintu itu sih?"
"Maaf, kak Dewa. Sepertinya, aku harus kembali ke kamarku sebentar. Ada hal yang harus aku kemas di kamarku."
"Kamar kamu ini mulai dari sekarang, Yolan. Jadi, tidak perlu kembali ke kamar yang sebelumnya. Lagipula, kamar itu sudah plong. Bu Erni sudah membersihkan kamar itu dan memindahkan semua barang-barang mu ke kamar ini. Jadi ... masuklah sekarang!"
Meski dengan rasa yang masih terasa sangat canggung, Yola memilih mendengarkan apa yang Dewa katakan. Ia beranjak dari tempatnya, lalu kemudian membuka pintu kamar untuk masuk ke dalam.
Untuk pertama kalinya, ia melihat Dewa tanpa menggunakan baju selama mereka hidup bersama. Pemandangan itu membuat Yola tertegun dengan pikiran yang melayang jauh ke awan.
"Yolan ... apa yang terjadi? Ada apa? Kenapa kamu masih diam begitu? Ayo masuk! Sini. Bantuin aku oleskan krim ini ke punggungku."
"Ba--baik, kak Dewa."
Yola berusaha bersikap biasa-biasa saja. Tapi anehnya, hati yang ia miliki tidak ingin bersahabat dengannya. Hati itu malah memicu otak untuk berpikir yang tidak-tidak. Sedangkan jantungnya, juga mengkhianati dia dengan berdetak lebih cepat dari yang biasanya.
"Yolan .... "
"Mm ... iya."
Beberapa lama Yola menunggu kelanjutan dari panggilan itu, namun sayangnya, tidak ada sama sekali. Dewa tidak berucap sepatah katapun setelah memanggil namanya.
"Kak Dewa mau ngomong apa barusan?"
"Tidak ada. Aku hanya memanggil nama kamu saja."
"Oh. Aku pikir ada sesuatu yang ingin kakak bicarakan padaku."
"Tidak ada. Aku hanya ingin bilang, aku suka padamu sudah sejak lama."
"Be--benarkah?"
"Tentu saja. Apa kamu mengganggap apa yang aku katakan itu dusta?"
"Tidak-tidak. Aku hanya ingin memastikan saja apa yang kak Dewa katakan itu nyata atau tidak."
"Tentu saja nyata, Yolan. Hanya saja, aku pikir, rasa yang aku punya itu salah. Bagaimana tidak, aku mencintai adikku sendiri. Ya walaupun adik angkat, tapi .... "
__ADS_1
"Apa sekarang kam Dewa masih anggap aku adik angkat mu, kak?"
Dewa menoleh untuk melihat Yola yang ada di sampingnya. Lalu, dia tersenyum sambil menyentuh pipi Yola dengan satu tangan.
"Tidak. Maaf jika aku egois. Tapi aku tidak ingin mengganggap kamu sebagai adik angkat ku lagi mulai dari sekarang, Yolan. Karena aku tidak suka dengan status itu."
"Aku juga tidak suka dengan status itu, kak Dewa. Karena aku mencintai kamu bukan sebagai kakakku, melainkan, sebagai pasangan."
"Kalau begitu, bersediakah kamu menjadi pendamping hidupku untuk selamanya, Yolan?"
"Tentu saja aku bersedia, kak Dewa. Bahkan, aku sangat bersedia sudah dari kemarin pula."
Tanpa aba-aba lagi, Dewa langsung mendaratkan ciuman mesra ke bibir Yola.
Meskipun merasa sangat kaget dengan ciuman tiba-tiba itu, namun Yola tidak bisa menolaknya. Ia bahkan membalas ciuman itu.
Hasilnya ... mereka sama-sama terbawa suasana. Dan ... melupakan apa yang Dewa katakan tadi sebelum masuk ke kamar. Mereka melakukannya untuk yang pertama kali. Suasana hangat menyeruak ke seluruh tubuh. Adegan itu mereka lakukan dengan penuh kemesraan.
.......
Mereka melewati suasana hangat itu hingga beberapa menit lamanya. Sampai, mereka sama-sama terbaring lemas. Kemudian, menutup mata karena kelelahan.
_____
Ketika ia berhasil, ia melihat sekeliling dengan perasaan malas. Tidak ada siapa-siapa di sini selain dia. Saat ingin menggerakkan tubuh untuk bangun, ia merasakan sakit di beberapa bagian tubuh. Hal itu membuat ia sulit untuk beranjak dari tempat tidur.
"Jam berapa ini? Adzan apa yang aku dengar barusan?" tanya Yola sambil berusaha menggapai ponsel yang ada di atas nakas.
"Uh, ternyata baru adzan ashar." Yola bergumam sambil kembali meletakkan ponsel ke tempat semula. Lalu, ia berusaha bangun kembali.
....
Yola keluar dari kamar itu setelah membersihkan diri dan berdandan rapi. Meski ia masih merasa tidak nyaman dengan tubuhnya, tapi ia tetap berusaha bersikap biasa saat berjalan keluar dari kamar tersebut.
"Bu Erni, di mana mama dan papa? Juga ... kak Dewa?" tanya Yola saat melihat tidak satu pun orang yang ia tanyai terlihat.
"Nona kecil, tuan dan nyonya sedang berada di taman. Tuan muda Dewa juga ada di sana."
"Oh, baiklah. Aku akan ke sana sekarang. Permisi bu Erni."
__ADS_1
"Iya, nona kecil. Silahkan."
Yola lalu beranjak menuju taman, tempat di mana orang tua juga suaminya berada. Dari kejauhan bisa ia lihat, tiga orang yang ingin ia temui sedang bicara serius.
"Yolan, kamu sudah bangun?" tanya Dewa sambil bangun dari duduknya saat melihat kedatangan Yola.
"Udah. Oh ya, papa mama, kalian sedang bicara soal apa sih? Kok serius banget?"
Kania tersenyum sebelum menjawab.
"Kita sedang merencanakan resepsi pernikahan juga bulan madu kalian, Yolanda."
"Resepsi dan bulan madu?" tanya Yola sambil menaikkan satu alisnya.
"Kayaknya ... gak perlu lagi deh, Ma."
"Lho, kok gak perlu sih sayang? Bukannya Dewa bilang mau merayakan resepsi pernikahan yang super mewah untuk kamu?"
"Iya, Yolan? Kenapa kamu tiba-tiba gak mau kita adakan resepsi? Bukankah kita udah membahas soal ini sebelumnya?"
"Oh ya, apa kamu baik-baik saja?" tanya Dewa tiba-tiba membuat Brian dan Kania saling pandang karena mereka paham apa yang baru saja terjadi.
"Aku ... aku ba-baik-baik saja kok, kak Dewa."
"Kalian bicarakan saja duluan apa yang ingin kalian bicarakan. Mama sama papa harus pergi karena ada sesuatu yang harus kami selesaikan." Kania berucap sambil mengedipkan mata memberi kode pada Brian.
"Tapi .... "
"Sudah, Yola. Bicarakan apa yang belum selesai kalian bicarakan. Nanti baru temui papa dan mama di kamar," kata Brian pula.
"O--oke. Baiklah."
Setelah kepergian Brian dan Kania, tidak ada yang mereka bicarakan. Mereka hanya diam beberapa saat, lalu kemudian meninggalkan taman itu seperti yang kedua orang tua mereka lakukan.
______________________________________________
*Catatan.
"Aduh ... semoga gak bikin kalian mikir yang nggak-nggak yah. Aku barusan merasa udah bikin dosa berjamaah lho. Puasa-puasa gini malah bikin pemikiran gak baik. Oh ... maafkan aku teman-teman.
__ADS_1
Juga maafkan aku untuk bab yang tidak bisa terlalu berlebihan. Karena ini bulan puasa, jadi ceritanya juga gak boleh bikin orang batal puasa. Maaf ya. Semoga kalian paham dan mengerti apa yang aku katakan. Terima kasih banyak teman-teman.