
Yola hanya bisa mengangguk dengan perasaan bingung. Ia sungguh bingung dengan apa yang telah terjadi. Khususnya, saat ia bertemu dengan orang-orang yang ada di sekitar Zaka.
"Ja--jadi ... kamu anak Kania? Papa kamu Brian, dan mamamu Kania?"
"Iy--iya tante. Mamaku Kania, dan papaku Brian. Ada ... ada apa ya?"
"Ma, mama kenal dengan orang tua Yola dari mana?"
Bukannya menjawab. Mama Zaka semakin memperkuat isak tangisnya. Hal itu membuat Zaka dan Yola semakin kebingungan di buat ulah wanita paruh baya yang ada di atas ranjang tersebut.
"Ma ... ada apa ini? Apa yang salah sih sebenarnya? Kenapa mama malah nangis, Ma. Jangan buat aku jadi bingung dong, Ma."
Zaka membawa mamanya ke dalam pelukan. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan mamanya. Tapi, ia merasa kalau saat ini, mamanya sedang benar-benar sedih.
"Ma, jangan nangis lagi, ya. Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi! Jangan buat aku bingung. Mama gak kasihan sama Yola? Dia jadi ikutan bingung sekarang."
Mama Zaka melihat ke arah Yola yang sedang berdiri di samping anaknya. Kemudian, ia menyeka air mata yang tumpah di pipi pucat nya itu.
"Bisakah ... bisakah aku memeluk kamu anak manis?" tanya mama Zaka pada Yola.
"Ma ... dia .... "
"Gak papa, kak Zaka."
"Bisa tante," ucap Yola sambil mendekat.
Mama Zaka segera merangkul tubuh Yola dengan penuh kasih sayang. Ia peluk tubuh itu layaknya ibu yang sedang memeluk anaknya.
"Ya Tuhan ... terima kasih banyak. Akhirnya, Engkau jawab juga doaku walau memakan waktu yang lama." Mama Zaka bergumam pelan sambil terus memeluk Yola.
"Ma .... "
"Anak manis, bisakah tante minta satu hal padamu, Nak?"
"Bisa tante. Katakan saja apa yang tante inginkan!"
__ADS_1
"Tolong. Pertemukan tante dengan mamamu. Bagaimanapun caranya, tante mohon."
"Ma ... kondisi mama sedang tidak baik. Tidak bisa pergi dari rumah sakit ini. Apalagi harus pergi jauh, Ma." Wajah cemas tergambar dengan jelas di raut wajah Zaka.
"Tenang saja, kak Zaka. Kebetulan, mama sama papa akan datang ke rumah sakit ini nanti sore.
Aku akan pertemukan tante dengan mama nanti."
"Mama kamu akan datang ke sini nanti sore? Untuk apa? Apa mama kamu baik-baik saja?" tanya mama Zaka dengan wajah cemas.
"Mama, alhamdulilah baik-baik saja tante. Dia datang untuk melihat om Johan yang di ...
Ya Tuhan. Aku lupa kalau aku juga harus ke kamar om Johan."
"Tante, kak Zaka. Maaf ya, sepertinya aku harus pergi sekarang. Aku lupa, kalau aku belum lihat keadaan om Johan tadi."
"Biar aku temani ya."
"Gak perlu, kak Zaka. Aku pergi sendiri saja. Kamu jagain tante aja. Dia pasti butuh teman."
"Oh."
"Ya udah kalo gitu, aku temani kamu lihat om kamu. Sekalian, aku juga ingin lihat bagaimana keadaan om kamu sekarang."
Keduanya lalu meninggalkan kamar itu. Tentunya setelah berpamitan pada mama Zaka sebelum beranjak. Mereka langsung berjalan menuju kamar Johan yang juga berada di lantai dua rumah sakit ini. Sambil terus ngobrol, mereka berjalan santai.
Sementara itu, di kamar Johan, Hanas baru saja masuk ke kamar tersebut. Setelah kembali dari kantor polisi, dia segera mendatangi kamar Johan untuk melihat keadaan papanya.
Bukan melihat, yang pasti, dia ingin memastikan bagaimana keadaan papanya yang sedang sekarat. Perasaan takut selalu saja menghantui hatinya sejak kejadian malam itu.
Dia takut jika papanya tiba-tiba bangun dari koma. Lalu, mengatakan semuanya pada polisi tentang kejadian malam itu. Karena sekarang, dia sudah terlepas dari masalah tersebut. Polisi hanya mengintrogasi dia sebagai saksi, bukan tersangka.
Entah bagaimana caranya, tapi itulah kenyataan yang sebenarnya. Polisi tidak menemukan bukti kalau Hanas bersalah. Mungkin karena gunting yang ia gunakan, telah ia pindah ke tangan mamanya sebelum melapor ke polisi. Tapi, itu semua masih bersifat sementara. Karena tidak ada bukti yang kuat, maka dia hanya dijadikan saksi saja sekarang.
Niat Hanas datang ke kamar papanya adalah, untuk melenyapkan sang papa agar tidak sadar untuk selamanya. Karena Hanas berpikir, jika sang papa pergi untuk selamanya, maka rahasia itu akan aman. Karena tidak ada yang akan membuka rahasia itu lagi nantinya.
__ADS_1
"Hai papa. Apa kabar? Apa papa baik-baik aja?"
"Sepertinya tidak. Dan semoga saja tidak," ucap Hanas sambil tersenyum.
"Pa, aku datang untuk menyelesaikan pertengkaran kita. Juga menuntut balas atas kematian mama. Papa telah membunuh mama. Maka ... sebagai balasannya, aku akan bunuh papa juga. Karena papa tidak ada artinya buat aku."
"Papa jahat! Papa telah menyakiti aku dan mama. Sekarang, papa juga telah memisahkan aku dengan mama. Papa ini papa aku, tahu gak? Tapi papa lebih membela orang lain dari pada aku, anak papa sendiri. Jadi, untuk apa papa hidup, hah?"
"Hidup juga tidak menyenangkan aku. Tapi malah mempersulit hidupku," kata Hanas sambil menarik bantal yang menjadi alas kepala papanya.
"Sekarang ... selamat tinggal papa. Tidur yang nyenyak buat selama-lamanya."
Hanas mengangkat bantal itu. Lalu ia letakkan ke wajah papanya yang masih diam, terbaring tanpa kata. Tapi, ketika tangannya baru menyentuh bantal untuk ia tekan, sebuah teriakan menghentikan gerakan itu cepat mungkin.
"Hanas!"
Sontak saja, Hanas langsung kaget bukan kepalang. Secepat mungkin, bantal itu ia singkirkan dan segera berbalik untuk melihat orang yang ada di depan pintu yang telah berteriak padanya barusan.
"Kak Dewa."
"Apa yang kamu lakukan, hah? Mau kamu apakan papa kamu, Hanas? Apa kamu sudah gila?"
"Kak Dewa ini bicara apa sih? Aku hanya ingin memperbaiki posisi bantal papa yang sepertinya terlalu menekuk. Kasihan papa, jika bantalnya tidak aku perbaiki."
"Kamu pikir aku buta, Hanas? Aku sudah melihat semuanya. Dan aku melihat dengan sangat baik apa yang kamu lakukan."
Wajah santai yang Hanas perlihatkan barusan, mendadak berubah panik. Tapi, saat melihat Yola datang, ide jahat kembali muncul dalam benaknya.
Hanas segera berjalan mendekat ke arah Dewa. Lalu kemudian, ia pura-pura terjatuh ke dalam pelukan Dewa sekarang. Dan ....
"Kak Dewa!" Teriakan kesal dari Yola yang melihat Dewa sedang berpelukan dengan Hanas terdengar menggema di dalam ruangan tersebut.
Dewa yang kaget, segera mendorong Hanas menjauh dari dirinya.
"Yolan. Ini semua tidak sama dengan apa yang kamu lihat. Kami .... "
__ADS_1
"Huh ... aku sebenarnya sama sekali tidak peduli dengan kalian, kak Dewa. Hanya saja, kalian berpelukan di depan pintu. Itu sangat menghalangi jalan kami untuk masuk ke dalam."