
Di vila keluarga Aditama, Dewa baru saja tiba di depan gerbang masuk vila tersebut. Satpam yang berjaga tidak banyak bicara. Hanya membuka pintu gerbang tanpa tegur sapa seperti biasanya.
Kejanggalan dan aura tidak enak kini menyentuh hati Dewa. Tapi, ia tidak bisa lari dari kenyataan yang ada di depan mata. Ia sudah bersalah, dan sekarang harus menerima hukuman dari kesalahan yang ia perbuat itu.
Benar saja apa yang ia pikirkan saat dalam perjalanan, kalau keluarga angkatnya sudah tahu tentang kesalahan yang ia perbuat, yaitu, bertengkar dengan adik angkatnya. Mana mungkin mereka akan membiarkan dirinya lolos begitu saja setelah bikin ulah dengan anak kandung kesayangan keluarga mereka.
Tatapan tajam mengiringi langkah Dewa yang berjalan semakin mendekat menuju ruang tamu. Tatapan itu membuat Dewa merasa ngeri bukan main rasanya.
Bagaimana tidak? Tatapan mata dari beberapa orang yang sedang duduk di atas sofa itu sangat menakutkan. Bak singa yang sedang memperhatikan mangsa, lalu bersiap-siap untuk menerkam dan akan dijadikan santapan empuk oleh si singa galak itu.
Ternyata, yang datang bukan hanya papa dan mama angkatnya saja. Melainkan, opa yang selama ini suka jalan-jalan mengelilingi dunia juga ada di sini sekarang.
Opa David adalah orang yang paling galak, sekaligus, orang yang paling tidak suka dengan keberadaan Dewa di dalam keluarga Aditama. Dia tidak suka karena beberapa alasan, yang sampai sekarang, Dewa tidak tahu apa alasan itu.
Belum juga Dewa sampai ke sofa dan bicara untuk menyapa kedua orang tua angkatnya, opa Davidson sudah bangun saja dari duduknya. Lalu kemudian, datang mendekat menghampiri Dewa.
Lalu ... plak!
Sebuah tamparan keras ia hadiahkan ke pipi Dewa. Sangking kerasnya, sudut bibir itu sampai mengeluarkan cairan merah, dan mata Dewa seketika pusing berkunang-kunang karena tamparan itu.
"Op--opa." Dewa langsung memegang pipinya, lalu kemudian mengusap darah segar yang ada di sudut bibir itu.
__ADS_1
"Papa! Jangan lakukan kekerasan fisik. Bukankah aku sudah bilang sebelumnya, jangan ada kekerasan fisik di sini."
Suara Kania terdengar cemas dan panik. Meskipun suara itu terdengar lebih banyak sedih dibandingkan panik dan cemas, tapi Dewa masih bisa merasakan rasa kasih sayang sebagai mama dari Kania saat ini.
"Kania, kenapa kamu masih membela dia? Apa kamu lupa apa yang dia lakukan pada cucu satu-satunya kesayanganku, hah? Dia telah menyakiti hati Yola, cucuku, anak kalian. Dan sampai sekarang, cucuku masih belum tahu ada di mana."
"Kita sudah mengerahkan orang untuk mencari Yola, Pa. Aku yakin, tidak lama lagi, mereka pasti bisa menemukan keberadaan Yola. Papa tidak perlu cemas," kata Brian pula.
"Kamu dan istrimu sama saja, Brian. Kalian selalu menyayangi anak yang tidak tahu diri ini. Sekarang lihat apa yang dia perbuat pada anak kalian? Cucuku menderita karena ulah anak tidak tahu terima kasih ini."
"Aku ... aku tahu ini salahku, opa. Mama papa, maafkan aku yang tidak tahu diri ini. Aku tidak bisa menjaga Yolan dengan baik. Tidak bisa memenuhi harapan besar kalian padaku."
"Dewa. Aku benar-benar kecewa padamu. Kenapa kamu menyakiti hati Yola seperti ini. Aku tahu kamu tidak mencintai Yola dan tidak bersedia menikah dengannya. Tapi kenapa, Nak? Kenapa kamu hancur dan remuk kan hati dia dengan cara yang menjijikkan seperti ini. Apa kamu lupa, dia itu masih adik kamu? Meskipun adik angkat. Anggap saja kamu menjaga hati adik angkat mu, Dewa."
Ketika Kania bicara dengan mengunakan kata aku, saat itulah, hati Dewa semakin dipenuhi dengan rasa bersalah juga kesedihan. Karena selama ia hidup bersama dengan Kania, dia tidak pernah mendengar Kania mengunakan kata aku saat bicara dengan dirinya. Makanya, kata aku itu terasa sangat menyakitkan buat Dewa.
"Dia tidak akan paham apa yang kamu katakan, Kania. Sudahlah, jangan bicara sama dia lagi. Tidak akan ada gunanya. Dia itu manusia yang tidak punya hati, mana bisa mengerti apa yang kamu bicarakan."
Opa David terlihat benar-benar membenci Dewa sekarang. Dari tatapan, juga nada bicaranya yang terdengar sangat-sangat ketus itu, Dewa bisa merasakan betapa bencinya opa David pada dirinya.
"Mama, aku minta maaf. Aku tahu aku sudah melakukan kesalahan besar dengan menyakiti hati Yolan. Aku pantas kalian benci dan kalian kucilkan dari keluarga ini. Tapi, Ma, Pa, tolong ... berikan aku satu kesempatan untuk memperbaiki dan menebus kesalahan yang telah aku buat. Aku mohon, Ma, Pa."
__ADS_1
Dewa benar-benar memelas dengan wajah yang penuh sesal dihadapan Kania dan Brian. Tapi, hal itu malah membuat opa David semakin kesal bahkan semakin benci pada Dewa.
"Heh! Kamu bilang, ingin minta kesempatan untuk menebus kesalahan yang kamu perbuat pada cucuku? Kamu pikir hati cucuku itu apa, hah! Boneka percobaan? Hari ini kamu coba bikin dia sakit, besok kamu perbaiki lagi, terus lusa, kamu sakiti lagi. Bia*dab!"
"Papa!" Kania memanggil opa David dengan nada tinggi.
"Tolong jangan bicara dengan nada kasar, Pa." Kini, nada bicara Kania melemah dan terdengar sangat sedih.
"Kania. Seharusnya kamu juga bersikap keras pada dia. Bukan malah membela dia seperti ini. Bukankah kamu juga wanita? Bahkan, kamu mama dari anak yang dia sakiti. Harusnya, kamu marah-marah sama dia, bukan malah diam begini. Kamu lupa apa yang dia lakukan untuk menyakiti hati anakmu? Dia laki-laki keji yang bersikap menjijikkan."
"Papa. Jangan menyalahkan Kania atas sikap lemah lembutnya pada Dewa. Papa jangan lupa, Kania ini juga mamanya Dewa. Sebagai mama .... "
"Cukup, Brian! Jangan bilang kalian adalah orang tua dari laki-laki bia*dab ini. Karena sampai kapanpun, aku tidak pernah sudi menganggap dia bagian dari keluarga Aditama. Ditambah lagi sekarang, sikapnya yang menjijikan itu. Aku semakin benci dan jijik untuk menyebut namanya. Apalagi melihat wajahnya."
"Opa, aku memang tidak pantas menjadi bagian dari keluarga kalian. Aku salah. Tapi, apakah sikap aku pada Yolan itu kalian bilang menjijikan?"
"Berani sekali kamu bicara padaku? Kamu tidak pantas bicara padaku sekarang."
"Tunggu! Barusan kamu tanya apa padaku? Sikap kamu pada cucuku? Oh Tuhan ... anak ini benar-benar tidak punya o*tak. Dia pikir berduaan dengan perempuan lain di kamar hotel itu wajar?"
Saat mendengar kata-kata yang opa David ucapkan barusan, mata Dewa mendadak melebar. Ia tidak mengerti apa yang opa David katakan barusan.
__ADS_1