I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 64


__ADS_3

Perlahan, rasa bahagia itu mengalir menyusup ke seluruh penjuru hati. Akhirnya, cinta yang sama-sama mereka miliki, kini bisa mereka utarakan. Dan yang paling membahagiakan adalah, cinta itu sama-sama terbalaskan.


_____


Yola membawa Dewa keluar dari kamar menuju taman rumah sakit. Saat ingin mencapai taman, mereka berpas-pasan dengan Bimo yang baru saja tiba ke rumah sakit tersebut.


"Tu--tuan muda. Tuan muda, bagaimana kabarnya sekarang? Apa sudah membaik?"


"Bimo. Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja sekarang. Sepertinya, aku sudah sangat sehat. Karena aku dirawat oleh bidadari cantikku," ucap Dewa sambil menyentuh tangan Yola yang sedang memegang gagang kursi roda nya.


"Kak Dewa bisa aja."


"Aku benar lho, sayang. Mak--maksud aku, Yolan."


"Sayang mungkin kata-kata yang indah dan nyaman untuk didengar, kak Dewa." Yola berucap sambil tersenyum.


"Benarkah? Kalau begitu, mulai sekarang, aku akan ubah panggilanku pada kamu, Yolan."


"Terserah kak Dewa saja. Aku tidak akan keberatan."


"Ehem ... maaf tuan muda, nona Yola. Sepertinya aku harus pergi sekarang. Karena ada banyak urusan yang harus aku selesaikan sekarang," ucap Bimo merasa tidak enak untuk hati mengganggu.


Namun, ia lebih tidak enak jika tetap berada di sana. Seolah-olah, ia patung yang tidak punya perasaan. Padahal, hatinya sedang membara.


Jiwa jomblo yang ia punya sedang meronta ingin dibebaskan. Tapi apalah daya, ia tidak punya kuasa untuk melakukan hal itu.


"Oh, silahkan." Dewa berucap enteng tanpa beban. Seolah-olah, dia memang menginginkan kepergian Bimo sejak tadi.


"Baik, tuan muda, nona Yola. Saya permisi dulu."


'Ya, Bimo. Hati-hati," ucap Yola sambil tersenyum.


"Tidak perlu melakukan itu, sayang. Bimo kan lali-laki, aku jadi gak enak hati." Dewa memang wajah cemburu sekarang.


"Ya Tuhan, kak Dewa ini jangan macam-macam, deh. Bukan saat main-main tau."


Bimo hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat hal itu.


'Benar kata orang. Cinta itu buta. Buktinya, sekarang orang yang sedang dimabuk cinta tidak bisa melihat ada orang lain selain mereka berdua. Ya ampun ... rasanya nyesek sekali buat aku yang tidak punya pasangan ini,' ucap Bimo dalam hati sambil menarik napas panjang lalu melepaskannya perlahan.

__ADS_1


Tapi ... Bruk!


Saat ia membalik tubuh untuk meninggalkan tempat itu setelah melihat Yola dan Dewa yang berada di taman dengan mesra, tubuhnya menabrak seorang perempuan yang sedang sibuk melihat ponsel. Perempuan itu terjatuh karena tabrakan yang tidak di sengaja itu.


"Aduh! ... Auh ... sakitnya pinggangku," ucap perempuan itu sambil mengelus pinggangnya dengan satu tangan.


"Mbak gak papa? Sini aku bantu," ucap Bimo sambil mengulurkan tangannya.


"Gak papa apanya? Gak dengar apa barusan aku ngomong apa? Aku sakit, mas. Kamu malah tanya aku gak papa? Aneh deh kamu," ucap perempuan itu sambil menerima uluran tangan Bimo.


"Maaf, mbak. Saya gak sengaja. Lagian, itu juga bukan salah saya. Mbaknya yang jalan gak hati-hati. Masa jalan sampai main HP wajar kalo nabrak."


"Eh ... malah nyalahin aku lagi. Udah kamu nya yang tiba-tiba balik badan. Gak lihat dulu ada orang atau nggak di belakang."


"Iya udah. Saya yang salah. Saya minta maaf ya mbak."


"Mbak-mbak. Aku masih muda. Belum jadi mbak-mbak. Emang aku mbak-mbak jualan sayur apa? Uh ... ngeselin." Perempuan itu langsung pergi setelah berucap seperti itu.


Sementara Bimo, ia malah tersenyum sambil terus melihat gadis itu yang berjalan semakin menjauh. Bagi Bimo, tingkah itu terlalu lucu di matanya.


Sementara Dewa dan Yola terus ngobrol di taman dengan sesekali disertai tawa lepas dari keduanya. "Yolan, aku ingin kita merayakan resepsi pernikahan nanti setelah aku keluar dari rumah. Bagaimana menurut kamu? Apa kamu setuju dengan niat aku ini?"


"Tentu saja, yakin? Kenapa tidak?"


"Tunggu! Apa kamu keberatan jika aku ingin mengadakan resepsi, Yolan? Jika kamu keberatan, aku tidak akan maksa. Karena sekarang, kebahagiaan kamu adalah hal paling penting untuk aku."


"Kak Dewa ini ngomong apa sih? Tentu saja aku setuju. Bahkan, sangat setuju malahan. Karena sebagai seorang perempuan, aku selalu mendambakan pernikahan yang megah seperti kebanyakan perempuan pada umumnya."


"Maafkan aku, Yolan. Kemarin-kemarin, aku terlalu egois sehingga aku lupa untuk membahagiakan kamu."


"Sudahlah. Bukankah kita berjanji untuk melupakan masa lalu, kak Dewa? Jadi, tidak boleh mengungkit masa lalu lagi, kan? Yang harus kita bicarakan itu adalah masa depan."


"Baiklah istriku sayang, kita akan melupakan masa lalu mulai dari sekarang, oke."


'Aku baru mengerti sekarang. Kenapa hidup dalam mencintai itu harus melewati ujian terlebih dahulu sebelum merasakan kebersamaan. Karena setelah melewati ujian itu, siapa yang lolos akan merasakan manisnya hidup bersama dan akan tetap berusaha mempertahankan kebersamaan itu sampai maut memisahkan.' Dewa berucap dalam hati sambil terus melihat Yola.


Yola yang merasa diperhatikan, segera salah tingkah. Ia pun tidak bisa diam dengan terus menikmati perhatian itu begitu saja.


"Kak Dewa, kenapa?"

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Dewa agak kaget.


"Kak Dewa itu kok terus-terusan melihat aku? Ada apa sih? Apa ada yang salah dengan aku, hm?"


"Tidak ada yang salah, Yolan. Hanya saja, aku baru menyadari sesuatu sekarang."


"Menyadari sesuatu? Apa?"


"Kamu begitu berharga buat aku. Dan aku baru menyadari hal itu. Setelah aku hampir saja kehilangan kamu dari sisiku."


"Kak Dewa ini ... udah pandai ngegombal kakak sekarang ya?"


"Eh, malah bilang aku menggombal. Itu kenyataannya lho, Yolan."


"Ih kak Dewa." Yola memukul pelan dada Dewa karena kesal.


"Auh ... sakit." Dewa pura-pura merintih karena pukulan itu. Sontak, Yola langsung panik seketika.


"Kak Dewa! Gak papa? Apa yang sakit? Maaf-maaf, aku gak sengaja."


"Tidak ada yang sakit, sayang. Hanya bercanda."


"Kak Dewa ...! Bikin kesal aja sih."


Sementara Yola dan Dewa sedang bermesraan, ada dua pasang mata yang sedang melihat dengan perasaan luka dari kejauhan. Mereka adalah, Zaka dan Leo.


"Dokter Leo, kok di sini?" tanya Zaka setelah mampu menguasai hati.


"Eh, kamu kenapa ada di sini?"


"Lho, kok nanya aku balik. Bukannya aku yang nanya pada dokter duluan."


"Terserah aku mau aku ada di mana? Bukankah aku pergi tidak meminjam kakimu."


"Wah ... jawaban yang sepertinya ada rasa sakit hati yang salah sasaran itu kayaknya."


"Apa maksud kamu?" tanya Leo sambil menoleh.


"Tidak ada maksud. Hanya merasakan hal yang sama dengan yang dokter Leo rasakan. Bukankah dokter sedang melihat Yola dan tuan muda yang ada di taman itu barusan? Dan .... "

__ADS_1


"Tidak usah banyak pikiran yang tidak-tidak. Kamu tidak perlu mengurus hal orang lain karena itu tidak akan ada hasilnya buat kamu. Sebaiknya, kamu fokus mengurus diri sendiri, Zaka."


__ADS_2