I Love You Kakak

I Love You Kakak
Kedatangan Alfaro


__ADS_3

Menyesap kopi. Kale kembali menekuni pekerjaannya. Ia sudah memberitahu Brill kalau hari ini harus lembur.


Banyak sekali yang harus diselesaikan sebelum kembali ke Singapura. Seminggu ini, dokter khusus yang ditugaskan untuk memantau perkembangan ayahnya melaporkan perkembangan baik.


Sudah diperbolehkan pulang, namun Tuan Adi Dharma berkeras tinggal barang beberapa hari lagi.


Kale mengiyakan saja. Itu memang sudah menjadi lagu ayahnya. Terserahlah, toh memang keluarga Murian juga punya saham di sana.


"Semoga tidak ada lagi permintaan aneh-aneh darimu, Ayah." gumamnya. Satu pekerjaan telah selesai. Kale mengganti pekerjaannya dengan membuka map terakhir.


Surat menyurat tentang pembelian kawasan apartemen. Jim lee.


Satu napas panjang lolos. Membanting diri di kursi. Kale merasa tak mengerti dengan jalan pikirannya akhir-akhir ini.


Hanya demi membuat bayi kecil itu pulang, ia harus membeli kawasan apartemen yang bahkan dulu ia tak menggubris saat ditawarkan untuk kerjasama.


Ke mana perginya rasa tak peduli yang sudah dia tanam hampir 24 tahun itu?


"Tuan!" Suara Brill menjeda lamunan Kale.


"Sudah berapa lama kau berdiri di balik pintu itu, Brill?"


"Baru beberapa saat. Tuan."


"Tepatnya?"


"Satu menit."


"Kau makan gaji buta Brill. Satu menit sangat berarti untuk orang sepertimu yang bahkan kubayar per jam."


"Saya akan menggantinya seumur hidup saya Tuan."


"Berani sekali kau menjawab!"


"Tentu saja," Brill mengarahkan pandangan pada jam dinding. Yang artinya jam kerja kantornya sudah habis. Hal itu diikuti oleh Kale yang akhirnya tahu apa yang Brill maksud.


Brill memang sekretaris sekaligus asisten pribadi Kale yang mana dia punya jam akhir saat berada di kantor. Jadi jika Kale sudah mengatakan lembur, Brill akan melakukan tugas lain yang berhubungan dengan Kale untuk urusan lain.


"Bahkan untuk hari ini saya yakin bisa mengalahkan Anda dalam sebuah permainan jika Anda ingin bukti."


"Mau kuingatkan berapa jumlah kekalahanmu?"


"Dengan senang hati saya akan merubah bilangan itu, Tuan."


"Kukabulkan apa yang kau pinta."


"Anggar? 5 menit pertama." Brill berkata sambil memperlihatkan kaos tangan untuk bermain anggar.


"Baik."


* * *


Lampu di ruang berukuran 14x1,5 meter itu menyala serentak saat seorang pertugas menekan saklar. Terlihat dua orang lainnya menyusul tidak lama kemudian. Mereka membantu Kale dan Brill memasang kostum anggar.


Kale melakukan pemanasan, pun dengan Brill. Lalu keduanya bersiap. Mereka sepakat bermain floret, yaitu bermain anggar yang gerakannya hanya maju dan mundur, serangan atau tusukannya hanya boleh pada daerah yang disebut torso. Dada, bahu depan, perut dan perut bagian bawah.


Semula seperti biasa, Kale bergerak sigap. Matanya menajam. Ia menangkis gerakan Brill yang memang lihai.


Semangat sekali, pikirnya. Sejak usia 8 tahun mereka bersama, Brill adalah anak angkat orang kepercayaan kakeknya. Kale mengenal betul, semangat yang ditujukan Brill kali ini, persis jika dia berhasil mendapatkan sesuatu yang diinginkan.


"Ada hal yang belum kutahu Brill?" Kale membalas gerakan Brill dengan tusukan di dadanya. Sedang Brill belum satu pun mengenai Kale.


"Saya hanya tidak ingin Anda larut dengan pekerjaan, Tuan."

__ADS_1


"Begitukah? Sampai kau ingin mengalahkanku?"


Brill tersenyum, dia tak menjawab, justru hal itu digunakan untuk membalas Kale dengan menusuk perut.


"Ini memang di luar jam kerja Brillian. Tapi jika kau main-main aku juga bisa menggantungmu sekarang." Kale menyerang maju.


"Saya percaya bisa mengubah sejarah untuk kali ini, Tuan." Brill berkata sambil balas menyerang. Ditusuknya Kale di bagian bahu.


"Percaya diri sekali kau." Beberapa gerakan tangkis dan menyerang, Kale kembali menghadiahi tusukan.


"Harus itu." Brill kembali fokus. Kali ini dia membalas Kale dengan serangan dan bisa berakhir tusukan di perut. Keduanya saling serang hingga Kale mempercepat gerakannya.


Brill yang seharusnya fokus karena mendapat serangan justru berujar ringan, "Alfaro kembali Tuan, dia menjenguk Tuan Besar sore tadi."


"Apa?"


"Ya, dia kembali dan, Anda kalah, Tuan." Pertanyaan Kale bersamaan dengan serangan Brill yang tepat berada di dada.


Kale berdecak, ia menyudahi permainan. Mengkode orang untuk membantu melepaskan kostum, lalu meneguk air mineral.


"Kau sudah merencanakan kemenanganmu, Brill." Brill tertawa, lalu berdiri di samping Kale dan ikut menenggak air mineral.


"Hanya ingin mengukir sejarah jika saya bisa mengalahkan Anda di permainan anggar ini."


"Kau sudah dapatkan. Brill. Apa yang sebenarnya kau mau?"


"Izin untuk memberi pelajaran pada dia."


"Kau yakin."


"Jika bukan karena Alfaro adalah sepupu Anda, saya sudah menghabisinya jauh hari sebelum Alana pergi membawa bayi mereka."


"Kau lebih tahu aku Brill. Lakukan untuk hal yang pantas dia dapatkan."


* * *


"Mau bareng?" Baru saja ingin menjawab, seorang pria berjas necis menghampiri Netra.


"Makasih, aku masih ada pertemuan dengan klien. Itu supirnya sudah datang."


"Wah, banting tulang beneran, modal nikah ya Net? Minta Asoka buat ngajak ke Eropa, biar bisa bikin anak di bawah salju. Ha ... ha ... duluan ya!" Netra mengangguk, menatap Starla yang melesat dengan mobilnya, lalu masuk ke mobil yang sudah menjemputnya.


Netra mengembuskan napas berat. Andai bisa bersama, ke Eropa pun bukan hal mustahil.


Waktu sudah banyak berlalu, tapi kenapa tidak dengan hatinya. Ditempat dia bertemu Starla, di situ pula biasanya Netra menanti jemputan Asoka.


Masih banyak tentang Asoka yang belum lepas darinya, bahkan di tas ia menemukan lirik yang baru setengah mereka tulis bersama.


*Jangan kau bersedih


Pujaan hatiku


Cinta kita sudah


Melawan windu


Biar badai datang


Lalu runtuhkan malam


Kesetiann kita


Tak mungkin sirna

__ADS_1


Kita akan bersama*


...


"Tidak mungkin, Kak. kita tidak mungkin bersama." bisiknya pada diri sendiri. "Kita hanya bersama di bawah naungan langit dengan jalan hidup sendiri-sendiri." Mata Netra terpejam hingga dia merasakan bulir bening mengalir dalam diam.


Bayangan Asoka terlintas dalam pejamnya. Antar jemput seperti ini membuat dia lebih mengingat lagi tentang Asoka.


Dulu, jika sopir keluarga menjemput, dia akan beralasan kepada ayahnya jika hal itu bisa membuat dirinya sulit mendapatkan teman, apalagi pacar.


"Ayah nggak mau, kan? Aku jadi perawan tua?" protes Netra satu waktu.


"Netra, bukan begitu. kalau kamu mau punya suami, Ayah bisa carikan." Ayahnya menjawab enteng.


"Aku bisa cari sendiri Ayah, tinggal berjuang sedikit lagi. Ayo dong, kasih aku semangat, Ayah, ya, ayah nggak sayang Netra?"


"Baiklah kamu menang, Ayah akan suruh supir itu pergi. Tapi ingat Netra, jangan pulang ke apartemen lebih dari jam sepuluh malam!"


"Siap, Ayah!"


"Bawa lelaki yang baik ke hadapan Ayah!"


"Baik!"


"Yang bertanggung jawab, sayang dengan keluarga, menerima kekurangan kamu."


"Pasti."


"Ingat, Lelaki yang baik, tidak main perempuan."


"Iya, akan aku ingat Ayah. Sudah ya, Netra tutup dulu, takut dikuping semut. I love you Ayah."


"Love you too" Saat itu, Netra dengan riang menutup telpon. Sosok Asoka sudah terlihat dari jauh. Lelaki itu melambaikan tangan.


Netra menyambut dengan gembira tentu saja. Pembicaraan dengan ayahnya bisa jadi lampu hijau untuk hubungannya dengan Asoka.


Netra mengambil napas banyak-banyak untuk mengakhiri ingatannya itu.


"Hah, Ayah, aku sudah mendapatkannya. Semua kriteria yang Ayah minta. Tapi dengan dia justru aku tidak bisa bersama." Netra membuka mata bersamaan dengan berhentinya mobil di halaman kediaman Murian.


"Kita sudah sampai, Nona!" Buru-buru Netra menghilangkan jejak air mata. Ia mengambil napas banyak sebelum ke luar dari mobil.


"Terima kasih, Pak!"


"Sama-sama, Nona!"


Mobil berlalu. Kemudian seorang wanita keluar menyambutnya. Menawarkan untuk membawakan tas.


"Tidak usah. Sudah seminggu, kenapa kamu tidak terbiasa dengan saya? Saya akan melakukan apa pun yang bisa dilakukan sendiri. Kembalilah ke belakang, lakukan pekerjaan yang lain." Wanita itu mengangguk.


"Maaf, Nona! Saya undur diri."


"Wah, Nona Muda sudah datang." Baru saja Netra beranjak menaiki tangga. Kalimat itu mengurungkan langkahnya.


Alfaro. Kenapa dia ada di sini?


"Halo Net, lama tak jumpa. Kamu tidak mau mengucapkan selamat datang untuk sepupumu ini?"


"Selamat datang." Netra berucap padat. Tanpa jal lain ia kembali menaiki anak tangga.


"Terima kasih, Sayang. Oh ya, tunggu!" Netra menoleh dengan tatapan dingin. Menggerakkan ke dua alisnya seolah bertanya apa? lewat gerakan itu.


"Kenapa aku lihat tadi kamu tidak mau dilayani? Apa sudah sadar diri kalau di sini, ehm ... bukan tempat yang pantas buat, anak tiri?"

__ADS_1


__ADS_2