I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 30


__ADS_3

"Oh, tunggu. Aku tahu apa sebab dan alasan kak Dewa berada di ruangan ini sekarang. Karena panggilan dari perempuan yang kak Dewa cintai ini? Iyakan?"


"Yolan, apa yang kamu katakan? Aku tidak datang karena panggilan dari, Hanas. Hanas tidak memanggil aku untuk datang ke ruangan ini."


"Lalu? Kenapa kak Dewa berada di ruangan ini? Karena siapa, hah! Karena aku? Jelas tidak, bukan?"


"Aku datang karena keinginanku sendiri, Yolan. Aku mendengar dokter ini memarahi dia sampai dia menangis. Dia menangis karena bentakan yang tidak punya perasaan dari dokter ini."


"Oh, begitu kah?"


"Iya, Yolan. Dokter ini sudah keterlaluan. Kamu sebagai pemilik rumah sakit ini harus memberikan keadilan buat Hanas."


Hanas dan Leo kaget secara bersamaan ketika Dewa menyebutkan kata, Yola adalah pemilik rumah sakit tersebut. Tapi, keduanya masih sama-sama terdiam dan masih memilih tidak angkat bicara terlebih dahulu. Karena situasi yang masih tidak memungkinkan untuk mereka bicara.


Sementara itu, Yola menatap tajam ke arah Dewa yang sedang berada dihadapannya saat ini. Dengan sekuat tenaga, ia tahan rasa sakit yang sedari tadi sudah menusuk hati. Bak belati tumpul yang berkarat, merobek hatinya secara paksa.


"Baiklah. Aku akan berikan keadilan untuk wanita ini."


"Dokter Leo, aku sebagai pemilik rumah sakit ini, meminta padamu untuk memecat perempuan itu secara tidak hormat. Masukkan dia ke dalam daftar hitam, agar tidak ada satupun rumah sakit yang bisa menerima dia sebagai suster lagi."


Kaget bukan kepalang Dewa dan Hanas ketika mendengar pernyataan yang Yola ucapkan barusan. Mata Dewa sampai melotot tak percaya melihat ke arah Yola. Seperti singa yang bersiap-siap ingin menerkam mangsanya.


"Baik, nona Yola. Akan aku laksanakan seperti yang kamu katakan. Sepertinya, itu adalah hukuman yang setimpal untuk dia."


"Yola! Apa yang kamu lakukan, hah! Apa kamu sudah .... "


"Sudah apa!? Sudah gila! Iya?" Yola bicara dengan nada tinggi membentak Dewa.


Sekarang, emosi Yola benar-benar sudah naik sampai ubun-ubun. Dia tidak ingat lagi kalau yang ia bentak ini bukan hanya kakak angkat, melainkan suami.

__ADS_1


"Dengar kak Dewa! Yang gila itu mungkin kamu, karena kamu sudah tidak ingat lagi siapa kamu. Bahkan, kamu tidak ingat siapa aku."


"Kamu bilang, dokter ini tidak punya perasaan? Hanya karena dia memarahi perempuan ini saja, kamu sudah bilang dia tidak punya perasaan. Tapi kamu tidak tahu apa kesalahannya, bukan?"


"Apa kesalahannya?"


"Kak Dewa, ini salah aku. Aku yang mulai duluan, kak. Sudah, jangan bertengkar lagi, kak Dewa. Aku tidak ingin melihat kalian bertengkar. Aku .... "


"Cukup! Aku bukan sutradara yang sedang membuka audisi untuk mencari aktris. Kamu tidak perlu bersandiwara di depanku." Yola membentak Hanas dengan nada tinggi.


"Yolan! Kamu semakin berutal saja sekarang. Jaga bicaramu itu. Kamu tidak tahu siapa dia, bukan?"


"Maksud kak Dewa aku tidak tahu siapa? Dia?" tanya Yola sambil menunjuk wajah Hanas dengan jari telunjuknya.


"Kak Dewa salah. Aku tahu siapa dia. Perempuan tidak ada harga diri ini .... "


"Apa! Kenapa tidak jadi? Kak Dewa mau tampar aku? Tampar!"


"Yolan cukup! Aku punya batas kesabaran. Jangan lampaui batas kesabaran yang aku miliki. Kita menikah hanya karena wasiat orang tuaku. Kamu jangan lupa itu. Kamu tidak berhak berkata-kata kasar pada orang yang aku sukai. Kamu .... " Dewa tidak melanjutkan lagi kata-kata yang ingin ia ucapkan. Karena saat itu, dia sadar, apa yang ia katakan barusan adalah salah.


Saat itu pula. Yola yang pura-pura kuat, tidak bisa berpura-pura lagi. Air mata jatuh melintasi kedua pipi putihnya dengan cepat. Hatinya sangat amat hancur sekarang. Bak kaca jatuh dari ketinggian gedung lantai lima. Hancur tak tersisa.


"Aku salah telah mencintaimu, kak Dewa. Salah besar," ucap Yola perlahan dengan nada pelan penuh rasa sakit.


Kemudian, ia beranjak meninggalkan ruangan tersebut dengan langkah cepat. Melihat hal itu, rasa bersalah dalam hati Dewa pun memuncak.


"Yolan!"


"Nona Yola."

__ADS_1


Dokter Leo ikut beranjak untuk mengejar Yola. Tapi, niat itu tertahan oleh Dewa. Karena Dewa dengan cepat menahan tangan Leo agar tidak bisa pergi.


"Lepaskan tanganku! Apa lagi yang anda inginkan dengan aku, hm?"


"Semua ini gara-gara kamu, dokter sialan! Jika bukan karena kamu, aku dan Yolan tidak akan bertengkar seperti barusan."


"Gara-gara aku? Anda yang benar saja, tuan muda. Apakah anda tidak berpikir sedikitpun kalau semua ini adalah kesalahan yang anda buat sendiri?"


"Tunggu! Sepertinya apa yang nona Yola katakan itu benar. Anda sudah mulai gila sekarang."


"Apa kamu bilang!" Dewa berucap sambil berniat memberikan bugeman pada dokter Leo. Tapi sayangnya, dokter itu sudah siaga sejak tadi. Dengan mudah ia tahan tangan Dewa yang sedang mengepal erat itu.


"Anda yang salah tapi malah menyalahkan orang lain. Sekarang, malah ingin main kasar dengan aku. Anda benar-benar manusia yang entah datang dari planet mana, tuan muda. Sama sekali tidak bisa berpikir dengan menggunakan otak."


"Aku katakan pada anda tuan muda. Kalau aku jadi nona Yola, mungkin bukan tamparan yang akan aku hadiahkan padamu. Melainkan, racun sianida biar kamu bisa mati secepat mungkin. Karena kamu adalah orang paling bodoh yang pernah aku temui di dunia ini. Laki-laki lemah yang tidak punya harga diri."


"Jangan sembarang bicara kamu dokter lak*nat!"


"Huh, aku tidak seburuk dan sebodoh kamu, tuan muda. Lebih memilih serigala berbulu domba dari pada merak yang cantik dan jelas-jelas sangat berharga. Kamu sia-siakan merak di depan mata demi serigala berbulu domba ini. Luar biasa tidak punya pikirannya kamu, tuan muda."


"Diam kamu dokter lak*nat. Kamu tidak tahu apa-apa tentang kami. Jadi jangan banyak bicara dan jangan campuri urusan kami."


"Aku tidak berniat ikut campur urusan kalian. Tapi, aku hanya kasihan melihat nona Yola yang begitu baik nan cantik itu kamu sakiti. Dia perempuan yang sangat istimewa dan sangat luar biasa. Tapi sayang ya, dekat dengan laki-laki tidak berguna seperti kamu ini. Sungguh malang nasibnya."


"Oh ya, aku lupa mengatakan, kalau bukan aku yang tidak tahu apa-apa tentang kalian semua. Tapi kamu yang tidak tahu apa-apa tentang perempuan yang kamu bela ini."


"Dokter Leo, cukup! Aku tidak sanggup lagi berada di sini. Kamu terus-terus saja merendah dan mencampakkan harga diri aku. Apa tidak cukup selama ini, kamu .... "


"Selama ini aku apa?"

__ADS_1


__ADS_2