I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 36


__ADS_3

Kebetulan, Bimo yang baru saja selesai mandi itu mendengar teriakan dari Dewa. Teriakan yang begitu mengharapkan pertolongan itu tidak bisa ia abaikan. Akhirnya, Bimo terpaksa keluar dari kamar meski hanya dengan handuk yang melilit di pinggang.


"Ada apa tuan muda?" tanya Bimo sambil berjalan cepat menuju asal suara.


Ketika sampai di tempat asal suara, perasaan cemas pun harus berganti malu. Ia yang datang di sambut dengan tatapan tajam dari semua mata itu pun jadi salah tingkah.


"A--ada ... ada apa ... tu--tuan muda?"


"Ma--maaf, tuan Brian, nyo--nyona Kania. Aku .... "


"Tolong aku, Bimo. Jelaskan pada mereka soal vidio ini," ucap Dewa sambil memperlihatkan vidio yang ia putar lewat laptop itu.


Bimo melihat vidio yang Dewa sodorkan. Ia lalu menarik napas setelah vidio itu selesai diputar.


"Katakan sejujurnya apa yang kamu tahu! Jangan bela siapapun di sini. Karena kamu adalah saksi kunci yang mungkin bisa menjelaskan segalanya."


"Ini ... tadi malam .... "


Bimo mengatakan semuanya dengan jujur. Ia menjelaskan setiap detail kejadian yang mereka lewati tadi malam hingga sampai ke rumah sakit.


"Benarkah apa yang kamu katakan ini, Bimo?" tanya Kania mulai datang semangat.


"Benar nyonya. Aku tidak ada melebihi atau menutup cerita. Semua yang aku katakan, itu adalah kenyataan yang telah kami lewati."


Saat itu pula, ponsel Brian berdering. Ia langsung menjawab panggilan tersebut dengan cepat.


"Halo."


"Halo tuan Brian. Saya ingin mengatakan hasil dari penyelidikan soal dari mana vidio itu berasal dan siapa pengirimnya, seperti yang tuan Brian inginkan."


"Katakan!"

__ADS_1


"Tuan Brian, vidio itu berasal dari seorang perempuan dengan nama Hanas."


"Hanas?" tanya Brian sambil menyipitkan mata tanda tak percaya.


"Iya. Email-nya Hanassuster 032@gmail.com. Saya juga sudah menyadap ponselnya, tuan muda. Saya menemukan kalau vidio yang ia kirim itu bukan vidio asli dari apa yang ia rekam lewat ponselnya. Melainkan, vidio potongan."


"Apa? Vidio potongan?"


"Ya, tuan muda. Itu vidio potongan. Yang aslinya sudah dia hapus, tapi bisa saya kembalikan. Dan vidio nya sudah saya kirim ke WA tuan muda tadi."


"Baiklah. Terima kasih banyak kamu sudah mendapatkan apa yang aku inginkan. Senang bekerja sama dengan kamu."


"Terima kasih kembali tuan muda. Saya senang bisa membantu tuan muda."


Panggilan pun terputus. Brian langsung membuka pesan WA nya untuk melihat vidio yang si penelpon katakan. Benar saja, ada vidio masuk yang belum ia buka.


"Ada apa, Pa? Apa yang terjadi?" tanya Kania tak sabar lagi ingin tahu.


"Tuan muda menyebut nama Hanas barusan. Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Johan ikut-ikutan tidak bisa menahan rasa penasaran yang memuncak dalam hatinya.


Dengan cepat, Brian memutar vidio yang dikirim oleh orang suruhannya tadi. Lalu, ia letakkan ponsel tersebut di atas meja di depan mereka semua.


Vidio itu berjalan dengan memperlihatkan Hanas yang sedang mengatur kamera tepat mengarah ke pintu masuk kamar mandi hotel tersebut. Lalu, setelah pas. Hanas menghilang dari rekaman itu. Yang terlihat hanya tembok dan pintu kamar mandi.


Lalu kemudian, terdengar teriakan yang lebih mirip dengan jeritan. Itu sama persis dengan jeritan ketakutan yang Hanas perdengarkan pada Dewa tadi malam.


Selanjutnya, terdengar teriakan laki-laki dari arah luar kamar mandi. Teriakan itu tak lain adalah, Dewa. Lalu, dobrakan yang di lakukan dari arah luar kamar mandi. Dan, akhirnya, muncullah Dewa di rekaman vidio tersebut. Dewa yang datang bersama Bimo di belakangnya.


Rekaman vidio itu terus berjalan sama persis dengan yang Bimo ceritakan. Kemudian, setelah Dewa dan Bimo pergi, Hanas kembali tinggal sendiri di kamar mandi itu. Ia sempat tersenyum sebelum akhirnya vidio itu berakhir.


"Ja--jadi, ini semua ulah Hanas?" tanya Dewa dengan wajah sedih sekaligus kecewa.

__ADS_1


Sementara Johan, ia hanya mampu diam sambil menundukkan kepala. Ia tidak tahu harus bicara apa. Karena ia tidak punya kata untuk ia ucapkan saat ini. Yang ada hanya rasa malu yang teramat sangat. Juga rasa bersalah pada keluarga tuan muda yang telah menjadi bagian dari hidupnya ini.


"Tidak mungkin. Aku tidak percaya semua ini," ucap Dewa lagi sambil mengusap kasar wajahnya.


"Tuan muda, maaf. Aku sudah merasakan segala kejanggalan yang terjadi tadi malam. Aku juga sudah mencium adanya hal yang tidak beres dari semua kejadian yang telah kita lewati. Tapi sayangnya, tuan muda tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan." Bimo berucap tanpa takut.


Dewa tidak bisa menjawab apa yang Bimo katakan. Karena apa yang Bimo katakan itu memang benar adanya. Itu adalah kesalahan dari dirinya. Kesalahan karena dia yang tidak hati-hati dan tidak mau waspada atas segala kemungkinan.


Cinta telah membutakan mata dan hatinya. Tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Juga tidak mau tahu puncak dari masalah terlebih dahulu. Tapi malah langsung membela orang yang salah tanpa selidik lagi.


Kini, wajah Yola bermain-main di mata Dewa. Wajah terluka, sakit hati dan kecewa itu sekarang membuat ia merasa sangat bersalah. Perlahan, air mata jatuh dari mata seorang Dewa.


'Yolan. Maafkan aku.' Hanya itu yang mampu ia ucap dalam hatinya. Berharap, Yola bisa memaafkan dia dan segera kembali. Ia rela jika Yola ngambek dan marah, tapi, ia sekarang benar-benar tidak rela jika Yola hilang dari pandangan matanya.


Entah mengapa, rasa itu tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya. Rasa bersalah, tapi lebih tepatnya, rasa rindu yang ia rasakan sekarang. Menguasai hati dan perasaan.


Sementara itu, Yola berada di taman belakang rumah kakek Zaka. Ia duduk sambil menghirup udara senja menjelang malam yang terasa sangat amat berbeda dari udara kota yang selama ini ia rasakan.


Udara itu terasa sangat sejuk menenangkan hati. Berbeda jauh dari taman vila yang selama ini ia anggap sangat indah dan menenangkan.


Taman desa ini lebih indah, dan lebih bisa menenangkan hatinya.


Semua masalah yang baru saja ia lewati tadi. Kini rasanya sudah hilang. Terbang bersama angin sejuk yang berhembus perlahan.


Kakek Zaka berjalan perlahan menghampiri Yola yang duduk sendiri di atas kursi kayu taman belakang rumah. Ia tersenyum melihat senyum indah dari perempuan cantik nan manis ini.


"Anak manis. Kenapa tidak masuk ke dalam? Hari sudah hampir malam. Tidak baik berada di luar rumah saat senja begini. Sendirian lagi."


"Kakek. Aku merasa sangat nyaman di sini. Bisakah aku tinggal di sini selama beberapa hari?"


"Tentu saja boleh, Sayang. Selama apapun kamu mau tinggal, maka kamu bisa tinggal di sini. Apapun yang mau kamu lakukan, maka kamu bisa melakukannya."

__ADS_1


"Benarkah?"


"Tentu, Sayang."


__ADS_2