
Seketika, wajah bahagia Yola berubah murung ketika mamanya mengatakan kata-kata kalau dia adalah istri orang. Karena kenyataannya, dia merasa masih tetap sendiri. Tidak ada pasangan hidup yang menemani.
Melihat perubahan dari wajah anak mereka, Kania dan Brian saling pandang. Kania tahu apa penyebab dari perubahan itu. Tapi ... tidak bisa menarik kata-kata yang sudah ia ucapkan.
"Kamu kenapa, sayang? Apa ada yang tidak mengenakkan di hati? Apa mama ada salah omong?"
"Tidak ada, Ma. Lupakan saja. Oh ya, aku hanya ingin tahu alasan dari sikap mama tadi pagi, itu saja."
"Sikap mama yang mana? Apa sikap kasar mama itu?"
Yola mengangguk pelan. Sebenarnya, ia tidak ingin menanyakan hal itu karena tidak ingin membuat hati mamanya sedih. Tapi, karena suasana yang tidak mengenakkan hati, ia terpaksa mencari cara untuk mencairkan suasana kembali.
"Oh, soal itu karena .... "
Ponsel Brian tiba-tiba berbunyi. Akibatnya, kata-kata yang ingin Kania ucapkan jadi tertahan. Karena perhatian mereka terpusat kan pada bunyi ponsel yang semakin lama semakin keras.
"Siapa, Pa?" tanya Kania penasaran saat melihat Brian yang masih menatap layar persegi panjang itu walau sudah beberapa detik ponselnya ia genggam.
"Polisi."
"Polisi? Ada apa polisi menghubungi, papa?" tanya Yola dengan wajah cemas dan penasaran.
"Ini soal om Johan dan keluarganya. Tunggu sebentar. Papa angkat panggilan ini dulu."
Brian langsung menjawab panggilan itu sambil beranjak dari duduknya. Tidak pergi jauh. Hanya berdiri saja.
"Halo, Pak."
" .... "
"Ada kabar apa?"
Seterusnya, Brian bicara serius dengan orang yang ada di seberang sana untuk beberapa saat lamanya. Sedangkan Kania dan Yola hanya diam mendengarkan pembicaraan itu sambil menahan rasa penasaran yang semakin dalam di hati mereka.
"Baik, Pa. Saya akan ke sana sekarang."
" .... "
__ADS_1
"Sama-sama."
Panggilan itu berakhir. Brian pun kembali duduk ke tempat sebelumnya.
"Ada apa, Pa? Apa yang terjadi?" tanya Kania dengan cepat mewakili rasa penasaran di hati Yola.
"Polisi sudah bisa mengintrogasi Hanas setelah beberapa saat gadis itu trauma."
"Jadi, apa hasilnya?"
"Tunggu, Pa, Ma. Ini ada apa sebenarnya? Apa masalah yang terjadi dengan om Johan dan keluarganya sih? Kenapa mengintrogasi segala?"
"Yola. Kemarin malam, om Johan dan keluarganya bertengkar hebat. Kamu tahu, pertengkaran itu sampai berujung maut."
"Apa! Siapa yang ... tidak. Apa yang terjadi dengan om Johan dan keluarganya? Apa masalah mereka sampai harus bertengkar? Dan ... siapa ... apa maksud papa sampai berujung maut barusan? Katakan, Pa! Aku ingin tahu yang sebenarnya."
"Tenang, sayang. Biar papamu bicara dengan perlahan untuk menjelaskan apa yang telah terjadi."
Brian lalu menceritakan semuanya. Apa yang telah terjadi malam itu, dan kenapa bisa pertengkaran itu terjadi. Yola mendengarkan semua itu dengan seksama. Perlahan, air mata jatuh melintasi pipinya.
"Om Johan bertengkar dengan keluarganya karena aku?"
"Tapi tetap saja aku penyebabnya, Pa. Jika bukan masalah aku, maka om Johan tidak akan bertengkar dengan keluarganya."
"Sayang. Ini bukan salah kamu. Apa kamu lupa kalau istri dan anak om Johan itu menang tidak pernah serasi dengan om kamu itu? Mereka tidak pernah sekata sebagai keluarga. Mereka selalu berselisih walau hanya karena masalah kecil."
Benak Yola membenarkan apa yang mamanya katakan. Ia tahu kalau Johan dan keluarganya memang tidak terlalu akur. Selalu saja ada masalah dan pasti akan bertengkar walau hanya karena masalah kecil.
Pemicunya tentu karena istri dan anak dari Johan yang tidak pernah mau mendengarkan apa yang Johan katakan. Selalu jadi pembangkang dan selalu bikin Johan pusing dan juga sakit hati.
"Sayang, kenapa diam? Apa yang kamu pikirkan, hm?" tanya Kania sambil menyentuh pelan pundak anaknya dengan lembut.
"Tidak ada, Ma."
"Ma, Pa. Sepertinya aku harus ke rumah sakit sekarang juga. Ada hal yang harus aku lakukan di sana. Juga ada orang yang harus aku temui di rumah sakit."
"Kamu mau jenguk om Johan ya?"
__ADS_1
"Tentu, Pa. Tapi, aku juga ingin bertemu dengan teman di sana."
"Pergi sama Dewa ya. Soalnya papa gak bisa ikut kamu. Papa harus ke kantor polisi sekarang."
"Tapi, Pa ... kayaknya aku pergi sendiri aja gak papa deh. Gak harus sama kak Dewa juga."
"Yola. Jika sama kakakmu, papa sama mama bisa tenang melepas kamu pergi. Tidak jika kamu sendirian. Mama sama papa pasti akan sangat cemas memikirkan kamu nantinya."
Yola tertunduk dengan wajah murung untuk beberapa saat. Niatnya, ia ingin menghindar dari bertemu dengan Dewa. Tapi kenyatannya, mama dan papanya malah ingin menyatukan mereka.
"Baiklah. Terserah mama dan papa saja. Aku masuk dulu. Mau ganti baju baru pergi ke rumah sakit. Bilang kak Dewa tunggu aku di mobil saja."
"Kenapa gak bilang sendiri saja?" tanya Kania dengan nada menggoda disertai dengan senyum di bibirnya.
"Mama .... " Yola menatap Kania dengan tatapan kesal. Hal itu membuat Kania tertawa akibat keberhasilannya dalam menggoda sang anak.
"Baiklah-baiklah. Mama akan katakan pada kakakmu nanti."
_______
Mobil sudah terparkir di depan pintu. Tentunya dengan Dewa di dalam mobil tersebut. Yola segera masuk dari pintu depan. Niatnya, ia akan duduk di samping Bimo hari ini. Itu ia lakukan agar bisa sedikit menghindar dari bertemu Dewa secara langsung.
Tapi sayangnya, setelah ia duduk di kursi depan, ia dikagetkan dengan wajah Dewa yang duduk di sampingnya. Siap untuk mengemudikan mobil yang ia naiki barusan.
"Kak ... kak Dewa. Di mana Bimo? Kenapa malah kamu yang duduk di sini?" tanya Yola dengan nada kesal sekaligus menahan rasa kaget akibat melihat Dewa yang duduk di sampingnya sekarang.
"Bimo gak bisa bawa mobil ini. Karena dia pergi dengan papa ke kantor polisi. Jadinya, aku yang nyetir sendiri."
"Kalau gitu, aku mau duduk di belakang saja," ucap Yola sambil ingin beranjak turun.
Tapi, dengan cepat Dewa menahan niat Yola itu dengan menggenggam erat tangan Yola.
"Jangan. Kamu duduk di sini saja."
"Kak Dewa lepaskan! Jangan sentuh aku dengan tanganmu yang kotor itu. Apa hak mu melarang aku untuk duduk di belakang, hah!"
"Aku bukan sopir kamu, ngapain kamu duduk di belakang. Aku punya hak melarang kamu karena aku adalah suami kamu, Yolan."
__ADS_1
Seketika, suasana mendadak hening saat kata-kata Dewa berakhir. Mata mereka juga saling tatap untuk beberapa saat. Lalu kemudian, mereka segera memalingkan pandangan masing-masing secara bersamaan.