
Hanas yang tidak tahu diri ini pun masih menyalahkan keluarga Aditama atas apa yang telah terjadi. Tanpa ia pikir dengan baik, kalau semua ini adalah ulah dari dirinya sendiri.
"Kalian harus membayar semua ini. Kalian tidak akan hidup bahagia. Aku akan balas dendam pada kalian semua keluarga Aditama."
Hanas bicara dengan suara penuh amarah.
Kemudian, ia segera menghubungi polisi setelah meletakkan gunting yang menancap perut papanya ke tangan mamanya. Selanjutnya, ia berjalan sedikit menjauh dari kedua orang tuanya. Lalu bertingkah seperti orang yang sedang kaget hingga menimbulkan trauma yang luar biasa.
Kurang dari tiga puluh menit setelah Hanas menghubungi polisi, bunyi sirene akhirnya terdengar juga. Bunyi sirene yang semakin lama semakin mendekat, dan akhirnya berhenti tepat di depan rumah mereka. Menandakan, polisi sudah sampai di depan rumah. Saat itulah, Hanas semakin memperkuat akting menjadi orang yang begitu trauma.
Saat polisi masuk ke dalam rumahnya, polisi menemukan Hanas yang sedang sangat ketakutan. Tubuh Hanas sampai bergetar dan tidak bisa diajak bicara sepatah katapun.
Hanas segera di larikan ke rumah sakit untuk diperiksa, juga diobati bagian-bagian yang memar dari tubuhnya. Sedangkan kedua orang tuanya, juga dilarikan ke rumah sakit yang sama. Tentunya, setelah dipastikan bahwa salah satu dari mereka ada yang masih selamat walau dengan kondisi yang kritis.
Di sisi lain, opa David yang pergi ke desa untuk menjemput Yola, kini sudah sampai ke tempat tujuan. Mobil yang ia kendarai telah berhenti tepat di depan pagar rumah tua di tengah ladang bunga.
"Tuan besar, kita sudah sampai." Bimo bicara dengan sangat hati-hati karena takut pada opa David. Meski tidak terlalu mengenal bagaimana sifat tuan besar keluarga Aditama ini, tapi dia sedikitnya tahu tentang bagaimana tuan besarnya ini punya sifat yang sangat keras dan emosi yang suka meledak-ledak.
"Kamu turun. Aku tunggu di mobil saja."
"Bagaimana jika nona Yola tidak ingin pulang bersama saya, tuan besar?"
"Katakan saja aku sedang menunggu dia di mobil. Aku yakin, dia pasti ingin pulang bersamaku."
"Baiklah, tuan besar. Akan saja jalankan sesuai perintah. Permisi."
Bimo bergegas turun dari mobil. Berjalan cepat masuk ke halaman rumah yang terlihat agak sepi. Karena tiga orang yang berpakaian serba hitam itu, sekarang sedang diam di samping mobil mereka.
Tiga kali ketukan, barulah pintu rumah itu dibuka oleh seorang wanita paruh baya yang sedang menggunakan daster ditubuhnya. Wanita itu menatap Bimo sejenak. Lalu kemudian, ia menanyakan maksud kedatangan Bimo ke rumah ini.
"Maaf, ibu. Saya ingin bertemu dengan nona Yola. Apakah dia ada di dalam?"
__ADS_1
"Dia ada di taman belakang. Tunggu sebentar, saya akan panggilkan mereka."
"Baik."
Wanita paruh baya itu langsung meninggalkan Bimo. Ia berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Bimo menunggu di depan rumah tanpa di suruh masuk terlebih dahulu oleh wanita paruh baya tersebut.
Wanita paruh baya itu berjalan dengan perasaan dongkol di hatinya. Ia kesal karena malam ini dia sama sekali tidak bisa merasakan ketenangan akibat kedatangan orang-orang yang tidak ia kenal akibat kehadiran Yola.
Sampai di taman belakang, ia langsung mengatakan kalau Yola sudah di jemput oleh keluarganya. Orang itu sekarang sedang menunggu di depan rumah.
"Mama dan papa sudah sampai?" tanya Yola dengan wajah agak bahagia.
"Mungkin." Wanita paruh baya itu bicara dengan nada ketus.
"Apa maksud dengan kata mungkin yang kamu ucapkan barusan itu, hm? Apa yang jemput bukan orang tua Yola?" tanya kakek dengan cepat. Tentunya, dengan nada kesal akibat nada bicara ketus dari asisten rumah tangganya itu.
"Maaf tuan. Saya tidak tahu itu orang tua nona ini atau bukan. Yang jelas, orang itu menanyakan di mana nona ini berada."
"Aku bilang, aku akan panggilkan dia."
"Kakek, mungkin mereka memang benar papa dan mama. Aku akan pergi sekarang."
"Tunggu, Yola! Jangan pergi dulu. Biar kakek yang pastikan, itu benar orang tua kamu atau bukan."
"Tapi, Kek. Bagaimana caranya kakek ingin memastikan itu mama sama papa atau bukan? Bukankah kakek tidak pernah bertemu dengan orang tuaku sebelumnya?"
Kakek terdiam sejenak. Lalu kemudian, ia tersenyum. "Kamu ini gimana sih? Apa susahnya aku memastikan itu orang tua kamu atau bukan. Meski belum pernah bertemu, aku juga tidak akan kehabisan akan untuk mencari tahu kebenarannya."
"Benar juga apa yang kakek katakan. Tapi sebaiknya, aku ikut kakek sekalian sajalah. Biar nanti tidak akan membuang-buang waktu untuk memanggil aku lagi."
"Tapi Yola .... "
__ADS_1
"Gak papa, Kek. Hari sudah sangat larut malam. Kita juga tidak mungkin terus-terusan berada di taman ini. Sebaiknya, aku ikut kakek masuk ke dalam. Jika memang bukan orang tuaku, maka aku bisa langsung istirahat sekarang juga."
"Ba--baiklah."
Akhirnya, kakek pun mengalah tanpa bisa bicara terlalu banyak lagi. Niat untuk menahan Yola tinggal di rumah ini, sepertinya tidak akan berjalan dengan baik. Buktinya, Yola seperti ingin pergi dari rumah malam ini juga.
Mereka meninggalkan taman dengan diikuti Zaka dari belakang. Sampai di raung tamu, kakek meminta Yola untuk diam di sana.
"Kenapa aku gak ikut sekalian, Kek?" tanya Yola kebingungan.
"Biar kakek pastikan dulu, benar atau tidak. Mana tahu ini adalah jebakan? Sebaiknya, kita tetap waspada."
"Tapi .... "
"Apa yang kakek katakan itu ada benarnya, Yola. Sebaiknya, kamu tunggu saja dulu di sini. Jika memang ada yang tidak beres, maka kamu bisa lari secepat mungkin."
"Hm ... baiklah."
'Kalian kenapa bisa berpikir terlalu jauh seperti ini sih? Aku ini bukan anak raja yang setiap saat diintai oleh orang yang ingin merebut kekuasaan. Aku ini anak orang biasa. Mana mungkin ada orang yang berminat untuk mencelakai aku. Haduh ... yang benar saja.'
Zaka pun membuka pintu seperti yang kakek perintahkan. Tidak ada siapa-siapa selain seorang pemuda di sana. Pemuda yang tak lain adalah Bimo.
"Maaf tuan, aku mengganggu ketenangan kalian malam-malam begini. Bisakah aku langsung bertemu dengan nona Yola sekarang juga?"
"Maaf, anda ini siapa?" tanya kakek dengan tatapan tajam penuh selidik.
"Oh, maaf. Saya Bimo. Sopir pribadi nona Yola."
Belum sempat kakek ataupun Zaka bicara, Yola segera muncul saat mendengar nama Bimo yang laki-laki itu ucapkan. Dari awal, dia sudah menebak kalau suara itu adalah suara Bimo. Tapi, untuk menguatkan tebakannya, ia masih bertahan di ruang tamu sampai tebakannya itu terbukti benar.
"Bimo! Kamu yang datang jemput aku? Papa mama mana? Apa papa mama benar-benar pulang ke sini?"
__ADS_1