I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 63


__ADS_3

Yola menundukkan kepalanya. Karena saat ini, rasa menyesal itu masih ada walaupun ia sudah melihat senyuman Dewa kembali. Ia masih tidak bisa menghilang rasa itu walau ia sudah berusaha.


Melihat Yola murung, Dewa segera memegang tangan Yola untuk menghibur hati adiknya ini. Karena dia tidak ingin melihat wajah sedih lagi dari Yola.


"Yolan, jangan sedih begitu. Aku jadi merasa tidak enak hati. Yang salah itu aku, bukan kamu."


"Aku yang salah, kak Dewa. Jika bukan karena aku .... "


"Sudah ... jangan di bahas lagi. Kita lupakan saja sekarang."


"Benar sayang. Sebaiknya, kita lupakan semua yang telah terjadi di masa lalu. Mari buka lembaran baru mulai dari detik ini."


"Nah ... itu baru benar. Apa yang mama kamu katakan itu sangat amat tepat. Mari buka lembaran baru, dan tata kembali kehidupan kalian. Itu baru bisa jadi keluarga yang bahagia," ucap Brian sambil merangkul pundak Kania dengan penuh kemesraan.


"Kayak mama sama papa ini. Selalu bahagia saat bersama. Iya gak, Ma?" tanya Brian sambil mencubit manja hidung Kania.


"Papa." Kania terlihat malu dengan perlakuan Brian. Dia malu karena Brian tiba-tiba memperlihatkan kemesraan mereka di depan anak-anaknya.


"Papa benar. Aku selalu iri dengan kemesraan yang papa dan mama perlihatkan. Karena kalian selalu mesra dan terlihat sebagai pasangan yang sangat bahagia, meskipun sudah menjalani hidup bersama selama puluhan tahun." Dewa bicara dengan nada kagum pada papa dan mama angkatnya.


"Kalian juga bisa seperti mama dan papa. Asalkan, kalian selalu menanamkan rasa cinta pada pasangan setiap saat. Pikirkan saat-saat manis bersama dan selalu cari cara agar punya waktu bersama. Dan ... satu hal yang paling penting. Jangan pernah menutupi segala sesuatu dari pasangan kita. Saling terbuka adalah kunci utama agar kita sama-sama merasa nyaman dalam sebuah hubungan."


"Oh ya, hampir lupa, Dewa. Ada satu lagi yang hampir lupa papa katakan padamu. Sebagai laki-laki, sebaiknya kita selalu mengalah. Karena dengan kita mengalah, maka kita pasti akan menang. Contohnya ... jangan hiraukan jika mereka sedang marah. Tapi ... cari mereka ketika marahnya sudah hilang."


"Papa ... itu namanya bukan ngalah. Tapi nambah masalah tau .... " Kania kesal. Sedangkan Dewa dan Yola hanya tersenyum saja melihat tingkah Brian dan Kania.


"Dewa jangan dengarkan apa yang papa kamu katakan. Dia bukan ngajarin kamu yang benar. Eh, malah menyesatkan kamu. Jika kamu diamkan perempuan saat mereka marah, maka siap-siap kamu tidur di luar saat malam tiba."


"Oh Tuhan, pantas saja aku waktu itu tidak di hiraukan istriku tercinta. Ternyata karena aku tidak membujuknya saat dia ngambek," kata Brian pura-pura tidak tahu. Padahal sebenarnya, dia tahu dan ingat betul saat itu. Saat Kania marah, dia tidak membujuknya, lalu dia diabaikan Kania satu hari penuh.


"Kalian benar-benar luar biasa, papa, mama. Aku benar-benar salut pada kalian berdua. Jangan lupa doakan kami supaya bisa seperti kalian," ucap Dewa sambil melirik Yola.

__ADS_1


"Itu pasti, sayang. Doa kami pasti selalu menyertai kalian," ucap Kania sambil tersenyum bahagia.


"Kalian mau tahu apa harapan terbesar kami selaku orang tua, terhadap kalian berdua?"


"Apa, Pa?" tanya Yola kini baru angkat bicara.


"Papa sama mama ingin punya cucu yang banyak."


"Apa! Yang ... yang benar saja, papa .... " Yola kaget sekaligus malu. Wajahnya memerah akibat candaan yang jelas-jelas harapan yang papanya ucapkan barusan..


"Kenapa, Yolan? Kamu gak siap ya?" tanya Dewa dengan nada kecewa.


"Kak Dewa ngomong apa sih? Aku bukannya gak siap. Tapi ... ah, sebaiknya jangan di bahas sekarang. Kak Dewa masih sakit, dan sebaiknya fokus sama penyembuhan kak Dewa saja duluan."


"Kalau sudah sembuh bagaimana?"


"Aku .... "


"Em ... mama haus. Temani mama beli minun dulu, Pa." Kania berucap sambil mengkode Brian dengan matanya.


Brian yang sangat peka, tentu saja paham apa yang Kania kode kan. Ia lalu menjawab dengan cepat.


"Oh ... oke. Ayo kita keluar sekarang!"


Keduanya bergegas keluar tampa pamit secara langsung dengan Yola dan Dewa. Mereka sengaja melakukan hal itu untuk memberikan waktu berdua pada kedua anak mereka.


Wajah Yola semakin memerah akibat menahan malu. Ia tahu kalau mamanya berbohong dengan alasan haus. Tapi, mungkin itu lebih baik baginya. Ditinggalkan berdua saja di kamar itu dengan suami yang ia cintai.


"Yolan ... ada yang ingin aku tanyakan padamu sekarang. Tolong jawab dengan jujur, ya."


"Mau ... mau tanya apa kak Dewa? Tanyakan saja. Aku akan jawab jika aku punya jawabannya."

__ADS_1


"Apakah kamu sudah siap menjadi istriku sekarang? Aku ingin tahu, hal itu dengan mendengar jawaban langsung dari mulutmu, Yolan."


Yola menunduk dengan raut wajah bahagia yang sulit untuk ia sembunyikan. Ia tersenyum bahagia dengan wajah yang tertunduk. Namun, Dewa masih bisa melihat senyuman bahagia nan manis itu dengan jelas.


"Kamu .... "


"Sepertinya ... kak Dewa tidak membutuhkan jawaban aku lagi. Karena sebenarnya, kak Dewa pasti sudah tahu apa jawaban yang aku punya untuk pertanyaan yang kak Dewa tanyakan itu."


Dewa tersenyum bahagia.


"Aku tahu. Hanya saja, aku ingin mendengarnya secara langsung dari bibirmu yang indah itu."


"Tentu saja ... tentu ... aku ... se--setuju."


Sebenarnya, itu tidak sulit untuk diucapkan. Tapi, dengan jantung yang berdegup kencang, ucapan itu terasa sangat sulit untuk Yola lepaskan dari bibirnya.


Dengan jawaban yang penuh keyakinan itu, Dewa berusaha ingin bangun dari baringnya.


Meskipun itu terasa sedikit sulit, karena tubuhnya masih dalam keadaan sakit walau ia merasa sudah baik-baik saja setelah tidur panjang selama tiga bulan.


"Kak Dewa ... mau apa?" tanya Yola sedikit cemas.


"Aku ingin bangun agar bisa memeluk tubuhmu. Sudah lama aku tidak bisa melakukan hal itu, di tambah .... "


"Lupakan. Jangan bangun, kak. Biar aku saja yang datang untuk memeluk tubuh kakak."


Yola langsung mendekat untuk mendekap hangat tubuh Dewa yang masih terbaring lemah. Dewa segera membalas pelukan hangat itu dengan pelukan yang sama. Tidak bisa mereka pungkiri, kalau saat ini, mereka benar-benar sangat bahagia.


"Jangan pergi lagi, Yolan. Karena aku tidak bisa hidup tanpa kamu lagi sekarang," ucap Dewa lirih.


"Tidak akan, kak Dewa. Aku tidak akan pergi jika bukan kak Dewa yang menginginkan aku pergi."

__ADS_1


"Tidak akan pernah aku izinkan kamu pergi lagi dari aku. Ingat itu," ucap Dewa kini mencium lembut pipi Yola.


__ADS_2