
Leo langsung menjelaskan keadaan Dewa saat ini. "Kondisi pasien sangat-sangat mengkhawatirkan. Dia kritis. Benturan keras di kepalanya membuat dia ... mungkin, jika pun dia bisa melewati masa kritis ini, dia akan koma dalam kurun waktu yang lama."
Penjelasan singkat dan padat itu membuat Kania kembali lemas tidak berdaya. Ia kembali tumbang. Untungnya, Brian cepat menahan dengan bahu, jika tidak, Kania sudah pasti jatuh ke lantai.
Sementara Yola, kini dia juga mengalami hal yang sama dengan yang mamanya alami. Untungnya, ada Zaka yang menjadi bahu pelindung agar Yola tidak jatuh ke lantai.
Sebenarnya, ada dokter Leo dan Zaka yang ingin saling menjadi pangeran penolong. Hanya saja, dokter Leo kalah cepat dari Zaka. Ia keduluan Zaka memberikan bahu pelindung buat sang putri.
Dengan persetujuan Brian dan Kania, Dewa akan dipindahkan ke rumah sakit Media Farma. Namun ... suasana panik itu mendadak membingungkan, ketika salah satu dokter yang bertugas mengatakan, perempuan yang kecelakaan bersama Dewa telah sadar sekarang.
"Dokter Leo, perempuan itu sudah sadar. Dia sudah siuman."
"Perempuan?" tanya Yola sambil menoleh ke arah Leo.
"Ya ... itu .... "
"Dokter Leo. Katakan! Siapa perempuan yang ada bersama Dewa saat kecelakaan itu terjadi." Kania mendadak emosi sekarang.
"Sabar, Ma. Sabar. Jangan emosi dulu. Mungkin ada penumpang lain yang ikut menjadi korban."
"Bagaimana aku bisa sabar, Pa? Awalnya, Dewa ada bersama kita. Lalu, tiba-tiba, kabar kecelakaan yang kita dapat. Sekarang, ada perempuan lain yang ikut kecelakaan bersama Dewa. Bagaimana aku bisa menerima dan memikirkan semua ini. Sebenarnya, apa yang telah terjadi sih di sini?"
"Ada baiknya kita langsung melihat perempuan itu, dan menanyakan, apa hubungan dia dengan Dewa dan kenapa dia bisa kecelakaan bersama Dewa."
"Tuan Brian benar. Sebaiknya, kita lihat langsung dan minta penjelasan. Mungkin, itu akan jadi titik terang dari permasalahan yang sedang kita hadapi sekarang," ucap Zaka ikut menjadi penengah sekarang.
Tidak ingin membuang waktu lagi, mereka langsung beranjak menuju kamar di mana Hanas berada. Saat mereka tiba, rasa tak percaya dan juga kaget segera menghampiri mereka.
__ADS_1
"Ha--Hanas?" Yola berucap dengan nada tak percaya.
Hanas langsung menoleh saat mendengar suara orang dari arah pintu. Lalu, dia tersenyum menyeringai pada keluarga Aditama yang semuanya fokus melihat dia yang masih duduk di atas ranjang.
"Kamu!" Kania tidak bisa menahan diri lagi. Ia segera menghampiri Hanas dengan semua emosi yang siap meledak.
"Sayang." Brian ingin mencegah, namun terhalang oleh Zaka yang menahan tangannya.
"Kamu perempuan *******!" Kania berteriak sambil menarik rambut Hanas dengan kuat.
"Aggh .... " Hanas merintih sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Kania.
"Aku pernah kehilangan orang yang aku cintai. Sekarang, aku tidak akan membiarkan anakku merasakan hal yang sama. Kamu tidak akan aku biarkan hidup sekarang."
"Lepaskan! Aku benci kalian! Aku benci keluarga Aditama yang jahat! Aku benci .... !
"Papa apa-apaan sih! Lepaskan aku! Biar aku bunuh sekalian perempuan ******* ini."
"Bunuh saja aku kalau kamu bisa! Lagipula, jika aku mati sekarang, aku juga sudah merasa puas. Karena sekarang, aku sudah berhasil membalaskan dendam ku pada keluarga kalian. Ha ... ha ... ha .... "
"Ya ... aku sudah berhasil membalaskan dendam ini. Terutama pada kamu, Yolanda. Aku sudah membuat kamu menjanda dengan membunuh Dewa. Karena tidak ada yang boleh memiliki Dewa selain aku. Tidak ada!"
"Hiks ... hiks ... dari pada aku melihat Dewa bersama orang lain. Lebih baik aku bawa dia mati bersamaku. Tapi sayangnya, aku tidak mati bersama Dewa. Aku ingin mati bersamanya, Tuhan .... " Sekarang, Hanas malah menangis tersedu-sedu.
"Tapi ... ini bukan salahku. Ini ... ini salah cinta. Ya, salah cinta. Karena aku mencintai kak Dewa dengan sepenuh hati. Tapi, kak Dewa malah mencintai adik angkatnya. Tidak! Aku tidak terima ini. Dia tidak boleh mencintai orang lain selain aku. Tuhan .... "
"Benar-benar, kalau begitu, aku bunuh saja adik angkatnya biar dia tidak bisa memiliki kak Dewa. Sama seperti yang aku lakukan pada Sulis saat itu. Tapi ... tidak-tidak. Adik angkatnya bukan tandingan ku. Kak Dewa juga akan selalu menjaga adiknya. Tidak! Hiks ... hiks-hiks ... tidak mungkin."
__ADS_1
"Kak Dewa sangat jahat padaku .... Aku benci kamu yang malah memilih dia dari padaku. Kamu tidak ingin bersama aku. Sampai mati pun, kamu tetap saja tidak ingin bersama aku .... "
"Kamu gila perempuan ******! Sungguh sudah gila!"
Hanas sama sekali tidak bergeming. Ia malahan sibuk bicara sendiri soal ia mencintai Dewa dan Dewa malah mencintai Yola. Tanpa sadar, ia mengatakan semua kebenaran itu di depan Yola. Yang membuat Yola tidak bisa menahan air mata akibat rasa menyesal menghantuinya.
"Ini semua salah keluarga Aditama! .... Mereka malah mengambil Dewa ku dari aku. Aku benci keluarga Aditama. Rasakan lah kalian keluarga Aditama. Sekarang aku sudah bikin perhitungan pada kalian. Aku telah mengambil Dewa ku kembali. Aku yakin, kalian pasti akan sangat kehilangan, bukan? Ha ... ha ... ha .... "
"Lepaskan aku, Pa! Aku akan membunuh dia sekarang juga!" kata Kania dengan berapi-api sambil berusaha lepas dari pelukan Brian.
"Sabar, Ma. Apa mama gak lihat bagaimana keadaannya. Dia sakit, Ma. Mungkin juga, saat ini dia sedang dapat gangguan jiwa."
"Biar, Pa. Biar aku bunuh saja sekalian dia. Biar dia tidak aku lihat lagi sampai kapanpun."
"Tenang tante. Sebaiknya kita serahkan dia ke jalur hukum saja. Lagipula, dia sudah tidak berdaya lagi sekarang. Dokter Leo tadi sempat ngomong padaku, kalau Hanas selamanya tidak akan bisa berjalan lagi. Dia sudah lumpuh total. Dan kakinya ... kakinya sudah tidak ada."
"Apa maksud kak Zaka? Kakinya .... " Yola baru sadar kalau ia tidak melihat adanya kaki di sana.
"Kakinya sudah di amputasi, La. Karena terjepit dan remuk, tidak bisa jika tidak di buang."
"Ya Tuhan .... "
"Biarkan! Itu adalah hukuman yang pantas buat penjahat seperti dia."
Saat itu pula, tiba-tiba, dokter Leo masuk ke kamar tersebut.
"Maaf semuanya, aku harus bilang kalau kita sebaiknya segera meninggalkan rumah sakit ini. Karena, kondisi pasien yang semakin memburuk dan kita harus segera menanganinya di rumah sakit dengan peralatan lengkap. Jika tidak .... "
__ADS_1