I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 18


__ADS_3

Dewa, Yola, dan Bu Erni meninggalkan ruangan tersebut setelah Hanas menyerahkan obat ke tangan Dewa. Sementara Hanas sendiri, diam di kamar itu sambil menatap kepergian mereka dengan perasaan bahagia.


"Semoga kamu tidak pernah datang ke rumah sakit ini lagi, nona Yola yang menyebalkan. Karena aku, sungguh tidak ingin melihat wajah kamu lagi."


____


Langkah Yola terhenti ketika mereka melewati tempat administrasi. Seorang pemuda sedang menarik perhatian Yola di sana. Pemuda yang sepertinya pernah ia temui sebelumnya sedang berbicara dengan staf bagian administrasi dengan wajah memelas dan suara mengiba.


Pemuda itu sedang memohon-mohon pada seorang staf yang berjaga di sana. Dengan wajah yang sangat memelas dan penuh dengan harapan. Tapi, si penjaga itu tetap menggelengkan kepala dan bahkan mengabaikan si pemuda.


Hati Yola terhiris melihat hal itu. Nuraninya merasa terpanggil ketika melihat orang yang begitu mengharapkan, malah diabaikan oleh orang yang sedang berkuasa.


Yola pun mengalihkan langkahnya. Berjalan cepat menuju staf administrasi dengan perasaan marah.


"Mbak ini kok tega banget sih?! Kenapa mbak malah mengabaikan orang yang sangat mengharapkan belas kasihan dan pertolongan dari mbak, hah!"


Yola membentak staf itu dengan nada tinggi. Ia benar-benar sudah terbakar api kemarahan sekarang. Sementara pemuda yang berada di samping, hanya diam dengan wajah tertunduk putus asa.


Mendengar suara Yola yang berteriak, Dewa segera memalingkan wajah ke arah asal suara. Ia tidak menyadari kalau adik angkatnya itu entah sejak kapan berpisah darinya. Yang ia ingat, Yola tadi masih berada di sampingnya, berjalan dengan langkah pelan mengikuti langkah besarnya.


Bu Erni yang berjalan duluan, juga terpaksa menghentikan langkah kakinya ketika mendengar suara Yola. Ia pun saling tatap untuk sesaat dengan Dewa saat melihat Yola yang marah-marah pada staf administrasi tak jauh dari mereka.


"Maaf adek. Semua ini adalah prosedur rumah sakit. Bukan kemauan saya untuk tidak mau memberikan pertolongan pada mas ini. Mas ini juga tidak paham-paham dengan apa yang saya sampaikan. Makanya, saya mengabaikan mas ini." Staf itu menjelaskan panjang lebar pada Yola.


"Yolan, ini ada apa sih sebenarnya? Kenapa kamu malah marah-marah di sini? Bukannya kita mau pulang?"


"Kak Dewa, ini rumah sakit gimana sih? Kenapa malah mempersulit orang yang lagi membutuhkan pertolongan, hah?"


"Mbak, tolong jelaskan pada saya ada apa sebenarnya?" tanya Dewa pada staf itu dengan sopan.


Staf itu langsung mengatakan detail puncak permasalahan yang sebenarnya. Pemuda yang sedang berada di samping Yola saat ini, sedang memohon agar mamanya yang sedang sakit bisa dirawat di rumah sakit ini dan menerima perawatan yang seharusnya. Tapi, dia tidak punya uang untuk membayar administrasi untuk biaya perawatan mamanya itu.


Makanya, staf itu mengabaikan si pemuda. Karena si pemuda masih tidak bisa membayar uang muka dari biaya perawatan yang sudah satu minggu lamanya ia tangguh.


Mendengar penjelasan si staf, Yola semakin naik darah. Rasa kesal semakin menguasai hatinya.


"Kenapa hanya karena uang, kalian mengabaikan nyawa orang lain? Apa nyawa orang tidak ada harganya?"


"Itu sudah prosedur rumah sakit, Adek. Tidak bisa kita ganggu gugat. Karena saya di sini, juga bekerja mencari uang. Saya tidak punya wewenang untuk memutuskan selain mengikuti prosedur yang ada."

__ADS_1


"Yolan, apa yang dia katakan itu benar. Dia hanya bekerja. Tidak punya wewenang untuk memutuskan sesuatu di luar dari prosedur."


"Kalau begitu, kak Dewa, aku ingin rumah sakit ini."


"Apa! Apa yang kamu katakan barusan?" tanya Dewa agak kaget.


"Aku ingin kakak membeli rumah sakit ini untukku."


"Yolan, jangan macam-macam. Masih banyak hal lain yang bisa kamu urus."


"Jika kak Dewa tidak bisa membelinya untuk aku. Maka aku akan minta papa membelinya." Yola berucap dengan nada serius.


Dewa tidak bisa berkata apa-apa selain mengikuti apa yang adik angkatnya inginkan. Jika Yola sudah berucap dengan nada serius, itu tandanya, dia benar-benar menginginkan hal tersebut.


Dewa menarik napa panjang, kemudian melepasnya dengan kasar. "Baiklah, aku akan minta om Johan mengurusnya nanti."


"Aku ingin sekarang, kak Dewa. Jangan nanti."


"Yolan .... "


"Kak, aku ingin sekarang."


Dewa langsung mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. Kemudian, segera menghubungi Johan yang masih berada di kantor.


"Halo tuan muda."


"Halo, om. Aku punya tugas untuk segera om lakukan, sekarang juga."


"Tugas apa, tuan muda? Sepertinya, sangat mendesak."


"Yolan ingin membeli rumah sakit Media Farma. Dia ingin rumah sakit ini sekarang juga. Aku minta om melakukan apa yang Yolan inginkan. Beli rumah sakit ini sekarang juga, Om."


"Apa? Ingin beli rumah sakit?"


"Iya, Om. Tolong, lakukan segera."


"Tunggu! Rumah sakit apa yang nona kecil inginkan?"


"Media Farma, Om."

__ADS_1


"Media Farma di jalan Kelinci, tuan muda?"


"Betul, Om."


"Itu rumah sakit tidak perlu dibeli lagi, tuan muda. Karena rumah sakit itu memang milik keluarga Aditama. Tuan besar Davidson yang punya."


"Apa! Ini rumah sakit punya, Opa?"


"Iya, tuan muda. Saya sudah pernah melihat dan mengurus data rumah sakit itu beberapa tahun yang lalu. Jadi, itu memang benar milik keluarga Aditama."


"Baguslah kalau begitu. Itu akan lebih mudah lagi. Ya sudah, terima kasih banyak om. Aku tutup dulu."


"Baik tuan muda. Sama-sama."


Panggilan pun terputus. Dewa menoleh ke arah Yola yang sedang menanti penjelasan atas kata-kata opa yang ia ucapkan barusan.


"Kak Dewa."


"Yolan. Aku tidak perlu membeli rumah sakit ini lagi untukmu. Karena rumah sakit ini sudah menjadi milik keluarga Aditama. Ini milik opa David."


"Apa? Rumah sakit ini milik opa?"


"Iya." Dewa berucap sambil menganggukkan kepalanya.


"Awas saja opa itu ya. Nanti aku akan bicara dengan opa."


"Mbak, rumah sakit ini punya keluarga Aditama. Aku adalah putri keluarga Aditama itu. Aku minta padamu, bebaskan dia dari administrasi yang menjadi penghalangan perawatan mamanya. Lakukan sekarang juga!"


"Tapi dek .... "


"Apa kurang jelas kata-kata yang aku ucapkan barusan? Apa aku harus menghubungi pemilik rumah sakit yang tak lain adalah opa ku itu, agar mbak percaya? Lalu, mbak akan dipecat dari rumah sakit ini."


Mendengar kata-kata yang bernada ancaman yang Yola ucapkan, staf itu merasa sangat takut. Ia tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang Yola inginkan.


"Ba--baiklah. Tunggu sebentar!" ucap staf itu sambil beranjak dari tempatnya.


Dewa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Yola. Ia tak habis pikir dengan adik angkatnya ini.


"Sudah. Semuanya sudah saya selesaikan. Ini berkas-berkasnya. Mama kamu sudah bisa di rawat lagi di sini," ucap staf itu sambil menyerahkan map ke tangan pemuda tersebut.

__ADS_1


__ADS_2