I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 67


__ADS_3

Sampai di taman, Zaka tidak meminta Sisil duduk atau mencarikan tempat duduk buat mereka. Namun, langsung memaksa Sisil untuk bicara agar Sisil tidak benar-benar menghabiskan waktunya selama sepuluh menit.


"Mau bicara apa? Katakanlah!"


"Kamu masih marah padaku, Zaka?"


"Tidak. Jika aku marah, maka aku tidak akan mau bicara denganmu saat ini."


"Lalu, kenapa kamu masih bersikap dingin padaku sekarang?"


"Karena aku sibuk dan banyak kerjaan yang harus aku selesaikan."


"Cepat bicara atau aku tidak bisa menunggu lagi nantinya."


"Baiklah. Aku akan bicara. Aku hanya ingin bilang satu hal padamu. Ini tentang perasaanku padamu. Perasaan cinta yang aku miliki."


"Apa! Perasaan cinta?" Zaka terlihat kaget bukan kepalang.


Dia tidak menyangka kalau Sisil akan benar-benar menyatakan cinta padanya. Meskipun kemarin dia sudah tahu, kalau Sisil suka padanya ketika Sisil marah-marah karena menemukan gelang wanita di mobil. Tapi, soal Sisil menyatakan cinta, itu sama sekali tidak pernah sedikitpun muncul dalam benaknya.


Sisil menundukkan kepalanya. Dengan wajah malu ia mengangguk pelan.


"Ya, aku suka padamu sudah sejak lama, Zaka. Hanya saja, kamu tidak pernah peka pada apa yang aku rasakan. Kamu seakan tidak pernah menanggapi apa yang aku tunjukkan padamu."


"Zaka, aku suka padamu. Aku tidak peduli apa yang kamu pikirkan tentang aku. Karena aku, tidak bisa memendam rasa ini untuk menunggu sampai kamu menyatakan cinta padaku."


"Tapi ... jangan salah sangka. Aku tidak memaksa kamu untuk menerima aku kok, Zaka. Aku hanya berusaha membuat hatiku tenang dengan mengungkapkan apa yang ada dalam hati ini. Jika kamu tidak suka padaku, maka aku akan mundur dengan sendirinya tanpa harus kamu paksa."


"Sisil. Apa kamu tahu apa yang baru saja kamu katakan itu?"


"Tentu saja aku tahu, Zaka. Karena aku tahu, kalau kamu mungkin tidak akan bicara soal cinta padaku sedikitpun."


"Bukan itu yang aku maksudkan, Sil. Aku tanya soal, apakah kamu tahu siapa aku? Jarak antara aku dan kamu bagai langit dan bumi, Sisil. Kita berasal dari keluarga yang berbeda kasta. Aku kasta rakyat jelata, sedangkan kamu .... "

__ADS_1


"Cukup, Zaka. Tidak perlu bawa soal kasta atau harta atau apalah itu. Yang jelas, jika kamu tidak suka, cukup bilang tidak. Lalu, jika kamu suka, cukup bilang iya. Karena satu hal yang perlu kamu ketahui adalah, mencintai itu bukan soal harta, tapi soal hati."


"Sisil .... "


'Tidak! Mungkin aku juga harus melakukan hal yang sama dengan yang dokter Leo lakukan. Menerima orang lain untuk melupakan orang yang ada dalam hati kita sekarang. Ya, itu adalah pilihan terbaik,' ucap Zaka dalam hati sambil termenung.


"Zaka. Hei ... aku masih bicara padamu. Kenapa kamu malah diam dan termenung, hah?"


"Maaf. Aku sedang memikirkan sesuatu."


"Apa?"


"Apa papamu tidak akan menentang hubungan kita?" tanya Zaka hati-hati.


"Tentu saja ... tidak. Aku tahu betul dan sangat yakin, kalau papa itu sangat suka padamu. Jadi, mana mungkin dia akan menentang hubungan aku dengan kamu."


"Baiklah kalau begitu. Mungkin kita akan mencoba dekat terlebih dahulu."


"Mencoba dekat seperti apa maksudmu? Apakah sebagai pacar?" tanya Sisil mencari keyakinan dari kata-kata yang Zaka ucapkan barusan.


"Benarkah, Zaka?" tanya Sisil berbinar-binar.


"Tentu saja."


Sisil menghambur ke dalam pelukan Zaka dengan perasaan sangat bahagia. Meskipun sebenarnya, ada ucapan Zaka yang mengganjal di hatinya barusan. Namun, ia singkirkan perasaan itu karena hatinya sangat bahagia sekarang.


'Maafkan aku, Sisil. Bukan aku ingin menjadikan kamu sebagai tempat pelarian ku. Hanya saja, mungkin dengan menerima kamu sebagai pacarku sekarang, aku akan membuat hati ini melupakan orang yang sesungguhnya benar-benar aku cintai tapi aku tidak bisa memilikinya. Dan juga, aku bisa membuat kamu bahagia dengan jawaban yang aku berikan. Semoga aku bisa belajar benar-benar mencintaimu kelak.'


'Zaka. Aku tahu kamu tidak mencintaiku sekarang. Karena barusan, kamu bilang ingin belajar mencintai aku dengan hubungan pacaran. Tapi, aku tetap bahagia dengan hal ini. Meski kamu tidak benar-benar mencintai aku sekarang, dengan memiliki kamu aku sudah bisa bahagia.'


_____


"Yolan, mulai saat ini, kita akan tinggal satu kamar saja. Bagaimana?" tanya Dewa saat mereka selesai makan dan ingin beranjak menuju kamar masing-masing.

__ADS_1


"Sa--satu kamar? Kak Dewa yakin?"


"Tentu saja yakin, Yolan? Bukankah kamu dan aku itu suami istri? Sudah sewajarnya suami istri tidur di kamar yang sama, bukan?"


Yola hanya mengangguk pelan. Wajahnya bersemu malu sekarang. Ternyata, apa yang ia rasakan saat ini bukan hanya khayalan saja. Namun, benar-benar kenyataan.


"Ayo!"


"Ke mana?" tanya Yola kebingungan.


"Ke kamar."


"Ke--ke kamar? Tapi .... "


"Yolan, ini masih siang. Jangan berpikir yang tidak-tidak, oke. Aku meminta kamu ke kamar bukan untuk ngapa-ngapain, hanya minta dioleskan krim saja."


"Tapi ... jika ngapa-ngapain juga bukan masalah besar, kan? Toh, kamu istri sah aku."


Dewa malah semakin menggoda Yola, yang membuat Yola semakin merona dengan wajah merah bak udang yang baru saja di rebus. Jantungnya berdetak kencang, tubuhnya membeku sampai tidak bisa ia gerakkan.


Tidak benar jika dia tidak berpikiran yang bukan-bukan. Karena dia wanita normal. Berpikiran soal hubungan itu wajar saat Dewa mengatakan mengajak dia ke kamar.


"Yolan .... " Dewa kembali memanggil Yola yang hanya terdiam tanpa beranjak sedikitpun.


"Yolan, ya ampun. Kenapa melamun?"


"Eh ... ti--tidak ada. Aku ... aku tidak melamun, kak Dewa. Hanya ... hanya .... "


"Hanya apa? Hanya termenung memikirkan apa yang aku katakan?'


"Tenang saja, Yolan. Semua yang kamu pikirkan tidak akan terjadi sekarang. Karena aku masih belum pulih. Untuk sekarang, kamu aman."


"Kak Dewa ngomong apa sih? Ih, bikin kesal aja. Kamu kak Dewa aku atau bukan sih, hah?" Yola berusaha memperlihatkan perasaan kesal agar rasa malunya bisa ia tutupi. Padahal sebenarnya, ia tidak kesal sama sekali. Malahan, ia sangat bahagia saat ini.

__ADS_1


"Aku bukan lagi kak Dewa kamu yang dulu, Yolan. Karena sekarang, aku adalah suami kamu. Suami yang akan menjadi pendamping kamu untuk selamanya."


Wajah Yola kembali memerah sangking bahagianya karena kata-kata yang Dewa ucapkan barusan. Sangking bahagianya dia, sampai tidak bisa bicara sepatah katapun untuk membalas ucapan Dewa barusan.


__ADS_2