I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 13


__ADS_3

Sadar kalau Yola sedang memperhatikan wajahnya, Dewa segera bangun dan menjauh.


"Memar di dahi mu sudah aku obati. Jangan ceroboh lagi lain kali," ucap Dewa sambil beranjak.


Merasa kalau dia akan ditinggalkan oleh Dewa,


Yola segera menahan niat itu dengan memegang tangan kakak angkatnya.


"Kak Dewa mau ke mana?"


"Aku mau ke kamar tamu."


"Lho, ngapain kak Dewa ke sana?"


"Mandi juga istirahat. Aku lelah sekali soalnya."


"Kenapa harus ke kamar tamu jika ingin mandi dan istirahat, kak Dewa? Bukankah ini kamar kak Dewa? Kakak .... "


"Ada kamu di sini. Bagaimana bisa aku mandi dan istirahat di kamar ini?" tanya Dewa memotong ucapan Yola dengan cepat.


Yola tertunduk dengan wajah sedih.


"Kak Dewa keberatan jika aku ada di kamar ini? Aku minta maaf karena sudah menyusahkan kakak."


"Tidak-tidak. Bukan itu maksudku, Yolan. Aku tidak mungkin mandi dan istirahat di kamar ini. Karena itu akan mengganggu kamu. Kamu harus istirahat dengan baik agar segera sembuh."


"Kak Dewa. Ada yang ingin aku tanyakan," ucap Yola sambil mengangkat wajahnya.


"Apa? Katakan saja apa yang ingin kamu tanyaka, Yolan."


"Bisakah kakak duduk dulu sebentar di sini?"


Dewa mengikuti apa yang Yola katakan. Ia langsung menarik kursi kecil yang berada tak jauh dari ranjangnya. Lalu, duduk di atas kursi tersebut dengan posisi menghadap Yola.


Yola menarik napas panjang saat melihat hal itu. Hatinya kesal, sedih, dan kecewa. Ingin rasanya ia marah. Tapi pada siapa? Pada Dewa? Kan tidak mungkin.


"Kak Dewa segitunya menjaga jarak dari aku, kak. Kenapa? Apa segitunya kakak gak suka sama aku?"

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan, Yolanda? Siapa yang tidak suka padamu?"


"Kak Dewa, tidak suka padaku."


"Siapa bilang?"


"Memang tidak ada yang bilang. Tapi, aku bisa merasakan hal itu. Aku bisa merasakannya dari cara kakak memperlakukan aku. Kakak sepertinya sangat keberatan dengan pernikahan ini. Iyakan, kak?"


Dewa bangun dari duduknya. Ia mengangkat wajah melihat langit-langit. Lalu, mengusap wajah itu dengan kasar.


"Yolan. Sejujurnya, aku sungguh tidak menginginkan pernikahan ini terjadi. Tapi aku sungguh tidak bisa menolaknya. Jika saja aku bisa, maka aku tidak akan mau menikah denganmu."


Kata-kata yang sungguh menyakitkan buat Yola. Bagai ribuan sayatan menyayat hati. Dewa benar-benar mengatakan tidak ingin menikah dengannya secara langsung. Dewa benar-benar tidak memikirkan perasaan Yola sekarang.


Air mata tidak bisa ia bendung lagi sekarang. Rasa sakit itu sungguh nyata.


"Kenapa, kak? Kenapa kakak tidak ingin menikah dengan aku? Apa karena kakak sudah punya pacar? Atau .... "


"Kamu adikku, Yolan. Bukan karena aku sudah punya pacar atau belum. Tapi, karena kamu adalah adikku. Meskipun adik angkat yang tidak ada hubungan darah. Tapi bagaimanapun, aku melihat kamu besar. Sepuluh tahun bersama. Hati ini tidak bisa mengubah perasaan itu."


"Yolan. Jangan paksa aku untuk mengubah apa yang tidak bisa aku ubah. Meskipun kamu telah menjauh dari aku untuk waktu yang lama. Tapi tetap saja, dalam hatiku sudah tertanam kasih sayang untuk kamu sebagai adikku. Karena selamanya, perasaan itu akan tetap sama. Kamu adikku, maka selamanya kamu akan tetap menjadi adikku."


"Bagaimana kalau aku punya perasaan yang berbeda? Aku menyayangi kamu bukan sekedar kakakku, kak Dewa. Melainkan, sebagai pasangan."


"Tidak! Kamu tidak boleh memiliki perasaan itu padaku. Karena aku tidak akan membalasnya."


Dewa berniat meninggalkan Yola setelah berkata demikian. Namun, perasaan kesal menyelubungi hati Yola. Ia tidak rela kalau Dewa melarangnya untuk mencintai.


"Tunggu kak Dewa!" Yola menahan Dewa yang ingin meninggalkan kamar tersebut.


"Aku akan buat kak Dewa jatuh cinta padaku. Bagaimanapun caranya. Karena aku mencintai kak Dewa dengan setulus hatiku."


"Aku mencintai kamu sebagai kekasih, kakak."


'Maaf Yolan. Aku tidak akan pernah bisa membalas rasa cintai itu sampai kapanpun. Karena selamanya, kamu akan tetap menjadi adikku. Meskipun kita sudah menikah, tapi pernikahan ini hanya sekedar wasiat saja.' Dewa berucap dalam hati. Kemudian, langsung melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Yola di kamar itu.


Yola menyeka air mata setelah kepergian Dewa. Rasa sakit itu masih terasa. Tapi, ia tidak ingin menangis lagi sekarang. Karena Yola tahu, tangisan tidak akan mengubah perasaan Dewa padanya.

__ADS_1


"Aku janji, aku akan buat kak Dewa jatuh cinta padaku. Bagaimana pun caranya," kata Yola pada dirinya sendiri.


Setelah perdebatan tadi sore, Dewa sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya pada Yola. Ia juga tidak keluar dari kamar tamu bahkan saat waktu makan malam tiba.


Bukan ia tidak perduli dengan keadaan adik angkatnya. Hanya saja, ia sedang berusaha menenangkan hatinya yang sedang berkecamuk antara kesal, sedih, dan benci.


Ia kesal akan kata-kata yang Yola ucapkan tadi sore. Benci dengan perasaannya sendiri. Sedih karena telah melukai dan membuat adik angkatnya sedih dan kecewa.


"Maaf Yola. Kamu adikku. Aku tidak bisa membohongi perasaan ini, apalagi mengubahnya," ucap Dewa saat benaknya terus menerus mengingat kata-kata yang Yola ucapkan.


Ia menghubungi bu Erni untuk melihat dan menemani Yola yang sedang terluka di kamarnya. Karena sekarang, ia masih belum sanggup untuk berhadapan langsung dengan Yola.


"Apa tuan muda? Nona Yola terluka?"


"Cuma memar saja, bu Erni. Mungkin sudah baikan sekarang. Tapi, sebaiknya ibu temani dia. Dia ada di kamarku," ucap Dewa dengan nada cuek namun penuh dengan perhatian.


"Di kamar tuan muda?" tanya Bu Erni dengan nada penggoda.


"Iya. Dia di kamarku. Karena jatuhnya di kamarku, maka dia ada di sana sekarang. Aku tidak mungkin membawa dia ke kamarnya. Karena dia terlalu manja."


"Terlalu manja? Maksud tuan muda?"


"Ya Tuhan ... bisakah bu Erni langsung pergi ke kamarku untuk melihat dia? Aku lelah. Ingin istirahat sekarang," ucap Dewa sambil memutuskan sambungan teleponnya.


"Tu .... " Baru juga Bu Erni ingin bertanya. Sambungan telpon itu langsung terputus saja.


"Yah ... kebiasaannya tuan muda Dewa. Ini nih," ucap Bu Erni ngomel tapi langsung menjalankan perintah.


Yola sedang melihat bingkai foto Dewa bersama seorang gadis saat pintu diketuk oleh bu Erni dari luar. Mengira itu adalah Dewa, Yola segera meletakkan bingkai foto tersebut ke tempatnya semula.


"Masuk saja! Pintunya kan tidak di kunci," ucap Yola penuh semangat.


"Maaf nona kecil, ini ibu. Bu Erni," ucap bu Erni dari luar sambil membuka pintu.


"Bu Erni? Oh .... " Suara Yola tiba-tiba melemah.


Bu Erni yang tahu kalau Yola sedang menantikan Dewa, ia tersenyum sambil berjalan masuk ke dalam kamar tersebut. Senyuman yang penuh dengan godaan ia perlihatkan pada Yola saat ini.

__ADS_1


__ADS_2