
Netra merasa kikuk saat Eric membukakan pintu mobil untuknya. Di perjalanan pun tak ada yang membuka suara. Ia menyesal kenapa mengiyakan begitu saja saat Anne meminta untuk semobil saat ke rumah sakit.
"Netra!" Suara itu menarik perhatian.
"Ya."
"Apa kamu sudah makan? Kita bisa mampir ke restoran kalau kamu belum makan."
"Sudah. Saya sudah makan. Tidak perlu repot-repot." Hening setelah kalimat itu. Netra mengedarkan pandangan ke sekitar jalan yang dilalui. Sementara Eric, fokus dengan kemudi.
"Netra."
"Ya."
"Terimakasih sudah mau datang menemui Asoka. Semoga dengan kedatanganmu dia cepat sadar."
"Tidak masalah, Kak Asoka pasti cepat sembuh, dia lelaki yang kuat, Paman dan Bibi pasti tahu itu."
"Iya. Dia kuat. Asoka anak yang kuat." Tapi lebih kuat dirimu. Eric menelan ludah. Andai lanjutan kalimat itu bisa disuarakan.
Eric melirik Netra. Di hatinya sudah menggunung kata-kata. Tapi entah dari mana yang mau dia ungkap terlebih dahulu.
Maaf? Apakah kata itu masih berguna? Pikiran Eric lalu melayang jauh ke masa lalu, masa di mana ia bertemu Fathia. Gadis pemanah yang sangat jitu. Ia tak sengaja melihatnya saat berkunjung ke Singapura untuk sebuah pertemuan.
Di sebuah hotel yang di dalamnya terdapat fasilitas olah raga luar ruangan. Fathia sedang berlatih di sana. Lesatan anak panahnya tepat, teman-temannya bersorak senang. Fathia pun tertawa. Begitu renyah hingga menarik perhatian Eric yang baru saja keluar dari ruang meeting. Mata keduanya beradu beberapa saat. Ada pancar berbeda. Fathia memutus tatapan itu dengan tertunduk malu, sementara Eric menerjemahkan lain. Dia menyimpulkan jika dari tatapan mata itu, ada benih cinta yang tumbuh.
Hubungan mereka berlanjut serius. Bertukar informasi melalui email. Eric memberikannya sebelum kembali ke tanah air.
Komunikasi intens mereka membuat Eric kembali lagi ke negeri singa dalam kurun waktu enam bulan. Menemui Fathia dan akhirnya sepakat menikah. Cinta memang tak hanya membuat buta. Tapi juga lupa. Eric mantap menikahi Fathia meskipun dia juga baru saja menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Waktu memang selalu patuh mengawal apa yang sudah jadi kehendak. Serapat-rapatnya Eric menyembunyikan pernikahan dengan Fathia, keluarga besar akhirnya tahu juga. Yuanita pun datang memberi pilihan untuk memilih antara dirinya dan Fathia.
Fathia yang kala itu baru saja melahirkan, harus menelan pil pahit kehidupan. Eric menceraikannya. Ia memberi Fathia uang, tapi dengan syarat meninggalkan bayi mereka untuk diasuh keluarga besar Laksama.
Dalam kesepakatan itu, Fathia diberi waktu 2 hari untuk bersama bayi perempuan mereka. Setelah itu, Eric akan datang mengambilnya. Namun sebelum hari itu tiba, Fathia sudah pergi membawa bayi mereka. Dia menentukan waktunya sendiri.
__ADS_1
* * *
"Paman, Paman! Kenapa tidak jalan? Itu lampunya sudah hijau." Netra berseru. Menatap janggal lelaki paruh baya di sebelahnya, "Paman baik-baik saja?"
"Oh, Paman baik-baik saja. Maaf, tidak konsentrasi." Netra tersenyum kecil menanggapi omongan Eric.
"Netra langsung pulang?"
"Saya mau ke apartemen dulu, Paman. Jarak ke apartemen jauh lebih dekat dari pada ke rumah."
"Oh, jadi selama ini, Netra tinggal di apartemen?" Netra mengangguk. Eric memperhatikan lingkup sekitar. Apartemen yang bisa dikatakan biasa saja, bahkan kawasan itu bukan termasuk properti milik keluarga Murian yang Eric tahu.
Sekelebat pertanyaan ada di benak Eric, bagaimana sebenarnya keluarga Murian memperlakukan Netra? Kalaupun dulu ia meninggalkan, setidaknya sekarang dia bisa memberikannya lebih dari ini. Bukan hanya apartemen, perusahaan pun sanggup dia beri.
"Ayah membelikannya saat saya berumur 17 tahun. Itu kado ulang tahun dari Ayah." Kalimat itu terlontar biasa dari bibir Netra, tapi berdampak luar biasa untuk Eric. Tidak hanya darahnya yang berdesir, tapi telapak tangannya juga berkeringat. Hal ini jauh menusuk lebih dari apapun, bahkan getarnya melebihi saat Eric menerima berita duka kehilangan ayahnya.
Yang dilontarkan Netra bukanlah informasi baru. Tangan kanan Eric bahkan sudah menginformasikan lebih detail tentang Netra. Bagaimana keseharian juga tentang kehidupannya. Tapi dari segala informasi yang Eric baca, tidak satu pun yang ada pada diri Netra karena tersebab dirinya , kecuali benih. Bahkan untuk panggilan ayah pun, hal itu justru tersemat pada orang lain.
"Terimakasih Paman, sudah mau mengantar. Saya masuk dulu."
"Em, Netra!"
"Apakah Netra, tidak keberatan jika Paman minta Netra untuk memanggil Paman dengan sebutan Papa? Paman rindu, Maafkan Paman yang dulu sudah mengabaikan Netra."
Apa lagi ini? Netra mengembuskan napas pelan. Mencoba tersenyum meski itu nampak tak sinkron dengan suasana hatinya yang tetiba pedih.
"Apa panggilan itu penting? Apa kalau saya memanggil dengan sebutan Papa, Paman bisa menjamin tidak akan mengulik hidup saya lagi? Kalau iya, akan saya lakukan."
"Netra, tidak, tidak harus begitu."
"Lantas harus bagaimana? Haruskah saya pertegas di sini jika saya lahir tak langsung sebesar ini? Dan juga hati saya," Netra menelan ludah, matanya tengah berkabut. "Hati saya juga bukan suatu perkara yang tak bisa sakit jika luka. Apa Paman mau tahu sebesar apa luka yang ada di hati saya?" Netra tetiba ingat dengan bagian demi bagian hidupnya yang timpang. Bagaimana hari-harinya menghadapi sorot tak suka yang nampak dari mata ibunya. Belum lagi keluarga besar ayahnya. Saat berkumpul, Netra merasa sendiri.
"Paman tak harus tahu, lagipula siapa yang mau mengulang luka? Sakitnya pun pasti terasa meski hanya cerita. Dan, mengenai rindu itu, kurasa Paman telat menyadarinya. Saya sudah lebih dulu merasakan sejak bertahun-tahun lalu, sejak belum tahu yang namanya rindu itu ternyata sakit rasanya." Tanpa menunggu lama, Netra menjauh dari mata seorang Eric Laksama.
* * *
__ADS_1
Suara bel terdengar. Netra bergegas membuka pintu, meninggalkan jepit rambut dan segala peristiwa yang terlintas di benaknya. Asoka, Eric, dan permintaan ayahnya baru-baru ini.
Permintaan menikah dengan Kaleon. Netra tak ambil pusing. Pasalnya melihat respon Kaleon saat di rumah sakit pun cukup membuatnya paham jika anak kandung ayahnya itu juga tak terlalu tertarik. Jauh di diri Netra juga tahu kalau permintaan ayahnya hanya bentuk dari rasa tidak mau kehilangan. Dan Netra tak harus cemas menyikapi permintaan itu. Ia bisa meyakinkan ayahnya lain waktu. Bahwa dia akan selamanya menjadi putri seorang Adi Dharma apa pun yang terjadi.
"Selamat malam, Nona!" Netra mengangguk pelan. Matanya mengamati wajah kaku yang ada di hadapannya. Bukan pengawal sang ayah, Netra ingat yang ada di hadapannya sekarang adalah orang sama yang pergi bersama Kaleon di rumah sakit."
"Nona, bisa ikut saya? Tuan Kale ada perlu dengan Anda." Netra mencebikkan bibir. Baru saja dia berpikir tak akan ambil pusing tentang permintaan ayahnya, tapi ternyata sumber kepusingan lain menunggu di depan mata.
"Aku tidak bisa ikut. Kalau ada perlu, kenapa bukan Tuannya Tuan itu yang datang kemari."
"Anda masih punya waktu lima menit untuk mempertimbangkannya, Nona! Saya akan menunggu."
"Tunggu saja sampai pagi kalau Tuan mau." Pintu tertutup tanpa ada lagi percakapan. Netra berbalik. Menendang gulungan karpet yang teronggok tak jauh dari tempatnya berdiri.
Netra meringis, kakinya nyeri. Ia menatap jengkel antara pintu dan karpet itu. Entahlah, semua berubah jadi menyebalkan menurutnya.
Emang dia itu siapa? Jangan-jangan bukan aku yang anak Ayah, tapi dia. Sikapnya sok sekali, beda dengan ayah. Songong, sok ngirim-ngirim utusan. Seperti putra mahkota saja. Harusnya kalau ada perlu itu dia datang kemari, membujuklah. Aku kan adiknya. Eh tidak-tidak. Siapa juga yang mau punya kakak songong macam dia. Untung nggak sealiran darah, kalau iya, aku pastikan akan tukar darah di PMI.
Suara denting microwave menarik perhatian Netra untuk ke dapur. Perutnya bersuara, Netra yakin rasa lapar sudah menggerogoti sebagian ususnya.
Sabarlah!
Netra mengelus perut, hidungnya sibuk membaui mie instant sam yang dengan kuah merah menggugah itu. Belum-belum ia sudah merasakan nikmat. Sambil menyantap, Netra memuji kelezatan mie instant yang dua hari lalu diborongnya dari supermarket karena promo.
Huh hah. Dua kata itu keluar berulang-ulang dari mulut Netra. Ia acuh pada bungkus mie instant dan beberapa gagang cabe rawit di atas meja. Lebih memilih menikmati lelehan keringat yang membanjiri wajahnya hingga suara bel kembali terdengar.
Wajah Pedro. Lelaki keturunan cina yang merupakan pemilik apartemen di mana dirinya tinggal, muncul di layar kecil sebelah pintu.
Netra penasaran, apalagi yang lelaki itu bawa selain karangan bunga dan iming-iming menjadi pemilik apartemen, jika dirinya mau menerima menjadi pacar.
"Kamu itu kenapa tidak je, ra ..." Netra urung meneruskan omelannya. Pedro meringis, lewat lirikan matanya dia seolah menerangkan jika dua orang yang ada di hadapannya itu yang memaksa.
"Maafkan aku Baby Nenet, mereka memaksa. Sebenarnya bisa saja aku mengerahkan semua kekuatan, tapi ternyata Tuan Kaleon ini kenal dengan kakek. Baby Nenet tahu kan, kalau kakek itu-"
"Tugas dia selesai, Brill! Suruh kembali ke habitatnya. Dan kamu, sini! kita butuh bicara." Setelah selesai dengan titahnya, Kaleon langsung menyelonong masuk. Meninggalkan Netra yang bengong dengan apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
Apa-apaan ini? Gila, kenapa semua orang-orang ini membuatku gila!
* * *