I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 11


__ADS_3

Saras terdiam setelah mendengarkan kata-kata


yang diucapkan Hanas. Kekhawatirannya perlahan mereda dengan digantikan oleh rasa kesal juga amarah yang perlahan menyelinap kembali ke dalam hati.


"Hanas."


"Aku sudah dengar semuanya, Ma. Sudah mendengar semuanya dengan sangat amat baik."


"Maafkan mama, Hanas. Mama tidak berhasil membuat Dewa mengerti kalau .... "


"Tidak, Ma. Mama tidak salah. Dan, tidak perlu melakukan hal itu lagi sekarang. Jika dia lebih memilih keluarga angkatnya, terutama adik angkatnya itu, maka aku akan menerima keputusan kak Dewa itu dengan senang hati. Aku akan ikuti apa yang dia inginkan," ucap Hanas sambil menyeka air mata yang mengalir di pipinya.


"Sayang ... maksud kamu bagaimana, Nak? Apa kamu ingin benar-benar meninggalkan mama sekarang?" tanya Saras dengan perasaan takut dan cemas.


"Tidak akan mama. Aku tidak akan meninggalkan mama, apa lagi memilih mati dari pada melihat kak Dewa bahagia dengan adik angkatnya itu. Karena aku, Hanas Adriani, tidak akan membiarkan dia dan adik angkatnya itu bahagia."


"Hanas. Apa yang kamu katakan barusan, Nak? Apa yang ada dalam pikiran kamu saat ini? Jangan melakukan hal yang tidak-tidak sayang. Mama tidak ingin kamu dapat masalah."


"Mama tidak perlu takut aku dapat masalah. Karena sekarang, aku bukan hanya dapat menghadapi masalah, melainkan, akan membuat masalah. Aku akan jadi perusak hubungan kak Dewa dengan keluarga angkatnya yang ia sayangi itu. Aku akan balas rasa sakit yang ia berikan padaku secara perlahan."


"Hanas. Jangan lakukan itu, Nak. Jangan lupa, yang kamu hadapi itu bukan orang biasa. Mereka orang besar yang punya kekuasaan di mana-mana. Jangan menyinggung keluarga Aditama, sayang."


"Tidak perlu takut, Mama. Karena bukan aku yang menyingung mereka. Melainkan mereka yang duluan menyingung kita. Tidak perlu takut dengan kekuasaan yang mereka miliki. Selagi kita masih bisa bermain peran dengan baik. Maka kita akan lepas dari ancaman kekuasaan yang mereka miliki."


"Hanas. Semua itu gampang diucapkan, namun sulit untuk di jalani. Tolong dengarkan mama! Jangan buat masalah dengan keluarga Aditama. Laki-laki masih banyak di luar sana. Kamu cantik, pintar, dan punya status baik. Pekerjaan juga ada, sayang. Jadi, akan mudah bagi kamu untuk mendapatkan laki-laki yang layak dan menghargai kamu, Nak."

__ADS_1


"Mama tidak perlu cemas, Ma. Karena tanpa mama sadari, barusan juga mama sudah berusaha mencari gara-gara dengan keluarga Aditama, bukan? Meminta kak Dewa menceraikan Yola. Itu sama saja dengan mencari gara-gara dengan keluarga Aditama, kan mama?"


"Sayang, itu lain. Itu beda dengan apa yang ingin kamu lakukan. Hanas .... "


"Semuanya akan sama saja, Mama. Sebaiknya, mama bantu aku memberikan pelajaran pada keluarga itu. Apa mama lupa, bagaimana Yola sejak dulu selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Bahkan, kasih sayang papa juga ia rebut dari kita. Benar begitu, kan mama? Dan juga, apa mama lupa, kalau papa lebih mementingkan keluarga itu dari pada kita, Ma?"


Saras terdiam. Benaknya membenarkan apa yang Hanas katakan. Selama ini, suaminya memang selalu menomor satukan keluarga Aditama, terutama nona kecil keluarga itu.


Ia masih bisa mengingat dengan baik waktu itu. Saat di mana Hanas, anak mereka sakit. Tubuhnya demam tinggi dan harus segera di bawa ke rumah sakit. Tapi pada saat yang sama, nona kecil keluarga Aditama juga mengalami hal yang sama. Johan yang mendengar kabar itu, lebih mementingkan nona kecil keluarga tersebut di bandingkan putri kandungnya sendiri.


Rasa sakit dan marah, kini menyusup kembali ke dalam hati Saras. Dendam pun mulai bermekaran sekarang. "Baiklah, mama akan bantu kamu untuk memberikan pelajaran pada keluarga itu. Tapi ... kita harus pandai menjalankan permainan ini. Karena lawan kita bukan hanya keluarga Aditama, tapi juga papa kamu."


"Mama tenang saja. Kita harus bermain secara cantik."


____


Orang yang pertama ia temui tak lain adalah bu Erni. Karena sekarang, bu Erni adalah kepala pelayan vila Camar. Orang yang telah diberikan kepercayaan oleh Brian mengantikan kepala pelayan mereka yang telah pensiun lima tahun yang lalu.


"Bu Erni. Apa kak Dewa udah pulang sekarang?" tanya Yola langsung pada wanita paruh baya yang sedang sibuk melihat buku catatan pengeluaran bulanan vila camar.


"Eh, nona kecil." Bu Erni berucap dengan rasa sedikit kaget.


"Belum nona. Tuan muda biasa pulang sedikit lebih sore lagi. Atau bahkan, dia akan pulang senja menjelang malam."


"Oh, iya deh kalo gitu."

__ADS_1


"Ada apa, nona kecil?"


"Tidak ada, bu Er. Hanya bertanya saja. Ya sudah, lanjutkan apa yang ibu kerjakan. Aku mau ke kamar dulu. Maaf sudah mengganggu."


Bu Erni hanya menjawab perkataan Yola dengan senyum manisnya saja. Ia merasa sangat bahagia bisa bekerja dan melayani keluarga ini dengan sepenuh hati. Karena semua anggota keluarga Aditama, orangnya bersahabat dan rendah hati.


"Beruntung ada wasiat itu. Jika tidak, tuan muda pasti akan menikah dengan gadis sombong yang banyak tingkah itu," ucap Bu Erni tanpa sadar dengan suara keras.


Perkataan itu tanpa sengaja Yola dengan dengan sangat jelas. Ia yang baru saja menaiki beberapa anak tangga untuk menuju kamar, tidak bisa melanjutkan langkah kaki saat kata-kata itu menyentuh telinganya. Dengan cepat, Yola memutar arah kembali menghampiri bu Erni yang masih berada di tempat sebelumnya.


"Bu Erni bicara apa barusan?" tanya Yola sambil menyentuh pundak bu Erni pelan.


Suara yang disertai sentuhan itu sontak membuat tubuh bu Erni terperanjat. Ia kaget bukan kepalang. Karena sebenarnya, bu Erni sama sekali tidak menyangka kalau apa yang ia ucapkan akan terdengar oleh Yola.


"No--nona ... nona kecil." Bu Erni berucap dengan perasaan gugup juga wajah memerah akibat kaget.


"Bu, jangan takut. Aku cuma ingin dengar sekali lagi apa yang ibu ucapkan tadi."


"Maaf nona kecil. Se--sepertinya, nona kecil salah dengar. Ibu tidak berucap apa-apa."


"Bu Er, jangan gitu dengan aku. Nanti, aku kecewa lho, Bu. Katakan saja apa yang ibu katakan tadi. Aku hanya ingin dengar, dan pastikan, kalau kuping ini masih berfungsi dengan baik," ucap Yola sambil tersenyum ke arah bu Erni sambil menegang kupingnya.


Bu Erni merasa tak enak hati untuk terus menutupi semuanya dari Yola. Karena jika ia tutupi sekarang, pada akhirnya, nanti Yola juga akan tahu. Cuma, jika Yola tahu sekarang, maka efeknya akan lebih baik dari pada Yola tahu nanti.


"Bu Erni." Yola memanggil untuk menyadarkan bu Erni yang terdiam mematung.

__ADS_1


"Ya nona. Ibu akan ulangi apa yang ibu katakan tadi."


__ADS_2