I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 39


__ADS_3

Dewa terdiam mendengarkan apa yang mama dan papanya katakan barusan. Bukan soal ia diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Tapi, bagaimana caranya ia bisa membuat Yola memaafkan dirinya setelah apa yang ia lakukan pada Yola.


Sementara itu, Johan yang baru sampai di depan rumahnya, segera masuk ke dalam dengan wajah memerah akibat menahan emosi. Dengan langkah besar dan tangan yang terus ia kepalnya, ia berjalan cepat masuk menuju kamar Hanas.


"Hanas! Hanas! Keluar kamu!"


Teriakan yang disertai dengan gedoran itu membuat Hanas dan Saras sontak kaget bukan kepalang. Saras segera keluar dari kamar, sedangkan Hanas terdiam di atas ranjangnya.


"Ada apa sih, Mas? Kenapa teriak-teriak malam-malam begini?"


Bukannya menjelaskan apa yang terjadi, Johan malahan langsung mengabaikan Saras. Ia terus melakukan apa yang ia lakukan sebelumnya dengan tingkah yang semakin brutal saja.


"Hanas! Aku tahu kamu ada di dalam. Buka pintunya atau aku dobrak sekarang juga."


"Kamu ini kenapa sih, Mas? Udah gila ya?"


"Ya. Aku sudah gila sekarang. Dan itu semua akibat ulah anak kamu yang tidak tahu di untung itu. Anak tidak tahu diri, bikin malu aku saja."


"Hanas! Keluar kamu! Keluar sekarang juga!"


Hanas semakin dibuat takut dengan suara keras dari papanya ini. Karena sebenarnya, ia tahu apa penyebab papanya bersikap seperti itu sekarang.


"Kamu yang memilih ini, Hanas!" ucap Johan. Lalu kemudian, segera mendobrak pintu itu dengan keras.


"Mas! Cukup! Apa yang kamu lakukan, hah! Anak kita tidak ada di dalam, Mas. Hanas pergi kerja sekarang."


"Oh, kerja? Dia kerja sekarang? Kerja apa, hah! Katakan padaku kerja apa dia malam-malam begini!"


"Mas. Kamu lupa kalau anak kita itu seorang suster? Tentu saja dia ada shift malam dan siang."


"Kamu pikir aku bodoh, Saras! Kamu dan anak kamu itu sama saja. Kalian sama-sama tidak tahu diri, tidak tahu di untung. Aku menyesal menikah dengan kamu tahu."

__ADS_1


"Mas!"


Saat itulah, emosi Johan semakin memuncak. Ia tidak tahan lagi. Dengan cepat, ia mencekik leher Saras erat-erat.


"Ma--mas le--lepaskan ak--ku. Kamu gi--gila, Mas." Saras bicara dengan suara yang terputus-putus karena tenggorokannya tercekik dengan kuat.


"Aku memang sudah gila. Malam ini juga, aku akan melenyapkan kalian karena kalian sudah membuat aku menjadi gila."


"Papa! Lepaskan mama!"


Akhirnya, Hanas keluar juga dari kamar itu. Karena tidak kuat mendengar teriakan dari mamanya yang sedang berada dalam bahaya, ia terpaksa memilih keluar untuk menemui papanya yang mungkin memang sudah gila saat ini.


Mendengar suara Hanas, Johan segera melepaskan cengkeraman tangannya dari leher Saras. Lalu, dengan cepat menghampiri Hanas yang sedang berdiri di depan pintu kamar itu.


"Anak tidak tahu diri!" ucap Johan sambil mencengkeram leher Hanas pula.


Lalu ... Plak! Plak! Plak! Tiga tamparan keras secara beruntun ia hadiahkan ke pipi Hanas. Pipi itu mendadak merah akibat tamparan keras dari seorang laki-laki yang sedang tersurut emosi.


Saras berteriak keras sambil berusaha bangun dari jatuhnya. Dengan mengumpulkan tenaga yang tersisa, ia berusaha melepaskan Hanas dari cengkraman Johan.


"Lepaskan dia! Aku bilang lepaskan anakku! Kamu tidak berhak menyakiti anakku seperti itu, Johan!"


Mendengar hal itu, Johan yang memang sedari tadi sudah tersulut emosi, langsung mendorong Saras menjauh darinya. Malangnya, Johan malah mendorong Saras ke arah tembok batu yang berada tak jauh dari mereka.


Kejadian naas yang mengejutkan pun terjadi seketika. Dorongan keras dari tenaga laki-laki yang sedang marah, membuat Saras tidak bisa menahan diri. Kepalanya terbentur tembok batu dengan keras. Saat itu pula, Saras jatuh tersungkur dengan kepala yang perlahan mengeluarkan darah segar secara perlahan.


"Mama!" Hanas yang masih setengah sadar itu berteriak keras ketika melihat tragedi yang menimpa mamanya. Sekuat tenaga, ia berusaha menghampiri sang mama yang sekarang sudah tergeletak di atas lantai.


"Mama!"


Hanas segera menggoyang-goyangkan tubuh mamanya. Berharap, sang mama bangun secepat mungkin. Jika pun tidak bagun, mengeluarkan suara atau bahkan, bernapas juga sudah cukup baginya. Tapi sayangnya, usaha yang ia perbuat sama sekali tidak membuahkan hasil. Mama yang ia sayangi tetap diam tergeletak di atas lantai tanpa ada napas sedikitpun.

__ADS_1


"Pembunuh! Kamu pembunuh, Johan! Kamu telah membunuh mamaku! Kamu bukan manusia, Johan!"


"Lancang kamu, anak tidak tahu diri!"


Plak! Lagi, sebuah tamparan mendarat di pipi Hanas. Tamparan keras yang membuat mata buram dan pipi berbekas merah.


"Semua ini karena ulah kamu! Semuanya akan baik-baik saja jika kamu tidak bikin ulah dan tahu diri, lak*nat!"


Johan kembali emosi. Rasa bersalah yang ia rasakan barusan atas apa yang telah terjadi pada Saras, kini tiba-tiba hilang dengan cepat akibat kata-kata yang Hanas ucapkan.


Dengan mata merah karena emosi yang kembali memuncak, Johan kembali mencekik leher Hanas secara brutal. Tapi kali ini, Hanas tidak tinggal diam. Tangannya berusaha melepaskan tangan Johan dari lehernya. Walau ia tahu, itu tidak akan berhasil karena tenaga mereka yang jauh berbeda.


Dalam keadaan yang terdesak itu, sebuah ide muncul dalam benak Hanas. Ia segera meraba laci yang ada di sampingnya saat ini. Laci meja yang biasanya ia gunakan untuk menyimpan gunting atau pisau buah setelah mereka gunakan.


Dengan susah payah ia berusaha membuka laci itu, dan pada akhirnya, ia berhasil. Tangannya menemukan gunting besar di dalam laci tersebut. Tanpa pikir panjang lagi, Hanas segera mengeluarkan gunting itu. Lalu ... guntung itu ia tusukkan ke perut papanya dengan brutal.


"Agh! Ha-Hanas ... apa ... yang kamu lakukan."


Perlahan, cengkeraman tangan yang mencekik leher Hanas melonggar. Hingga pada akhirnya, terlepas sempurna.


"Apa yang aku lakukan? Aku membunuh papa, agar aku bisa bertahan hidup dari orang tua gila seperti papa."


Tidak puas dengan hanya menusuk perut papanya. Hanas langsung menggapai vas bunga besar yang ada di sampingnya. Lalu memukul vas bunga itu ke kepala papanya.


Brak! Serpihan dari vas bunga batu itupun berserakan jatuh ke lantai. Bersamaan dengan itu, Johan juga jatuh tersungkur di atas lantai dengan darah segar yang ikut mengalir dari perut dan dari kepalanya.


Hanas terdiam ketika melihat kedua orang tuanya yang sedang tergeletak di atas lantai itu. Rasa sedih, sakit hati, dan kecewa kini menyatu dalam hatinya. Perlahan, tubuh Hanas merosot, terduduk di atas lantai.


"Hu ... hu ... hu .... "


"Mama, papa. Kenapa ini harus terjadi pada keluarga kita? Ini semua ... ini semua salah kalian orang-orang keluarga Aditama. Salah kalian. Kalian harus membayar semua ini secara langsung. Terutama, kamu kak Dewa. Kamu tidak akan bisa hidup bahagia bersama keluarga Aditama itu."

__ADS_1


__ADS_2