I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 8


__ADS_3

Seketika perhatian Yola segera teralihkan oleh kata-kata yang mamanya ucapkan.


"Mama mau bicara apa sih?" tanya Yola sambil menoleh ke arah sang mama yang kebetulan duduk di sampingnya.


"Ini soal mama sama papa yang akan pulang nanti siang."


"Apa! Mama sama papa mau pulang nanti siang?" tanya Yola kaget bukan kepalang.


"Kok mendadak gini sih, Ma, Pa?"


"Iya, Pa, Ma. Kenapa kalian pulang cepat banget?" Dewa juga angkat bicara.


"Benar tuan muda, nona Kania. Kenapa kembali keluar negeri secepat ini sih?" tanya Johan pula.


"Ada kerjaan yang harus aku urus di sana. Tidak bisa menunggu lagi," ucap Brian mejelaskan.


"Lalu aku gimana, Pa?" tanya Yola kebingungan.


"Kamu tentu saja tinggal di sini, Sayang. Masa iya kamu ikut mama sama papa pulang juga. Bukankah kamu di sini sudah punya tanggung jawab yang harus kamu emban?"


"Gak papa kalau Yolan ingin ikut pulang. Aku gak keberatan," kata Dewa dengan cepat.


"Hush ... yang benar saja kalo ngomong, Dewa. Mana boleh suami istri berjauhan."


"Kak Dewa segitunya gak ingin aku tinggal di sini, Kak." Yola berucap sambil terus memainkan sendok nya.


Dewa yang sedari tadi tertunduk, kini mau tidak mau mengangkat kepalanya.


"Bukan tidak ingin kamu tinggal di sini, Yolan. Tapi kelihatannya, kamu sedang tidak rela melepas mama dan papa yang ingin kembali keluar negeri."


"Kalau di bilang gak rela sih, jelas gak rela, lah kak Dewa. Jujur aja, berpisah dengan mama dan papa itu sangat berat lho kak. Aku yakin kakak pernah merasakannya."


"Hmm ... kok malah kalian berdua yang jadi berdebat ya?" Kania pura-pura bingung padahal bahagia. Karena sekarang, apa yang hilang sepuluh tahun yang lalu, kini ia temukan kembali.


"Kak Dewa yang mulai duluan, mama."


"Iya, aku yang salah." Dewa berucap cepat. mengakui kesalahannya. Meskipun sesungguhnya dia tidak salah, tapi tetap saja, dia yang akan mengaku untuk melindungi sang adik yang selalu tidak ingin mengalah.

__ADS_1


Kania tersenyum bahagia. Hal itu persis seperti suasana yang hilang sepuluh tahun yang lalu. Kedekatan dan kehangatan dari adik dan kakak yang selalu ia rindukan selama sepuluh tahun terakhir.


Tanpa terasa, buliran bening jatuh dari sudut mata Kania. Membuat semua yang ada di meja makan panik akibat air mata yang Kania jatuhkan.


"Mama ada apa? Kenapa menangis?" tanya Dewa dengan perasaan cemas.


"Mama sayang, ada apa? Apa yang membuat mama sedih?" tanya Brian tak kalah khawatir sambil membelai pelan bahu istrinya.


"Ma, jangan buat kita panik. Katakan! Apa yang salah, Ma?" Yola juga ikut merasakan rasa cemas akan apa yang terjadi pada Kania barusan.


"Aduh ... maafkan mama semuanya. Mama gak kenapa-napa. Mama cuma bahagia. Sangking bahagianya, mama tidak bisa menahan air mata ini."


"Bahagia?" tanya Yola dan Dewa secara bersamaan. Kemudian, mereka saling pandang satu sama lain.


"Bahagia kenapa, Ma?" tanya Brian mewakili rasa penasaran mereka semua.


Kania tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari Brian. "Bahagia karena apa yang hilang selama sepuluh tahun terakhir ini, sekarang kembali lagi. Mama pikir tidak akan pernah menemukan apa yang telah hilang, tapi ternyata, mama salah."


"Maksud mama?" tanya Yola tidak memahami apa yang Kania katakan.


"Apa lagi kalau bukan kedekatan kalian berdua."


"Dewa. Mama titip Yola padamu. Tolong jaga adikmu baik-baik selama mama dan papa tidak bersama kalian, ya."


"Iya, Dewa. Papa yakin, kamu mampu menjaga Yola dengan baik. Papa minta, kalian hidup akur dan bahagia saat papa dan mama tidak bersama kalian, ya." Brian juga ikut bicara.


"Aku akan berusaha sebaik mungkin menjaga Yolan, Pa, Ma. Kalian tenang saja," ucap Dewa sambil menundukkan kepalanya.


"Terima kasih banyak anak mama. Kamu memang anak kebanggaan kami."


______


Seperti yang telah direncanakan, siang itu, Kania dan Brian meninggalkan vila camar untuk kembali keluar negeri. Dewa dan Yola mengantar kedua orang tua mereka sampai di bandara.


Setelah pesawat yang Kania dan Brian tumpangi berangkat, keduanya langsung meninggalkan bandara tersebut. Namun, ketika mereka berada di parkiran, Dewa tiba-tiba memanggil sopir mereka.


"Bimo. Kamu langsung antar kan Yolan pulang ke vila." Dewa memerintah Bimo, sopir yang ia pekerjakan satu tahun yang lalu untuk mengantar adiknya pulang.

__ADS_1


Meskipun Bimo terhitung pekerja baru, tapi Dewa sangat percaya dengannya. Karena Bimo bukan hanya sekedar sopir melainkan bisa dibilang, bodi guard yang sengaja ia cari untuk menjadi sopir pribadinya. Lagipula, Bimo ini adalah cucu dari pak Dayat, mantan sopir Brian yang sudah pensiun sepuluh tahun yang lalu.


"Baik tuan muda," ucap Bimo sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Tunggu! Kak Dewa minta mas Bimo antar aku pulang ke vila sekarang. Lalu, kak Dewa mau ke mana? Kenapa gak sama-sama pulang saja?" tanya Yola dengan tatapan bingung melihat ke arah Dewa.


"Aku ada urusan di kantor. Tidak bisa ikut kamu pulang karena aku harus segera ke kantor sekarang."


"Lalu, kak Dewa ke kantor pakai apa?"


"Taksi online."


"Aduh, kok harus pesan taksi online segala sih. Kenapa gak minta mas Bimo antar kan kak Dewa ke kantor saja? Katanya buru-buru. Kan akan memakan waktu jika harus nunggu taksi online. Lagipula, aku juga ingin melihat kantornya kak Dewa."


Dewa menarik napas berat. Lalu, ia hembuskan kasar karena menahan hati yang sedang kesal.


"Aku ada urusan. Kamu pulang saja langsung."


"Bimo, antar kan dia pulang!"


"Baik tuan muda."


"Nona Yola, silahkan!" ucap Bimo sambil membuka pintu mobil untuk Yola.


"Ya sudahlah. Kalau gitu, aku pulang dulu. Kak Dewa hati-hati di jalan. Sampai ketemu di vila nanti," ucap Yola sambil beranjak masuk mobil.


Mobil itupun langsung beranjak meninggalkan Dewa yang masih terdiam sambil melihat ponselnya dengan wajah sedikit gelisah. Entah apa yang membuat ia begitu tertekan sekarang, yang jelas, semua itu pasti ada hubungannya dengan sang kekasih hati yang dikabarkan sedang sakit.


Sementara itu, Yola yang berada dalam mobil yang sedang berjalan pelan, meminta sang sopir memutar arah. "Mas Bimo. Kita putar balik sekarang."


"Apa nona Yola? Putar balik?" tanya Bimo tak mengerti.


"Ya. Putar balik ke tempat kak Dewa berada."


"Untuk apa, nona? Kenapa harus putar balik? Apa .... "


"Mas Bimo, lakukan saja apa yang aku katakan. Jangan banyak tanya. Aku inikan adik sekaligus istrinya kak Dewa. Jadi, dengarkan saja apa yang aku katakan." Yola bicara dengan nada kesal, membuat Bimo tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang Yola katakan.

__ADS_1


"Baiklah nona Yola. Kita akan putar balik."


__ADS_2