I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 50


__ADS_3

"Huh ... aku sebenarnya sama sekali tidak peduli dengan kalian, kak Dewa. Hanya saja, kalian berpelukan di depan pintu. Itu sangat menghalangi jalan kami untuk masuk ke dalam."


Yola mengganti nada kesal yang ia ucapkan barusan dengan nada acuh. Itu ia lakukan agar Dewa tidak besar kepala. Meskipun hatinya sangat sakit, ia tetap harus bersikap santai sekarang.


"Yolan .... "


"Kak Zaka, ayo masuk!" ucap Yola sambil menggandeng tangan Zaka untuk ia bawa masuk ke dalam.


Dewa hanya bisa menyaksikan pemandangan itu dengan hati yang sepertinya sedang terbakar. Dewa merasa hatinya sangat panas sekarang. Entah apa sebabnya, yang jelas, rasanya dia sangat kesal bahkan marah melihat kedekatan Yola dengan orang lain.


Belum beberapa langkah Yola dan Zaka masuk ke dalam kamar tersebut, langkah mereka harus tertahan karena bunyi dering ponsel milik Yola. Segera, Yola mengambil ponsel yang ia letakkan di dalam tas selepasnya itu.


"Siapa, La?" tanya Zaka mesra.


"Mama, kak."


"Angkat langsung aja. Mungkin mamamu mau bilang kalau dia udah sampai tuh."


"Ya udah kalo gitu, aku angkat di luar aja ya."


"Iya. Pergilah! Aku tunggu di sini saja."


"Iya, Kak."


Yola beranjak dengan langkah besar ingin keluar dari kamar tersebut. Tapi, tangannya tiba-tiba di tahan Dewa.


"Ada apa sih, kak Dewa? Lepaskan!"


"Mama mau datang?"


"Mungkin."


"Yolan .... "


"Kak Dewa, lepaskan!"


"Tidak jika kamu masih bersikap ketus padaku. Aku akan jelaskan apa yang terjadi barusan."


"Tidak ada yang perlu kak Dewa jelaskan padaku. Karena aku tidak mau ikut campur lagi urusan kak Dewa."


"Yolan ... tolonglah .... "

__ADS_1


"Lepaskan!"


Yola menarik tangannya dari cengkraman Dewa. Tidak ingin menambah masalah, Dewa akhirnya membiarkan tangan itu lepas. Namun, tidak puas hati jika tidak menjelaskan semua yang terjadi barusan.


Yola keluar dari kamar tersebut dengan diikuti Dewa dari belakang. Sementara Hanas dan Zaka, mereka hanya terdiam menyaksikan hal itu dengan perasaan masing-masing.


Zaka melirik Hanas yang sedang tersenyum penuh kemenangan menyaksikan perdebatan antara Dewa dan Yola barusan. Ia merasa ada yang tidak beres dengan perempuan yang ia yakini pacar Dewa ini.


"Kamu bahagia melihat adik kakak itu bertengkar karena kamu?" tanya Zaka yang sontak mengalihkan perhatian Hanas yang sedang melihat pintu.


"Tentu saja aku bahagia."


"Kenapa kamu malah bahagia? Harusnya, kamu sakit hati dan merasa bersalah. Karena hal itu. Karena kamu, mereka adik kakak malah bertengkar."


"Kenapa memangnya, kalau mereka bertengkar karena aku? Itu lebih membahagiakan buat aku."


"Kamu ini perempuan sinting atau gila sih sebenarnya? Bukankah kamu pacarnya tuan muda itu? Lalu kenapa kamu tidak mengambil hati nona Yola agar hubungan kalian berdua baik-baik saja. Dengan begitu, kamu akan mudah mendapatkan restu dari calon adik ipar kamu, bukan?"


Mendengar kata-kata yang Zaka ucapkan barusan. Hanas segera menoleh, lalu menatap Zaka dengan tatapan tajam. Kemudian, ia tertawa terbahak-bahak.


"Ha ... ha ... ha ...."


"Kenapa kamu malah tertawa, hei perempuan aneh?"


"Ap--apa? Apa ... apa yang kamu katakan barusan?" Zaka kelihatannya benar-benar kaget bukan kepalang. Sampai-sampai, ia bicara dengan suara gelagapan akibat rasa kaget itu.


"Benar bukan? Kamu laki-laki yang bodoh. Mereka suami istri saja tidak tahu. Selama dekat dengan nona banyak tingkah itu, kamu tidak bisa memahami hubungan adik kakak yang hanya kedok saja. Benar-benar gob*lok!"


"Perempuan gila! Kamu benar-benar gila. Seharusnya, tempat kamu bukan di sini, melainkan, di rumah sakit jiwa."


"Orang bodoh seperti kamu yang seharusnya jangan ada di sini. Melainkan, masuk got aja sana. Lebih baik dibandingkan diam di tempat seperti ini."


Suara langkah kaki mengalihkan perhatian mereka berdua. Seketika, mereka menghentikan perdebatan itu walau sebenarnya, Zaka ingin sekali membalas perdebatan dari perempuan yang ia anggap sakit jiwa itu dengan kata-kata yang lebih pedas lagi, biar tahu diri.


Yang datang adalah dokter. Mereka diminta untuk keluar sebentar karena dokter ingin memeriksa keadaan pasien.


Tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang dokter katakan, Hanas dan Zaka segera beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Setelah berada di luar, Hanas memilih pergi menjauh. Sedangkan Zaka, ia celingak-celinguk memperhatikan sekeliling untuk menemukan Yola.


Hampir lima menit lamanya, Zaka berdiam diri di depan ruangan tersebut. Lalu saat ia memutuskan untuk pergi, suara Yola menghentikan niatnya itu.


"Kak Zaka."

__ADS_1


"Yola."


Zaka langsung menoleh untuk melihat orang yang baru saja memanggil namanya. Ia tertegun ketika melihat Yola yang tidak datang sendirian, melainkan bersama tiga orang lainnya. Satu dari mereka tentu saja Dewa. Sedangkan dua yang lainnya, Zaka masih belum mengenali mereka.


Tapi ... sebuah ingatan tiba-tiba menghampiri Zaka secara perlahan saat ia melihat wajah wanita paruh baya yang berjalan berdampingan dengan Yola sekarang. Ia seperti tidak asing lagi dengan wajah wanita itu. Tapi, ia lupa di mana dia pernah bertemu dengan wanita itu.


"Kak Zaka, kok bengong."


"Eh, ng--nggak. Nggak kok. Gak bengong."


"Gak bengong apa itu barusan? Melamun?"


Zaka hanya menyeringai dengan perasaan tidak enak. Ia kebingungan mau bertingkah seperti apa sekarang.


"Oh ya, kak Zaka. Kenalin, ini mama dan papaku."


"Papa, Mama. Ini kak Zaka yang aku ceritakan tadi."


"Salam kenal tante, om." Zaka berucap sambil menyalami mama dan papa Yola dengan sopan.


"Salam kenal, Zaka." Kania berucap lembut, sedangkan Brian hanya tersenyum saja.


"Kak Zaka kok ada di luar? Kenapa gak nunggu di dalam?"


"Di dalam ada dokter yang sedang memeriksa om kamu, Yola. Gak tahu apa yang mereka lakukan, perasaan lama banget."


"Oh, benarkah?"


"Kalau gitu ... Ma, Pa. Bagaimana jika kita langsung pergi ke kamar mamanya kak Zaka saja duluan. Nanti, baru kita ke sini lagi. Gak enak juga kan, kalo kita berdiri di sini?"


"Terserah kamu saja, Sayang. Papa sama mama ikut aja apa yang kamu katakan. Iyakan, Ma?"


"Iya. Mana baiknya sajalah."


"Menurut kamu Dewa, gimana?" tanya Kania pada anak angkatnya yang sedari tadi hanya diam saja, bak patung pajangan yang tidak diajak bicara juga tidak mengajak bicara.


"Sepertinya aku di sini saja, Ma. Mungkin sebentar lagi dokternya akan keluar."


"Ah, dokter gadungan yang pasti akan keluar sebentar lagi," ucap Yola sambil melirik Dewa.


"Ayo, Ma, Pa. Pergi sekarang."

__ADS_1


"Aku gak jadi tinggal, Ma. Aku ikut," ucap Dewa sambil ikut beranjak.


__ADS_2