
Satu minggu kemudian, pesta pernikahan yang Dewa janjikan untuk Yola, akhirnya dilaksanakan juga. Pesta yang tergolong sangat mewah, di adakan di pantai itu dihadiri hampir puluhan ribu tamu undangan. Tamu dari kalangan keluarga, juga seluruh rekan bisnis keluarga Aditama.
Zaka datang bersama mama dan Sisil, pacarnya. Sedangkan Leo, dia datang bersama calon istri yang kakeknya pilih.
Saat kedatangan Leo dan calon istri, itu membuat Bimo terdiam untuk beberapa saat lamanya. Ia masih mengingat perempuan itu dengan sangat baik. Gadis jutek yang pernah menabraknya di rumah sakit waktu itu. Sekarang, ada di samping Leo. Berjalan beriringan memaksakan wajah baik-baik saja yang terlihat sekali kalau itu terpaksa.
Leo dan calon istrinya menghampiri Yola dan Dewa untuk memberikan ucapan selamat.
"Selamatnya, akhirnya, ada resepsi juga," ucap Leo sambil menyalami Yola.
"Apa maksud kamu dengan kata-kata ada resepsi itu?" tanya Dewa dengan raut kesal.
"Ya Tuhan ... bisakah kita berdamai mulai dari sekarang? Aku tidak bermaksud apa-apa. Kenapa kamu selalu berpikiran buruk tentang aku, sih?"
"Karena kamu memang punya niat buruk."
"Kak Dewa, ih. Apa-apaan sih kalian ini? Setiap bertemu selalu saja bercek-cok seperti ini."
"Dia yang mulai duluan, Yola."
"Eh, kamu malah menyalahkan aku?" tanya Dewa semakin kesal.
"Kak Dewa, kak Leo. Bisakah kalian tidak bertengkar lagi? Atau jika tidak, aku akan menggantikan kak Leo yang bersanding dengan kak Dewa di pelaminan sekarang juga."
"Ih, ogah banget. Najis tahu gak," ucap Leo sambil melirik Dewa.
"Kamu pikir aku mau? Nggak!"
"Makanya kalian diam. Lagian, masa sekarang mau bertengkar juga. Terutama kak Dewa. Inikan pesta kita, Kak."
"Maaf," keduanya berucap serentak.
"Nah gitukan enak. Oh ya, kak Leo datang bersama siapa ini?" tanya Yola sambil melihat gadis yang sedari tadi ada di samping Leo namun keberadaannya diabaikan karena pertengkaran kecil antara Dewa dengan Leo.
"Oh, iya. Hampir lupa aku memperkenalkannya.
Dia Anya. Calon istriku. Kami akan menikah dua minggu lagi."
__ADS_1
"Oh benarkah?" tanya Yola sambil tersenyum kaget sekaligus bahagia.
"Bagus deh kalo gitu. Lebih cepat kamu menikah, itu akan lebih baik," ucap Dewa dengan nada lega.
Yola hanya melirik Dewa untuk sesaat. Kemudian, ia mengulur tangan pada Anya.
"Anya, maaf untuk keributan kecil antara kak Leo dan kak Dewa. Mereka selalu begitu jika bertemu. Oh ya, selamat untuk pernikahan kalian yang sebentar lagi akan terlaksana."
"Tidak masalah. Terima kasih untuk ucapannya," ucap Anya sambil menarik senyum semanis mungkin.
Belum sempat tangan Anya dan Yola yang berjabat lepas, Brian datang menghampiri mereka.
"Anya."
"Tun Brian." Anya memanggil dengan hormat sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Kamu datang bersama .... " Brian melihat Leo yang sedari tadi juga melihat ke arahnya.
"Iya, tuan Brian. Aku datang bersamanya."
"Papa kenal dia?" tanya Yola tak tahan menyimpan rasa penasaran lagi.
"Hacker?" tanya Dewa dan Leo secara bersamaan.
"Oh tidak juga. Tuan Brian terlalu memuji aku. Aku masih belum bisa mendapatkan julukan hacker terbaik karena ... ada banyak data yang masih tidak bisa aku bobol."
"Terutama, data keluarga Aditama." Anya bicara sambil tersenyum bercanda dengan Brian.
"Kalo itu, kamu mungkin tidak akan pernah membobolnya sampai kapanpun."
"Iya, aku paham. Membobol data keluarga Aditama itu adalah hal mustahil, bukan?"
"Tinggu. Papa, aku masih tidak memahami apa yang kalian bicarakan ini. Hacker? Apaan sih? Kenapa papa membutuhkan hacker? Untuk apa?" tanya Yola semakin bingung.
"Kamu ingat soal vidio yang kamu lihat waktu itu? Papa memikirkan untuk menyelidikinya bukan? Ya dengan cara memakai jasa hacker handal seperti dia," ucap Brian membanggakan Anya.
"Oh, jadi begitu?"
__ADS_1
Yola kini baru memahami apa yang papanya dan calon istri Leo bicarakan. Sedangkan Dewa dan Leo, mereka hanya diam mendengarkan saja.
'Jadi ternyata, dia adalah hacker,' kata Leo dalam hati.
Sementara mereka terus ngobrol, Bimo datang dengan membawa gelas air mineral yang Dewa minta. Walau sebenarnya, ia sangat berat hati untuk menghampiri pelaminan karena ada perempuan yang sebelumnya telah membuat hati kecilnya bergetar setelah sekian lama.
"Tuan muda, ini air mineral yang tuan muda muda minta," kata Bimo sambil memberikan air untuk Dewa.
Namun, sebelum itu, ia sempat melirik Anya yang sedang berada di samping Leo. Sementara Anya yang mendengar suara itu, segera melihat si pemilik suara. Mata mereka beradu karena saling pandang.
Anya terdiam sambil melihat Bimo. Sementara Bimo, segera mengalihkan pandangan matanya ke arah lain saat ia menyadari, ada mata yang tidak suka melihat dirinya saat ini.
"Ee ... tuan muda, saya permisi dulu. Masih ada yang harus saya selesaikan," ucap Bimo sambil beranjak.
"Lho, apa yang harus kamu kerjakan, Bimo? Kamu itu bukan bagian dari WO lho ya. Kamu itu asisten aku. Kenapa harus buru-buru pergi?" tanya Dewa kebingungan.
"Ada hal yang perlu saya urus, tuan muda. Saya benar-benar harus pergi."
"Baiklah kalau gitu."
Bimo segera beranjak dengan langkah besar meninggalkan pelaminan. Ia menyendiri di tempat yang agak sepi. Menenangkan rasa hati yang berkecamuk akibat apa yang baru saja ia alami.
Baru saja merasakan getaran api asmara. Namun sayangnya, hal itu harus ia paksa padam lagi karena tidak mungkin untuk ia jaga apalagi besarkan api itu.
"Hai .... "
Suara indah itu tiba-tiba menyentuh telinga Bimo dalam keramaian pesta. Segera, ia menoleh ke arah asal suara. Iya kaget ketika melihat itu benar-benar orang yang ia sukai berdiri di dekatnya.
"Kamu? Ngapain ke sini?" tanya Bimo masih tak percaya.
"Cuma jalan-jalan. Lihat kamu yang sedang menyendiri, aku ke sini. Soalnya, masih ada urusan yang belum selesai."
"Urusan apa? Sepertinya tidak ada urusan di antara kita."
"Urusan kata maaf. Aku berhutang kata maaf padamu. Oh, tidak-tidak. Itu tidak benar. Kamu berhutang kata maaf padaku."
"Aku?" tanya Bimo tak percaya.
__ADS_1
"Iya, kamu."
"Oh ya, kita belum sempat kenalan. Sebaiknya, kenalan dulu. Aku Anya Septiani. Kamu bisa panggil aku Anya, seperti yang lain."