I Love You Kakak

I Love You Kakak
Asoka


__ADS_3

Netra melepaskan jepit rambut yang seharian bertengger di kepalanya. Bersanggul selalu menjadi pilihan saat bekerja. Setidaknya kesan wanita dewasa yang tegas ia dapat dari sana.


Menarik napas, lalu merenggangkan otot kaku. Gerakan Netra itu kemudian dibayangi aktifitasnya kantor yang baru saja ia lalui. Menyeleksi 4 dari 25 pelamar untuk posisi pemasaran bukan perkara mudah. Apalagi atasannya memiliki kriteria khusus yang harus dipenuhi.


Netra sendiri dibuat tercenung dengan satu nama perusahaan yang menjadi riwayat tempat magang salah satu pelamar yang diseleksinya.


Purna Laksama Group. Nama asing yang nyata mendarah di dagingnya.


Pikiran Netra langsung menjelajah pada kejadian saat dia memutuskan untuk mengabulkan permintaan Anne dengan menemui Asoka.


"Kamu datang, Nak!" Eric Laksama langsung bangun dari duduk dan menyambut. Lelaki dengan gurat wajah tak jauh dari Asoka itu mendekapnya erat.


"Maaf, saya tak bisa lama."


"Tak masalah, Netra, terima kasih, kamu sudah mau datang." sahut wanita yang duduk tak jauh dari Eric. Ia juga beranjak, mengikuti Netra yang kini mendekat ke arah Asoka. Lelaki itu terpejam. Selang infus dan pernapasan masih menempel di tubuhnya.


Lama Netra memperhatikan Asoka dengan segala keadaannya. Setitik air bening menggantung di sudut mata, hingga luruh tanpa jeda saat dia menyentuh perban yang menutup luka di pergelangan tangan.


"Kenapa, kamu bertindak bodoh, Kak?" Netra mencengkeram sisi ranjang. Ia tersedu, betapa kenyataan telah menjauhkannya dari harapan.


Asoka, sosok lelaki yang selalu berhasil menggodanya. Membuat tersipu saat semua orang memberi stampel judes pada sosok Netra Audra. Mereka bertemu pada acara ulang tahun yang diadakan GM Surya Gemilang, dua tahun lalu.


Perlahan tapi pasti. Hubungan mereka terjalin baik. Netra merasa ada banyak kesamaan antara dirinya dan Asoka. Sama-sama penyuka musik, juga sama-sama alergi keju. Hal itu membuat hidup jadi berwarna, meski Metha-adiknya- jelas mengecap ketidaksukaan Netra dengan keju adalah satu kerugian besar.


Netra dan Asoka sering menghabiskan waktu berdua. Mereka memasak, bernyanyi, menulis lirik saat terjebak macet. Lalu menentukan nada dan melodynya saat akhir pekan tiba.


Semua terasa indah, bahkan dari satu per satu lirik, kini sudah terkumpul menjadi buku kumpulan lagu. Hanya menunggu waktu yang tepat untuk memainkannya di depan umum. Dan Asoka pernah mengutarakan rencananya untuk memainkan lagu-lagu itu pada hari pernikahan mereka.


Netra merasa sesak saat ingatan itu muncul. Ia memukul dadanya dengan terisak pilu.


"Bangun, Kak. Ini Netra. Jangan lagi mencoba untuk berbuat hal bodoh. Bukankah kita harus pintar untuk tetap bertahan? Berani saja tak cukup, kan, Kak? Apalagi bodoh, itu tak berguna, sama sekali tak berguna."


Tangan Netra terulur menyentuh cambang dan rambut Asoka. Rambut yang tak akan mungkin dibiarkan panjang oleh sang empunya jika keadaannya tak demikian.


Netra menengok, memandang ke arah Eric dan istrinya. Terselip ragu dan bingung bagaimana harus memanggil Eric, dan pada akhirnya hanya kalimat pertanyaan yang lolos dari bibirnya.


"Maaf, adakah alat cukur?"

__ADS_1


* * *


Setelah pertemuan dua keluarga itu, Netra membatasi diri bertemu dengan Asoka. Hubungan yang terjalin, sudah sepantasnya berakhir. Mereka saudara. Netra lebih menuruti ayahnya untuk tinggal di rumah.


Rumah yang hanya terasa hangat jika sang ayah ada di sana. Namun jika sang ayah pergi, Netra seperti terasing. Ibunya terlalu sibuk mengurus urusannya sendiri.


Sampai kini, Netra tak pernah menyesali keputusannya untuk hidup sendiri. Ada kesenjangan antara dia dan ibunya, dan perpisahan bisa saja menjadi satu solusi yang baik. Toh selama ini, ibunya tak pernah mencari. Apa pun keperluannya, hanya ayah atau Mytha yang menghubungi. Apalagi sejak kejadian pengakuan itu, ibunya tak banyak bicara, hanya tatapan kosong yang ia berikan jika melihat Netra.


Asoka sendiri merasa frustasi. Ia juga kecewa. Akses untuk bertemu Netra benar-benar tertutup untuk dia dan keluarganya. Adi Dharma bahkan mengetatkan penjagaan, apalagi saat tahu pihak Eric Laksama akan membawa pengurusan identitas Netra ke pengadilan.


Netra hanya merasa dirinya makin kecil ditengah orang-orang yang sedang menunjukkan kekuasaannya. Jika ditanya kecewa, hatinya bahkan tak terbentuk lagi lukanya. Sebuah kenyataan jika dia bukan anak kandung Adi Dharma benar-benar menjawab hampir semua pertanyaan yang selalu memenuhi otaknya.


Dulu Netra selalu bertanya-tanya, kenapa ibunya terkesan tak suka jika sang ayah memanjakan dirinya.


Kenapa juga dalam berbagai kesempatan ia tak pernah diperkenalkan sebagai anak oleh ibunya. Hanya Mytha yang selalu mendapatkan kesempatan itu.


Kenapa dalam keluarga hanya Netra yang alergi keju, sedangkan ayah, ibu dan Mytha adalah pecinta keju sejati.


Dan dari pertemuan itu pula, Netra jadi tahu kenapa selama ini ia dan ibunya tidak bisa dekat layaknya ibu dan anak. Itu semua karena bayangan Eric Laksama ada pada dirinya.


Pria yang disebut ibunya dengan sosok kejam itu, ternyata mewariskan bentuk alis dan mata yang sama kepada Netra.


Ada banyaknya persamaan dengan Asoka membuat Netra semakin percaya diri. Namun hal itu juga membuat dia lupa, kalau jodoh kadang bersatu dari sebuah perbedaan, bukan malah kesamaan.


Dari segala bentuk kesamaan itu, dampak positifnya justru Netra dan Asoka jadi saling memahami. Netra jadi tahu apa yang Asoka sukai dan tidak. Lelaki itu paling risih dengan cambang yang selalu tumbuh tanpa komando di setiap inci wajahnya. Dan kini Netra dengan penuh kehati-hatian membersihkan anak cambang itu.


"Seorang asisten GM itu harus bersih dan wangi. Mana mungkin wajahnya tak terurus seperti ini." Netra terus fokus pada alat cukur di tangannya. Bergerak hati-hati agar tidak menyenggol selang oksigen. Sementara wanita yang ada di samping Eric menyerukkan wajah di dada suaminya.


Ada yang bergetar di dada wanita 49 tahun itu. Ia mengingat dengan jelas. Asokanya pernah pulang satu waktu. Lalu menunjukkan foto dirinya dengan gadis yang sekarang ada di hadapannya.


"Dia cantik, Ma. Cuma, jangan bilang dulu sama Papa atau siapa pun. Aku akan mengujinya terlebih dahulu. Sudah capek, Ma, dikejar-kejar cewek hanya karena anak Tuan Eric dan Nyonya Yuanita Laksama."


"Mama ikut senang kalau kamu senang. Tapi jangan keterusan. Harus jaga diri."


"Tenang Ma, aku sama Netra tidak pernah aneh-aneh. Entah karena cinta apa gimana ya, lihat dia itu selalu tumbuh rasa ingin melindungi. Dia itu, kalau di kantor sadis banget. Kalau udah natap orang, bikin minder. Kayak Papa. Siapa sih orang yang nggak minder kalau ditatap sama Papa? Ada sih, Mama itu orangnya." Asoka tertawa, lalu menyeruput jus alpukat yang ia sodorkan.


"Kalau di kantor sadis, tapi beda kalau di rumah. Di rumah tuh Netra cerewet banget. Kadang manja juga. Tapi kalau sudah jadi mantu, Mama pasti suka. Masih sabar kan menanti mantu cewek, Ma?"

__ADS_1


"Masih. Mama masih sabar menanti." jawab Yuanita kala itu. Seketika lamunan Yuanita terjeda saat terdengar suara benda jatuh.


"Maaf, Kak. Aku capek ngomel terus. Saking capeknya pegang gunting kuku aja sampai jatuh. Ini udah berapa lama nggak dipotong? Uh, apa iya tega makan kentang goreng dengan kuku panjang mirip punya gorila kayak gini." Netra tekun memotong satu persatu kuku jemari Asoka. Dari tangan Netra beralih ke kaki.


"Nanti rambutnya aku sisir dan ikat aja ya. Biar Kak Soka cepet bangun kalau memang merasa risih dengan rambut panjang." Netra masih saja bermonolog. Mengabaikan Eric, Yuanita serta Anne yang diam-diam melihat dari celah pintu.


Anne melihat semua. Dan memang seperti itu hari-hari Netra dan Asoka yang membuat begitu iri. Anne yang sudah dari lama mengenal Asoka bahkan tak pernah dianggap ada.


Asoka adalah orang pertama yang dia kenal saat pertama masuk sebagai karyawan. Pernah memberi tumpangan pulang saat hujan badai seharian.


Perkenalan itu membawa rasa lebih pada diri Anne. Beberapa kali ia mengutarakan isi hatinya. Tapi Asoka justru menolak halus. Jawaban tentang ia ingin fokus berkarir menjadi hal mengecewakan untuk Anne. Tapi karena cinta, Anne tak pernah mengenal kata menyerah.


Untuk yang ke 4 kalinya ia kembali mengutarakan isi hati. Jawabannya memang lain, tapi itu justru lebih dari mengecewakan. Asoka bahkan terang-terangan mengatakan bahwa di hatinya sudah ada wanita lain bernama Netra.


Netra. Nama itu bahkan sudah tak asing di telinga Anne. Mereka satu kampus dan pernah bersaing untuk mendapatkan nilai terbaik pada satu mata kuliah.


Anne tahu bagaimana perangai Netra, meski di hatinya tak menyukai wanita itu, tapi tak ada alasan yang pas untuk tidak mengakui jika memang Netra pantas untuk Asoka.


Hingga satu ketika, ia bertemu Asoka dalam keadaan kalut. Laki-laki itu bercerita dan bertanya bagaimana seandainya jika dirinya dan Netra adalah saudara. Tentu saja Anne kaget, tapi tetap mengikuti arus hingga cerita dari mulut Asoka takada yang terlewat.


Anne menghibur Asoka, tapi pikirannya juga mencari cara bagaimana membuktikan. Mungkin saja ia bisa mendapatkan sesuatu yang menguntungkan.


Anne mengambi rambut Asoka juga rambut Netra di tempat berbeda. Diam-diam membawanya ke rumah sakit untuk di tes. Lalu saat ingin memberikannya hasilnya pada Asoka di apartmen, ia melihat laki-laki itu mabuk.


Meski ragu, Anne akhirnya masuk. Tanpa di sangka, Asoka menyambutnya dengan ramah. Lebih dari itu di mata Asoka ada pancaran cinta.


Anne tahu jika dirinya salah. Cinta itu bukan untuknya. Dalam keadaan demikian, orang yang ada dipikiran Asoka hanyalah Netra. Tapi tak apa, siapalah tahu kesalahan itu membawa setitik kesempatan.


Anne memberanikan diri. Menerima apa pun yang Asoka perbuat. Hingga gelora hadir, menyapu segala rasa di antara mereka, menjadi peluh panas di sepanjang malam.


Anne menyibak bisu. Segala rasa ia tahan, saat tubuh lelaki itu lunglai, dan nama Netra lolos menjadi penghantar tidur panjangnya.


"Aku pamit dulu, Kak. Cepatlah sembuh. Kamu bahkan sudah akan memiliki anak, kan? Anne bilang mereka kembar, lho. Duh, jadi tidak sabar menunggu keponakanku lahir." Kalimat itu memutus lamunan Anne. Ia melihat Netra membereskan alat cukur yang tadi dimintanya.


Netra beranjak. Membenarkan letak selimut dan mengusap pelan rambut Asoka. Cukup lama, hingga Netra berbalik memandang Eric dan Yuanita bergantian.


"Saya, permisi dulu." ucapnya singkat.

__ADS_1


"Ah iya, biar aku yang mengantarmu." Eric beranjak dari duduknya. Yuanita melepas suaminya itu dengan senyum lembut.


__ADS_2