I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 15


__ADS_3

Karena alasan itu jugalah, ia terpaksa mandi di kamar mandi miliknya. Melupakan soal Yola yang masih berada di kamar saat ia masuk ke kamar tersebut. Karena ia sedang buru-buru untuk pergi ke kantor.


Sama halnya seperti Yola, Dewa juga bangun kesiangan. Karena semalaman, ia juga tidak bisa memejamkan matanya karena kata-kata Yola terus saja menganggu pikirannya.


Yola yang melihat wajah cemas penuh harap itu, merasa tidak tega. Awalnya, ia ingin mengambil kesempatan untuk menahan Dewa tetap berada di rumah hari ini dengan alasan jatuh itu. Tapi sayangnya, Dewa sekarang benar-benar sedang cemas dan mengabaikan soal sakit yang ada pada dirinya.


"Kak Dewa yakin mau ke kantor?" tanya Yola penuh perhatian.


"Ya, aku yakin. Dan aku sangat yakin. Sekarang, tolong keluarlah dari kamar ini. Aku ingin segera ganti pakaian dan secepatnya berangkat."


"Tapi kak .... "


"Yolan aku mohon!"


"Baiklah. Aku keluar sekarang," ucap Yola pasrah.


Yola pun beranjak meninggalkan Dewa dengan cepat. Dengan perasaan kesal tentunya. Ia berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri di sana.


Tiga puluh lima menit kemudian, Yola keluar dari kamar dan langsung menuju dapur. Kebetulan, perutnya sudah tidak bisa ia ajak kompromi lagi. Para cacing-cacing kelaparan sudah memberontak minta diberi jatah.


"Selamat siang nona kecil." Bu Erni langsung menyapa Yola ketika Yola sampai di meja makan.


"Siang, bu." Yola menjawab sambil tersenyum geli. Bagaimana tidak. Ia seorang perempuan, tapi bangun kesiangan.


"Sarapannya sudah ibu siapkan untuk nona. Silahkan nona makan."


"Makasih, Bu. Mm ... kak Dewa udah berangkat?"


"Udah, Nona. Baru beberapa menit yang lalu tuan muda berangkat."


"Baru kali ini tuan muda bangun kesiangan. Entah ada masalah apa dia tadi malam sampai bisa bagun telat seperti itu," ucap Bu Erni lagi.

__ADS_1


Yola hanya diam saja. Ia sibuk melahap makanan yang ada di hadapannya dengan cepat. Tapi tiba-tiba, ia ingat pada sesuatu yang membuat selera makannya hilang.


"Bu Erni, bisakah ibu ajari aku masak?"


Mendengar pertanyaan itu, bu Erni tidak langsung menjawab. Ia malahan membulatkan matanya untuk melihat Yola dengan tatapan tak percaya.


"Ke--kenapa, Bu? Apa ada yang salah dengan kata-kata yang aku ucapkan barusan?" tanya Yola tak mengerti.


"Tidak ... tidak ada, nona kecil. Tapi ... apakah nona yakin dengan apa yang barusan nona ucapkan? Nona ingin masak? Untuk apa? Bukankah sudah banyak pelayan yang bekerja di kediaman ini, Nona? Apapun yang ingin nona kecil makan, nona bisa langsung katakan pada kami. Maka dengan cepat, kami akan membuatkannya untuk nona. Jika kami tidak bisa, maka kami akan undang tukang masak terkenal untuk memasak makanan yang nona inginkan itu."


Yola tersenyum mendengar perkataan panjang lebar yang bu Erni ucapkan. Perkataan yang tidak mengizinkan dirinya memasak, karena dia seorang nona, putri keluarga terkaya yang selalu bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan.


"Bu Erni, aku ingin belajar masak itu sebenarnya bukan untuk aku. Tapi ... bukan, maksudku, aku ingin seperti wanita pada umumnya. Bisa masak, dan bisa membuat hati suami mereka senang."


Bu Erni tersenyum. Ia memahami maksud terselubung dari kata-kata yang Yola katakan barusan. "Nona kecil ingin belajar masak agar tuan muda bahagia, begitu?"


"Eh, mana ada. Aku ingin belajar masak itu agar aku bisa diakui oleh komunitas para istri tangguh, bu Erni." Yola berucap sambil berusaha menyembunyikan wajah merona nya.


"Iya deh, iya. Ibu tahu apa tujuan nona kecil sebenarnya. Ya sudah kalo gitu, ibu akan ajarkan nona kecil masak."


"Iya, tentu saja. Kapan nona mau mulai belajarnya?"


"Sekarang, Bu. Aku ingin belajar masak sekarang. Kebetulan aku lagi suntuk karena tidak mengerjakan apa-apa selama beberapa hari ini. Jadi, ibu ajari aku masak sekarang. Biar rasa suntuk ini hilang."


"Baiklah. Ayo ke dapur! Kita mulai sekarang juga."


Yola begitu bersemangat mengikuti langkah kaki bu Erni menuju dapur.


"Sebelum mulai masak, kita harus tentukan dulu apa menu yang akan kita masak. Kemudian, baru ambil bahan-bahannya, nona kecil."


"Baiklah. Jadi, menu apa yang akan kita masak sekarang, bu Erni?" tanya Yola penuh semangat sambil terus tersenyum.

__ADS_1


"Mm ... bagaimana kalau menu kesukaan tuan muda saja? Apa nona kecil masih ingat menu makanan kesukaan tuan muda?" tanya bu Erni sambil melihat Yola dengan tatapan menggoda.


"Tentu saja aku ingat, Bu. Kak Dewa itu sangat suka ikan tenggiri goreng dengan cabe rawit. Iyakan?"


"Tapi ... aku tidak tahu apakah ia masih suka lauk itu lagi atau tidak sekarang," ucap Yola sambil memang wajah sedih.


"Nona kecil jangan sedih. Lauk kesukaan tuan muda masih sama kok. Tuan muda masih tetap suka ikan tenggiri goreng dengan cabe rawit."


"Ternyata, sepuluh tahun berjauhan, nona kecil masih tetap mengingat apa yang menjadi kesukaan tuan muda."


"Tentu saja, Bu. Semua tentang kak Dewa itu masih aku ingat dengan sangat baik. Berjauhan bukan berarti melupakan."


"Ya sudah. Ayo kita mulai masak sekarang, nanti keburu siang, lagi."


"Ayo!"


Bu Erni segera menyiapkan bahan-bahan yang mereka butuhkan. Mengeluarkan semua bahan dari kulkas, lalu menatanya di atas meja untuk satu persatu ia bersihkan. Kemudian, sampai pada langkah terakhir, yaitu memasak.


"Sekarang, giliran aku yang menggoreng ikannya ya, Bu." Yola berucap dengan penuh semangat sambil memegang sendok besi di tangannya.


"Eh, tunggu sebentar! Nona kecil yakin ingin menggoreng ikannya? Apa tidak sebaiknya, nona kecil lihat saja dulu, biar ibu yang mengerjakannya saja."


"Yah, kalau bu Erni yang menggoreng ikan ini, berarti, yang masak bukan aku dong, bu. Melainkan, ibu."


Yola memasang wajah kecewa dihadapan bu Erni. Tidak, ingin terus membuat hati nona kesayangannya kecewa, bu Erni pasrah dengan membiarkan Yola mencoba menggoreng ikan tersebut.


"Ya sudah kalo gitu, nona kecil bisa mencoba menggoreng ikan ini. Tapi awas! Ini bahaya. Nona harus ekstra hati-hati karena minyak panas bisa membahayakan nona jika nona tidak hati-hati."


"Iya-iya, bu. Aku akan hati-hati."


Tiba-tiba, bu Erni merasa ingin buang air. Ia pun berpamitan pada Yola untuk ke kamar mandi sebentar. Tapi sebelum pergi, ia tidak lupa berpesan pada Yola sekali lagi agar berhati-hati dalam melakukan sesuatu di dapur ini.

__ADS_1


"Ibu tenang saja. Aku akan hati-hati. Cepatlah pergi agar ibu cepat kembali," ucap Yola sambil tersenyum.


Bu Erni meninggalkan Yola dengan perasaan cemas. Takut akan nona kecilnya dalam bahaya, tapi ia juga tidak bisa menahan hasrat untuk segera ke kamar mandi.


__ADS_2