I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 65


__ADS_3

"Tidak usah banyak pikiran yang tidak-tidak. Kamu tidak perlu mengurus hal orang lain karena itu tidak akan ada hasilnya buat kamu. Sebaiknya, kamu fokus mengurus diri sendiri, Zaka."


Setelah berucap seperti itu, Leo beranjak ingin meninggalkan Zaka. Namun, langkah kakinya tertahan karena ingin menyampaikan sesuatu kembali pada Zaka.


"Satu hal lagi, Zaka. Jika kamu pikir aku terluka karena melihat kedekatan Yola dengan suaminya, kamu salah besar karena telah berpikir hal itu. Karena sesungguhnya, aku ikut bahagia melihat Yola bahagia. Lagipula ... aku juga akan menikah satu bulan lagi."


Leo kembali melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Zaka tanpa menunggu Zaka menjawab ucapannya terlebih dahulu.


'Ya ... aku akan menikah satu bulan lagi. Mungkin itu hal terbaik untuk melupakan Yola. Meninggalkan Yola dengan menikahi gadis yang kakek pilihkan untukku. Semoga saja, ini pilihan yang paling tepat untuk aku,' kata Leo sambil terus melangkah.


Sebenarnya, hati Leo juga membenarkan apa yang Zaka katakan barusan. Ia sakit hati melihat Yola bahagia bersama laki-laki lain. Namun, ia sadar, kebahagiaan Yola ada pada Dewa. Dengan bersama, maka Yola akan bahagia. Untuk itu, ia juga harus merelakan Yola bersama dengan orang yang Yola cintai agar Yola bahagia.


Zaka terus menatap punggung Leo yang berjalan semakin menjauh meninggalkannya. Kemudian, ia menarik senyum kecil di sudut bibir.


"Kamu akan menikah, dokter Leo? Tapi sayangnya, aku tahu kalau kamu sedang menutupi rasa sakit yang ada dalam hatimu saat ini. Karena matamu tidak bisa bohong padaku. Kamu sakit dan terluka melihat Yola bahagia bersama laki-laki lain."


"Karena ... apa yang kamu rasakan itu sama dengan apa yang aku rasakan saat ini. Sakit melihat dia bahagia bersama orang lain, namun tidak mungkin untuk tetap memiliki dia karena sesungguhnya, dia memang tidak bisa kita miliki," ucap Zaka pelan bicara pada diri sendiri dengan senyum miris di bibirnya.


_____


Hari ini, Dewa kembali ke vila. Ia dinyatakan boleh pulang setelah menjalani perawatan selama satu minggu di rumah sakit setelah bangun dari tidur panjangnya.


Dewa sudah bersiap-siap sejak subuh karena ingin segera pulang ke rumah. Dia sudah sangat bosan berada di rumah sakit selama satu minggu ini. Untung saja ada Yola yang menemaninya. Jika tidak, mungkin sudah sejak kemarin ia putuskan untuk kabur dari rumah sakit ini dan pulang ke rumah.


Kania dan Brian sampai setengah jam setelah Dewa selesai bersiap-siap. Ia datang bersama Zaka, dan bu Erni yang sepertinya, ikut menjemput Dewa pulang.

__ADS_1


"Ya ampun, ternyata benar apa yang mama pikirkan, kamu udah siap pulang rupanya."


"Kak Dewa udah siap dari subuh malahan, Ma. Sepertinya, udah gak sabaran banget dia mau pulang ke vila."


"Ya jelaslah, Yola. Orang Dewa pasti sudah sangat merindukan kediaman yang sudah lama ia tinggalkan," ucap Brian sambil tersenyum.


"Papa benar, aku sangat merindukan suasana kediaman. Apalagi, kamarku. Aku rindu sekali dengan kamar yang sudah lama tidak aku tempati."


"Rindu kamar apa rindu berduaan di kamar dengan .... "


"Papa ih ... jangan mulai lagi." Kania berucap sambil mencubit pelan pinggang Brian.


"Auh ... sakit, Ma. Kamu kok tega banget sih?"


"Biar kamu tahu rasa. Anak ngomong benar, eh ... malah diajak bercanda."


Merekapun meninggalkan kamar menuju parkiran. Saat tiba di parkiran, Dewa kebingungan sambil mencari seseorang.


"Kak Dewa, kenapa? Cari siapa?" tanya Yola merasa penasaran.


"Di mana, Bimo? Kok gak kelihatan di sini?"


"Bimo gak ada karena dia sedang banyak tugas di kantor, Dewa." Brian memberi jawaban atas pertanyaan Dewa.


"Tugas kantor? Tugas apa?" tanya Dewa semakin kebingungan.

__ADS_1


"Tugas kerjaan."


"Lalu ... siapa yang akan bawa mobil sekarang, Pa? Jika Bimo papa pindahkan ke kantor, siapa yang akan jadi sopir pribadiku?"


"Ini ... Zaka." Brian berucap sambil menepuk pelan pundak Zaka yang sedari tadi hanya diam di samping Kania.


"Zaka?" tanya Dewa sambil melihat Zaka dengan tatapan tak percaya.


"Iya, Dewa. Mulai sekarang, sopir pribadi kamu kami ganti dengan Zaka. Sedangkan asisten pribadi kamu, papamu ganti dengan Bimo."


"Lalu ... om Johan?"


"Om Johan gak bisa bekerja lagi sekarang, Kak Dewa. Dia gak bisa kecapean setelah kecelakaan itu. Jadinya, dia hanya membantu sedikit-sedikit sebagai pembimbing saja. Selebihnya, Bimo yang urus."


"Oh, ya sudah kalo gitu."


"Kamu keberatan?" tanya Brian sambil melihat Dewa.


"Gak, Pa. Tentu saja, tidak. Aku hanya kebingungan saja saat tidak menemukan Bimo di sini sebagai sopir. Kalau semua sudah beres, jadi untuk apa kita bicarakan? Karena aku percaya dengan pilihan papa dan mama."


"Baguslah kalo gitu. Ayo kita pulang sekarang juga! Mau sampai kapan tetap ngobrol di sini?" tanya Kania sambil beranjak.


Merekapun meninggalkan rumah sakit dengan Zaka sebagai sopir. Ia diajak bekerja karena Kania kasihan dengan Zara. Sebenarnya, bukan sebagai sopir, melainkan, sebagai staf atau bahkan pemimpin yang memegang salah satu cabang perusahaan. Tapi sayangnya, Zaka menolak. Ia tidak ingin bekerja dengan gelar yang tinggi karena dia merasa tidak mampu untuk mengemban tangung jawab besar.


Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya, ia pun menerima tawaran untuk bekerja dengan keluarga Aditama, namun sebagai sopir. Peringkat paling rendah yang bisa ia kerjakan menurut Zaka.

__ADS_1


_______________________________________________


"Catatan: Mohon maaf buat teman-teman yang setiap menanti up dari aku. Untuk hari ini cuma bisa masukin satu bab aja. Itu juga terlalu aku paksakan buat nulis. Aku kelelahan banget sampai gak sempat buat nulis banyak. Harap maklum ya semuanya. Terima kasih banyak buat dukungan kalian.


__ADS_2