I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 28


__ADS_3

Santi lalu menceritakan kejadian tadi malam secara detail pada Dewa. Dengan wajah serius, Dewa mendengarkan apa yang Santi katakan dengan seksama.


"Yolan alergi obat? Kok bisa?"


"Saya juga tidak tahu kenapa nona kecil bisa sampai alergi obat, tuan muda. Tapi, itulah kenyataannya. Setelah bu Erni sampai di rumah sakit, dia mengabari saya keadaan nona. Menurut dokter yang menangani nona, katanya, nona kecil alergi obat."


Dewa ingat apa yang telah ia lewati tadi malam bersama Yola. Dia yang memberikan obat itu pada adik angkatnya. Dia sudah memastikan dengan jelas, kalau obat yang ia berikan itu benar, sesuai dengan petunjuk yang tertulis di obat tersebut.


"Apa mungkin Yolan alergi karena obat yang ia makan tadi malam?"


"Apa tuan muda?"


"Tidak ada. Aku harus pergi ke rumah sakit sekarang. Di rumah sakit mana bu Erni membawa Yola?"


"Rumah sakit Media Farma tuan muda."


"Baiklah, aku ke sana sekarang. Kamu jaga vila dengan baik."


"Baik tuan muda."


"Bimo! Bimo! Di mana kamu?"


Terdengar teriakan Dewa menggelegar memecah keheningan pagi. Bimo yang baru saja sampai di depan pintu kamarnya, terpaksa menghentikan langkah kaki dengan perasaan kesal.


"Ya tuan muda, saya di sini."


"Ayo cepat, Bimo! Kita harus ke rumah sakit sekarang juga."


"Ada apa, tuan muda? Kenapa ke rumah sakit? Apa ... apa nona Hanas bikin ulah lagi? Maaf, maksudku .... "


"Jangan banyak bicara, Bimo. Ini bukan soal Hanas, tapi soal Yolan."


Wajah kesal Bimo mendadak berubah cemas saat nama Yola yang Dewa ucapkan.


"Ada apa dengan nona Yola, tuan muda? Kenapa dia bisa berada di rumah sakit?"


"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Ayo berangkat sekarang!"


"Baiklah."


Merekapun kembali meninggalkan rumah menuju rumah sakit. Dengan perasaan yang sangat cemas, Dewa meminta Bimo mengemudikan mobil secepat mungkin agar segera sampai ke rumah sakit.


'Ya Tuhan ... ini salah aku. Aku yang tidak menjaga Yolan dengan baik. Mama, papa, maafkan aku. Kalian pantas marah padaku. Jika terjadi sesuatu pada Yolan, orang yang harus di salahkan itu adalah aku.'

__ADS_1


"Yolan ... maafkan aku. Aku tidak pantas menjadi kakak yang baik buatmu, apalagi menjadi suami, lebih tidak pantas lagi. Karena aku tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Aku sungguh tidak berguna. Tidak ada saat kamu butuhkan. Laki-laki macam apa aku ini.'


Dewa terus mengutuk dirinya dalam hati. Dengan wajah yang terlihat begitu cemas sekaligus menyesal atas apa yang telah terjadi.


Sementara itu, di rumah sakit, Leo baru saja selesai melakukan tugasnya dengan sebaik mungkin.


"Kondisi kamu susah semakin membaik. Tapi, kamu harus banyak istirahat agar alergi yang kamu alami segera sembuh."


"Baiklah, terima kasih. Kamu bisa pergi sekarang," ucap Yola dengan wajah yang sama sekali tidak melihat ke arah dokter Leo.


"Hei ... aku dokter di sini. Bukan asisten atau pembantu kamu. Bisa-bisanya kamu ngusir aku. Dasar gak punya pikiran."


"Lho, apa salahnya jika kamu dokter? Memangnya, ada aturan kalau pasien itu gak boleh ngusir dokter dari kamarnya? Apalagi ... dokter itu kayak kamu."


"Kenapa kalau dokter kayak aku? Tampan? Kamu takut gak kuat lama-lama bersamaku?"


"Ih ... narsis!"


Tiba-tiba seorang suster datang ke ruangan tersebut. "Maaf dokter Leo. Suster magang yang bernama Hanas sudah datang."


"Baiklah, suruh dia menunggu di ruangan ku."


"Baik dokter." Lalu, suster itu pergi meninggalkan ruang rawat Yola.


"Aku pergi sekarang. Ingat pesanku, jangan banyak pikiran, apalagi, membuang air mata terlalu banyak. Ingat kondisi kamu yang sedang kurang baik itu."


"Yang bilang kamu anakku siapa? Ogah banget aku punya anak rewel kayak kamu. Ih, amit-amit."


"Dokter bawel!"


"Biarin."


Leo langsung beranjak ingin meninggalkan kamar tersebut. Tapi, Yola tiba-tiba menahan tangannya.


"Tunggu!"


"Ada apa lagi?" tanya Leo sambil menoleh.


"Apa suster magang yang bernama Hanas itu adalah suster yang kemarin mengantarkan obat untuk aku?"


"Iya. Dia suster yang kemarin. Suster magang yang aku tugaskan untuk mengambil obat dan mengantarkannya padamu."


"Anak magang baru dua setengah bulan di rumah sakit ini sudah berani berulah. Lihat saja bagaimana aku membereskannya."

__ADS_1


"Apa maksud kamu?" Yola penasaran sambil memicingkan matanya untuk melihat wajah Leo.


"Tidak ada. Ini urusan aku sebagai kepala rumah sakit dengan bawahan yang ... yah ... bisa di bilang hanya numpang tapi banyak tingkah."


"Kamu kepala rumah sakit ini?"


"Iya."


Perhatian Yola tiba-tiba teralihkan dengan kata kepala rumah sakit yang Leo ucapkan. Dia tidak menyangka, kalau kepala rumah sakit miliknya ternyata seorang dokter muda yang ... yah, sulit untuk ia jelaskan.


"Ya sudah. Aku pergi sekarang. Selamat istirahat, semoga cepat sembuh."


Leo beranjak meski tidak mendapat jawaban dari kata yang ia ucapkan barusan. Ia berjalan sambil tersenyum memikirkan kedekatan yang tercipta begitu saja antara dirinya dengan Yola.


Entah mengapa, dengan pasien yang satu ini, dia bisa begitu dekat. Padahal, waktu pertemuan mereka sungguh sangat singkat.


Selama ia bekerja di rumah sakit ini, sudah banyak pasien yang ia tangani. Banyak juga wanita cantik yang sudah menjadi pasiennya. Tapi tidak sama dengan perasaannya pada Yolan. Sungguh, ia merasakan perasaan berbeda, tapi sulit untuk ia jelaskan.


Setelah Leo keluar, bu Erni segera masuk ke dalam. Ia bergegas berjalan mendekati ranjang Yola.


"Nona kecil, ibu punya kabar baik untuk nona. Nona pasti sangat senang dengan kabar yang ibu punya."


"Kabar apa, bu?" Yola bicara dengan nada malas.


"Tuan muda Dewa sudah pulang. Tapi, sekarang dia tidak ada di vila. Dia sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit ini untuk melihat nona."


"Oh."


Jawaban yang singkat tanpa semangat. Hal itu membuat bu Erni kebingungan memikirkan apa penyebabnya. Hanya saja, tidak bisa bertanya karena tidak ingin mencampuri urusan pribadi anak majikannya ini.


"Oh ya, Bu. Apa Zaka sudah kembali?"


"Zaka? Kayaknya belum. Kenapa nona?"


"Ya Tuhan, bagaimana caranya aku bisa mengatakan pada Zaka kalau kak Dewa tidak perlu ia cari lagi, ya?"


"Hubungi saja dia, nona kecil."


"Bagaimana caranya aku bisa menghubungi dia , bu Erni? Kalau nomornya saja aku tidak punya."


"Mm ... benar juga. Kitakan gak punya nomor dia."


"Kasihan sekali, Zaka. Nyari orang yang tidak hilang sama sekali."

__ADS_1


Di saat itulah, tiba-tiba pintu kamar rawat Yola terbuka dengan cara kasar. Dari balik pintu tersebut, muncul Dewa dengan wajah cemas.


"Yolan! Apa yang terjadi? Apa yang sakit sekarang? Apakah .... "


__ADS_2