I Love You Kakak

I Love You Kakak
Mie Instant dan Omlet


__ADS_3

Kaleon mengedarkan pandangan ke seluruh ruang. Menilai cukup rapi, sebelum ia melihat


mangkuk kotor, bungkus mie instant serta gagang cabai berserak di meja dapur.


Diliriknya Netra yang mengikuti sambil menggerutu. Bibirnya komat kamit, membuat Kale mengembuskan napas. Bayi itu sudah bisa menggerutu, pikirnya.


Tak ada yang menyangka, pun untuk lelaki itu sendiri. Ia bisa datang ke tempat orang yang masuk list paling atas untuk dihindari. Sejak dia pergi dari rumah sang ayah, lalu mengadu apa yang terjadi pada nenek kakeknya. Seharusnya bayi kecil itu tidak lagi berhak apa pun. Apalagi untuk sebuah kehormatan seorang Kale sampai menginjakkan kaki di apartemennya.


Kakeknya berulang kali menasehati, agar Kale tidak perlu risau. Dirinya tidak harus jadi benci kepada siapa pun, termasuk ayahnya juga Netra. Untuk bertahan hidup hanya perlu menjadi diri sendiri.


Satu waktu, neneknya juga bercerita, jika perceraian orang tuanya terjadi karena sang ibu tidak dapat lagi memberi keturunan. Padahal semua orang tahu, Adi Dharma sangat menginginkan anak perempuan. Hal itu membuat pertengkaran selalu saja terjadi. Ibunya berubah menjadi sosok keras kepala. Sering mengumpat apa pun yang dilakukan Adi Dharma untuknya. Bahkan tanpa berunding, dia mendaftarkan sendiri gugatan perceraiannya. Dia menginginkan berpisah. Semula kekeraskepalaan itu membuat orang jadi benci. Tapi tidak setelah dokter mengabarkan kanker serviks yang bersarang hingga mengantarkan sang ibu pada kematian.


Seorang ibu juga lah yang membuat Kale datang hari ini. Fathia, ibu Netra pagi tadi mendatangi rumahnya. Wanita dengan mata kuyu itu bahkan menangis agar Kale mau mengabulkan permintaan sang ayah. Fathia mengurai keinginan itu didasari pada rasa ketidakrelaan seorang Adi Dharma, jika sampai Eric benar-benar memperjuangkan nama belakang keluarganya untuk Netra.


Meski berulang kali berbisik pada diri sendiri untuk tak perlu mengadakan rasa benci, faktanya, hal yang diminta Fathia justru mengusik ketenangan yang telah dibangun Kale selama ini.


Bukankah dia sudah merelakan kasih sayang yang seharusnya didapat dari ayahnya untuk Netra? Apa masih kurang pengorbanan itu? Sampai ibu tirinya juga datang, lalu meminta dirinya untuk menikahi Netra agar bisa mempertahankan nama keluarga besar Murian di belakang nama Netra.


Memang sespecial apa bayi kecil itu? Sampai sepeninggal Fathia dari rumahnya, sang kakek juga datang. Jauh-jauh dari Singapura juga hanya meminta agar dia segera menikahi Netra.


Kale membuang napas jengah. Ia lantas memerintahkan Briil untuk membawa Netra ke hadapannya. Sepanjang sejarah, Brill tak pernah melaporkan sebuah kesusahan tentang tugas. Apalagi hanya membawa seorang perempuan.


Tapi kali ini, waktu setengah jam yang Kale berikan ternyata masih kurang untuk Brill. Kale yang tidak sabar meminta Brill menyebutkan di kawasan apartemen mana Netra tinggal.


Memaksa perempuan itu datang bukan perkara sulit jika Brill menggunakan nama besarnya. Seluruh anak cabang perusahaan ayahnya bahkan mengenal baik siapa Kaleon. Apalagi hanya setingkat pengurus apartemen.


Namun satu hal yang membuat Kaleon mengernyit, ternyata Netra tidak tinggal di satu pun apartemen properti keluarga Murian. Dari hal yang diinfokan Brill, Netra tinggal di apartemen lain tanpa ada predikat berbintang lima.

__ADS_1


Apa mungkin demikian? Benaknya mengurai tanya. Tujuan awal ingin membuat perhitungan karena sebegitu tidak tahu dirinya seorang Netra, kini jadi sebuah misi pembuktian.


Dan di sana, tak jauh dari dia berdiri, bayi kecil itu ternyata baru saja menikmati mie instant. Mie yang Kale tahu pasti sedang digandrungi karena baru lauching dan promo di pasaran. Dia sendiri menyaksikan acara launchingnya.


Suara deheman membuat Kale menoleh,


"Kak Kale, silakan duduk, mau minum apa?" Netra tersenyum. Manis, sangat manis untuk sebuah kepura-puraan.


"Bisa buatkan aku makanan?" Kale berujar santai. Netra berdiri terpaku. Senyumnya memudar seketika.


* * *


"Ini."


Sepiring omelet tergeletak di meja. Kale bergerak mengambilnya. Butuh sekitar 15 menitan bagi Netra membuat makanan itu tersaji.


"Ya Tuan."


"Makan ini! Cepat!" Brill yang mendengar titah itu tak berani bereaksi lain selain menerima apa yang diulurkan Kale. Selalu saja, masalah kecil akan jadi besar jika di dalamnya ada kekesalan seorang Kaleon.


"Dan kamu" tunjuk Kale pada Netra, "anggap saja ini pelajaran penting, bahwa seorang Kale tidak pernah main-main. Kamu yang sudah memancingku untuk datang kemari, aku beri waktu satu jam untukmu berkemas dan meninggalkan apartemen ini. Pulang dan tinggallah bersama ayah ibumu."


"Apa aku tidak salah dengar? Maaf ya, meskipun Kak Kale ini anaknya ayah, tapi tetap saja tidak berhak mengaturku sampai sejauh ini. Aku akan pulang, tapi tidak untuk meninggalkan apartemen ini. Ini milikku, ayah yang sudah membelikannya."


"Sekarang tidak lagi. Aku membeli kawasan ini dari Jim. Bisa dicek kalau tidak percaya. Dan sebagai pemilik, aku berkuasa penuh untuk menentukan siapa saja yang berhak dan tidak berhak tinggal di kawasan ini. Termasuk kamu."


"Tidak mungkin."

__ADS_1


"Tidak ada yang tidak mungkin untuk seorang Kaleon, Nona!" Kale melirik ke arah sekretarisnya. "Sudah selesai, Brill?"


"Sudah Tuan." Brill menjawab enteng, sementara Netra, rangkaian sumpah serapah sudah berjejal di hati. Hanya saja, dia menahan untuk tidak memutahkannya.


Kale yang dia kenal dari cerita sang ayah adalah seseorang penuh kepedulian. Bukan bengis seperti yang ada di hadapannya kali ini. Bahkan ayahnya pernah menuturkan jika saat dirinya masih bayi, Kale selalu tertegun menatap tidurnya. Selalu memperhatikan saat orang lain menggendong, memastikan jika tangan dan kaki Netra tidak tertekuk ke belakang.


Kalau sampai tertekuk dan sakit, dia kasihan kan? Kan belum bisa teriak.


Kalimat yang kata ayahnya pernah diucapkan Kale itu selalu diingat Netra. Dia sempat membayangkan jika suatu saat bertemu dengan kakaknya itu, pasti sangat menyenangkan.


Hanya saja angan memang kadang tak sesuai harapan. Pertemuan pertama yang terjadi di rumah sakit itu sudah merupakan penolakan untuk Netra. Ditambah lagi sekarang, Kale bahkan terang-terangan bertindak semaunya sendiri.


"Pastikan dia sudah ada di rumah ayah sebelum jam 9 malam." Suara itu membuat Netra bereaksi.


"Aku tidak mau!" Kale menghentikan langkahnya.


"Aku mohon, aku akan lakukan apa pun asal tidak pulang ke rumah. Beberapa minggu di sana, sebelum ayah masuk rumah sakit, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Rasanya capek kalau harus berlama-lama di kantor agar sampai rumah bisa langsung tidur. Tapi itupun tidak bisa, seperti ada yang mengintai, dan-"


"Cukup. Jangan banyak menghayal. Kamu mau berkata kalau di rumah ayah, ada hantu, begitu?"


"Bukan menghayal, tapi itu nyatanya. Aku tidak bohong!"


"Dan aku tidak percaya."


"Ayolah, Kak, percaya padaku, -" Netra menghentikan kalimatnya, dia mengikuti gerakan arah mata Kale. Seketika Netra berjengat, refleks melepaskan tangannya yang sudah lancang mencengkram lengan Kale.


Duh, aku tak sengaja, Tuhan!

__ADS_1


__ADS_2