I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 66


__ADS_3

Sampai di vila, Zaka segera menghentikan mobil yang ia kendarai. Kania dan Brian segera turun, diikuti oleh Yola yang membantu Dewa. Sementara Dewa mengikuti Brian dan Kania dari belakang, Yola menghentikan langkahnya karena melihat Zaka yang diam di tempat tanpa berniat untuk mengikuti mereka masuk ke dalam.


"Kak Zaka gak sekalian masuk, kak?"


"Kayaknya ... gak deh, Yol. Aku udah izin sama papa mama kamu untuk langsung kembali ke rumah sakit. Soalnya, mama udah nunggu di sana buat makan sama-sama." Zaka beralasan pada Yola.


"Beneran, kak?"


"Iya. Bener."


"Oh, ya udah kalo gitu. Titip salam buat tante, ya."


"Iy .... "


"Yolan ... kok masih di situ sih? Ayo masuk!" Suara Dewa menghentikan pembicaraan Yola dan Zaka tanpa sempat Zaka menyelesaikan jawabannya terlebih dahulu.


"Iya, kak Dewa. Bentar!"


"Ya udah, kak Zaka. Aku masuk sekarang, ya."


"Iya, sebaiknya kamu cepat. Tuan muda kayaknya udah gak sabar lagi untuk masuk ke dalam."


Yola hanya menanggapi perkataan Zaka dengan senyum menyeringai. Entah kenapa, sejak kecelakaan itu, Dewa mendadak sangat posesif padanya. Tidak membiarkan Yola bicara berduaan dengan laki-laki lain walau hanya sebentar.


"Yolan ... kok lama banget ngomong ama Zaka? Ngomong soal apa?"


"Lama? Nggak deh kayaknya. Cuma ajak kak Zaka makan bareng aja kok kak. Gak lebih."


"Jangan jelalatan matanya. Lupa kalau ada aku di sini."


"Ya ampun kak Dewa ... masa ngomong gitu sih?" Yola memasang wajah cemberut tingkat tinggi.


"Aku cuma takut kamu di ambil orang, Yolan. Gak lebih. Karena kamu adalah kebahagiaan terbesarku sekarang."


Yola tersenyum. Meskipun tidak menjawab dengan kata-kata, namun Dewa tahu kalau Yola sedang bahagia. Sebaliknya, Yola memang merasa sangat bahagia dengan sikap baru dari Dewa. Ya meskipun, sikap itu terlalu berlebihan buat Yola sekarang. Tapi ... setidaknya, itu yang selama ini ia harapkan dari seorang Dewa.


Zaka sampai di rumah sakit. Meskipun sebenarnya hanya menghindar dari keluarga Yola yang mengajaknya makan bersama, tapi dia benar-benar datang ke rumah sakit dengan membawakan makanan untuk sang mama yang masih saja di rawat walau sudah berbulan-bulan.


"Ma ... aku datang," ucap Zaka sambil membuka pintu kamar rawat yang sudah seperti rumah mamanya saat ini.


Saat pintu terbuka, ia bisa melihat mamanya yang sedang duduk di temani seseorang yang sangat ia kenali. Dia adalah, Sisil. Teman sekaligus anak bos tempat ia bekerja sebelumnya.

__ADS_1


"Si--Sisil?"


"Dewa."


"Sejak kapan kamu ada di sini? Ngapain?" tanya Zaka penuh selidik.


"Aku ke sini buat jenguk mama kamu. Lagian, kamu juga sibuk banget sekarang, bukan? Dan ... aku juga ingin minta maaf padamu, soal kejadian itu," ucap Sisil sambil memasang wajah penuh sesal.


Kejadian ... saat kembali dari desa Mekar, Sisil marah besar karena dia tahu, Zaka pergi ke sana bersama seorang perempuan. Perempuan yang tak lain adalah Yola.


Saat itu, Sisil menemukan gelang milik Yola yang entah kenapa bisa terjatuh di mobil Sisil yang Zaka pinjam. Hal itu membuat perasaan Sisil seketika hancur, remuk tanpa sisa.


Ia yang sudah lama menyimpan rasa cinta buat Zaka, tentu saja akan merasa sangat kecewa, saat tahu Zaka malah bersama perempuan lain, dengan mobilnya lagi. Saat itulah, ia marah-marah pada Zaka dan memutuskan persahabatan mereka. Bahkan, Sisil tidak ingin berhubungan lagi dengan Zaka meski sebatas atasan dengan bawahan.


Zaka menerima semua itu dengan lapang dada. Meskipun ia dan Yola tidak ada hubungan apa-apa, ia juga tidak mau menjelaskan semuanya pada Sisil. Karena menurut Zaka, hal itu tidak penting. Apapun pendapat Sisil tentangnya, itu adalah hak Sisil.


"Zaka. Kamu masih marah padaku?" tanya Sisil menyadarkan Zaka dari lamunan.


"Seseorang berhak menerima maaf, Nak. Kamu tidak perlu menyimpan rasa kesal pada Sisil. Bukankah dia sudah minta maaf padamu? Lagipula, yang terjadi pada kalian itu adalah salah paham, kan?" Zara ikut menasehati Zaka.


"Aku tidak menyimpan rasa kesal padanya, Ma. Aku juga sudah memaafkannya," ucap Zaka santai sambil berjalan mendekat.


"Benarkah?" tanya Sisil dengan wajah sangat bahagia sambil bangun dari duduknya.


Tanpa pikir panjang lagi, Sisil langsung menghambur untuk memeluk Zaka.


"Terima kasih banyak, Zaka. Aku sangat bahagia."


"Iy--iya. Tapi ... tidak perlu memeluk aku juga."


Dengan kata-kata itu, Sisil segera melepaskan pelukannya. Wajahnya memerah karena malu.


"Maaf, aku terlalu bahagia."


"Tidak masalah. Asal tidak ada lain kali saja."


"Oh ya, Ma. Ini aku bawakan makanan buat mama. Ayo kita makan!" Zaka berucap sambil menenteng kantong yang ia bawa.


"Terima kasih, sayang. Tapi mama udah kenyang. Teman kamu barusan juga bawa makanan buat mama. Dan, baru aja mama selesai makan."


"Oh .... "

__ADS_1


"Terima kasih, Sisil. Kamu udah repot-repot bawain makanan buat mama aku."


"Gak papa, Zaka. Aku gak merasa direpotkan kok. Lagian, restoran juga sedang sepi. Makanya, aku nyari aktifitas lain sekarang."


"Sepi?" tanya Zaka seakan tak percaya. Soalnya, restoran milik orang tua Sisil ini terkenal paling ramai, apalagi saat pagi menjelang siang seperti ini. Makin ramai yang datang.


"Iy--iya. Sedikit sepi sekarang."


"Oh ya, aku datang juga mau bicara empat mata sama kamu. Boleh gak? Bentar aja, gak akan lama."


Zaka tidak langsung menjawab. Ia melihat mamanya yang sedang menatap mereka berdua. Sang mama tersenyum sambil menganggukkan kepala, tanda meminta Zaka menyetujuinya.


"Baiklah. Kita akan bicara. Tapi aku tidak punya banyak waktu. Aku akan kembali bekerja sebentar lagi."


"Oke," ucap Sisil dengan wajah sangat bahagia sambil mengangkat jempolnya.


"Kita tidak akan bicara terlalu lama kok, Zaka. Aku hanya minta waktu kurang lebih ... dalam sepuluh menit."


"Sepuluh menit? Itu kamu bilang gak lama?" tanya Zaka dengan nada kaget sekaligus kesal.


"Zaka. Sepuluh menit itu gak lama kok, Nak." Zara berucap sambil senyum membela Sisil.


"Ya ampun ... apa aku masih tidak memahami wanita, mama?"


"Baiklah, ayo pergi sekarang. Karena sepuluh menit yang kamu minta itu mungkin akan menyita waktu makan siang ku nanti," ucap Zaka sambil beranjak.


"Baiklah. Ayo!"


"Aku permisi dulu tante .... " ucap Sisil berpamitan pada Zara dengan sopan.


"Iya. Silahkan." Zara berucap dengan senyum manis di bibirnya.


Sementara Zaka sudah meninggalkan kamar rawat mamanya dengan cepat. Sisil mengejar dari belakang dengan langkah kecil sedikit berlari.


"Zaka, tunggu! Kita mau ke mana?"


"Taman."


"Ngapain?"


"Bicara. Katanya, kamu mau bicara empat mata dengan aku. Ya, kita bicara ke taman."

__ADS_1


"Oh, baiklah."


__ADS_2