I Love You Kakak

I Love You Kakak
Makan Malam


__ADS_3

Air masih sekali dua kali menetes, meski hujan sudah reda beberapa saat lalu. Dari balik kaca Kale menyaksikan tiba masanya bulir itu berkumpul, lalu turun melalui selang AC yang melengkung.


"Halo," Kale mengangkat gawainya. Seseorang menelpon dan memberi laporan. "Ada kabar apa?"


"Nona menolak saya layani Tuan, masih bersikeras melakukan apa-apa sendiri. Hanya saja dengan itu saya sulit mengontrol kegiatan Nona di kamar."


"Taruh CCTV di kamarnya diam-diam. Aku tidak ingin dia bertingkah kabur atau semacamnya. Dia sudah cukup menyusahkanku. Aku akan kembali menarikmu jika dia benar-benar sudah tak ada hasrat pergi dari rumah itu."


"Baik Tuan."


"Ayah bagaimana?"


"Baik-baik saja Tuan. Beliau sedang makan siang bersama Tuan Alfaro."


"Pantau segala sesuatunya, Berta. Termasuk Alfaro. Brill bisa kau hubungi jika ada sesuatu yang penting."


"Baik Tuan." Telpon selesai. Bersamaan dengan itu terdengar ketukan pintu.


"Masuk!" Seorang kakek tua dengan topi bundar yang hampir menutupi sebagian rambut putihnya tersenyum.


"Halo Boy, apa Grandpa mengganggu?"


"Halo Grandpa! No, ayolah, tidak ada kata mengganggu di sini. Semua waktuku untuk dirimu." Kale membereskan berkas-berkas di meja kemudian mendekati kakeknya yang sudah terlebih dulu duduk di sofa.


"Tidak di sini juga tidak di sana, kamu selalu mania kerja, Boy!"


"Kalau tidak kerja, kita tidak akan bisa menyewa penari, kita tidak bisa makan, lalu berlayar menikmati nikmatnya lidah ikan hiu. Benar begitu kan, Pak Tua?"


"Tentu saja, Boy. Kamu benar, tapi semua itu akan lebih menyenangkan kalau ada seseorang di samping kamu. Istri misalnya." Mendengar ucapan kakenya, Kale membanting diri ke sandaran sofa.


"Grandpa mau minum apa?"


"Jangan jadi pengecut dengan mengalihkan pembicaraan, Boy. Sampai kapan kamu akan membujang seperti ini? Lagi pula, gadis pilihan ayahmu itu bukan asal comot, kenapa kamu tidak mau?"


"Grandpa, kenapa harus membahas dia?"


"Memang kenapa? Kamu tidak membencinya, kan?" Pertanyaan itu membuat Kale diam. Ia tak tahu harus menjawab apa.


"Janganlah mudah membenci Boy, itu tidak bagus untuk kesehatan apa pun. Dari kesehatan kulit sampai jantung bisa kena dampaknya. Lagipula jika kamu benar membenci dia, hati-hati saja dengan istilah blunder."


"Sudahlah, Grandpa, kita jangan bahas ini, okey? Ngomong-ngomong, Grandpa sudah dapat sesuatu di pasar barang antik?"


"Sudah. Kali ini hanya cincin dengan motif unik dan beberapa hiasan dinding. Sudah ada orang yang mengirimnya."


"Baguslah kalau seperti itu. Maafkan aku yang tidak bisa menemani Grandpa."


"Tidak masalah, Boy! Kakekmu ini memang ingin menikmatinya. Oh iya, kamu yakin ingin pulang bersama denganku? Kita hanya naik pesawat komersil saja." Tanpa kata, Kale mengangguk mantap.


"Baiklah kalau begitu. Oh ya, sebelum pulang, ayahmu mengundangku untuk makan malam. Kamu mau kan, menemani kakekmu ini, Boy? Sudah lama aku tidak brtemu dengan Adi Dharma."


Bukankah kemarin juga ketemu? Apa perlu aku tunjukan rekaman telpon yang sudah kusadap?


"Aku tidak janji, tapi akan kuusahakan." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Kale.


"Ah, kenapa kamu ini membual, Boy. Baru saja kamu bilang kalau semua waktumu untukku. Sekarang kuminta waktumu, kamu menjawab akan mengusahakan." Kale diam melihat kakeknya terkekeh sambil mengenakan topi.


"Kamu bucin tingkat dewa, kalau anak jaman sekarang bilang." Kakeknya berdiri dan berjalan menuju pintu.


"Baiklah-baiklah, Granpa menang."


"Itu baru cucuku. Aku akan kembali setelah makan siang." Pintu tertutup, Kale menutup mata.

__ADS_1


* * *


Netra terhenti tatkala mendengar suara tawa dari ruang tamu. Beberapa pelayan yang tengah sibuk membawa hidangan ke meja tersenyum saat melewatinya.


"Selamat malam, Nona. Tuan Besar meminta Anda untuk bergabung." Seorang wanita yang biasanya menyambut Netra mendekat.


"Memang ada acara apa, Berta?" Netra terlihat membaca sekilas name tag yang ada di dada kiri Berta.


"Makan malam bersama Tuan Dahlan, Nona?"


"Pulang bukannya istirahat, ini malah mengundang tamu untuk makan malam. Tolong bawakan ke kamar ya, Berta. Ini kuncinya. Cukup taruh di meja rias saja, taruh juga kuncinya di dalam, setelah itu kamu boleh pergi."


"Baik, Nona."


"Maaf merepotkanmu, makasih ya Berta."


"Eh, tidak Nona, ini sudah menjadi tugas saya." katanya sambil mengikuti Netra.


"Berta, pergilah ke atas, aku akan menemui Ayah sendiri."


"Ah, iya, Nona." Berta berlalu, sementara Netra menggerdikkan bahunya.


Siapa yang merekrut dia jadi pegawai. Kaku sekali


Netra meneruskan langkahnya. Sebelum masuk ke ruang tamu, ia berdiri sejenak, mengambil napas dalam-dalam.


"Selamat malam, semua." Netra menyapa dengan senyum lebar. Ia menghampiri sang ayah kemudian memeluk dan menciumnya.


"Halo Ayah."


"Halo, Sayang. Kenapa pulang sampai jam segini? Padahal ayah sudah berpesan pada supir untuk membawamu pulang cepat."


"Ya sudah, ayo salim sama Kakek Dahlan."


"Kakek Dahlan?"


"Iya. Nah Pa, ini yang namanya Netra. Papa pernah ketemu saat dia berumur 3 tahun, ya kan Ma?"


"Iya, Pa. Waktu itu pas Mytha lahir." jawab Fathia sambil senyum.


"Malam, Kek. Saya Netra."


"Malam, Netra. Tak usah kaku begitu. Panggil saja Grandpa, seperti Kale dan Mytha. Ya kan Myt?"


"Iyup. Betul. Eh, Grandpa membawakan oleh-oleh lho Kak, untuk kita. Asli dari Singapura."


"Oleh-oleh? Asli dari Singapura? Kakek, ah maksudnya Grandpa dari Singapura?"


"Rumah Grandpa memang di sana. Granpa tinggal bersama kakakmu, Kaleon."


"Oh maksudnya, Grandpa ini, kakeknya Kak Kaleon?"


"Iya begitulah."


"Netra, jangan berdiri di situ, duduk sini." Ibunya menepuk ruang kosong yang ada di sebelah kirinya."


"Ah, i ya." Meski sedikit heran atas sikap ibunya, Netra tetap mendekat.


Tuan Dahlan cukup menyenangkan menurut Netra, ramah dan masih terlihat segar meski usianya tak lagi muda.


Kalau ayahnya baik hati. Kakeknya ramah, terus sifat sok Kak Kale itu dari mana asalnya ya?

__ADS_1


"Sesekali, mainlah ke tempat Granpa, Netra dan Mytha ini. Pasti kalian senang. Kalau pas senggang, kadang Granpa juga berlayar, kapan-kapan, kalian ikut Grandpa berlayar. Pokoknya meski sudah tua begini, Granpa tetep asik kalau diajak jalan. Ha ha ha."


"Mereka itu entah sibuk, Pa. Entah bagaimana nasibku ini. Punya anak hobi menjauh semua. Kale tak perlu lagi kukatakan pada Papa. Netra belum lama pulang, dari remaja dia sudah hidup sendiri. Ini Mytha juga lebih senang di asrama. Harus nunggu ayahnya sakit dulu baru mau pada kumpul."


"Ayah, kenapa bicara seperti itu." Netra merengut mendengar penuturan ayahnya. Ia beranjak berlutut kemudian menyerukkan kepala di pangkuan ayahnya.


"Hmm, kalau sudah begitu, nggak bakal terlihat ituh, mana yang adik juga mana yang kakak." Mytha bicara sambil mendekap bantal lebih erat.


Masih asik mengobrol dan saling menimpali, seorang pelayan datang dan berbisik ke telinga Adi Dharma.


Lelaki paruh baya itu mengangguk. "Sebaiknya kita langsung saja ke ruang makan. Kale sudah menunggu di sana."


* * *


Menu terhidang di meja. Masakan terbaik dari chef handal. Semua orang duduk pada posisi masing-masing. Baru saja asisten menyajikan menu pada masing-masing piring, Alfaro datang.


"Selamat malam semua. Pada kumpul di sini ternyata."


"Malam Alfa, ayo ikut gabung sekalian." Hanya Adi Dharma yang bersuara, Fathia pun hanya menjawab dengan senyuman.


"Netra, geser duduknya, Sayang, biar Alfaro di dekat ibumu."


Netra mengembuskan napas pelan. Bergeser tempat duduk artinya dia harus duduk bersebelahan dengan Alfaro berhadapan dengan Kale.


Alfaro adalah sepupu yang dari dulu ia tidak suka. Pandangan matanya bikin risih, apalagi gombalan-gombalannya. Sama saja bikin tidak nyaman. Lelaki itu sudah hampir sepuluh tahun menghilang. Netra pikir Brazil sudah membuatnya lupa jalan pulang. Ternyata dia juga masih saja kembali.


"Sayang, tolong ambilkan ayam itu." Alfaro menyodorkan piringnya pada Netra.


Netra masih diam, sementara Adi Dharma yang paham posisi Netra menyuruh asisten untuk mengambilkan apa yang diinginkan Alfaro.


"Alfa, jangan goda sepupumu. Kita lagi makan malam."


"Ah, Paman. Aku itu kangen pada Netra. Kita kan sudah lama tidak ketemu ya, Sayang."


"Sudah. Jangan menggoda!"


"Oke-oke."


Semua yang diutarakan Alfaro sama sekali tidak mengubah apa pun pada diri Kale. Ia tetap khidmat menikmati hidangan. Sesekali bertanya apa saja yang ada di dalam hidangan kepada chef yang bertugas.


Hal itu tidak luput dari perhatian Netra.


Rumit sekali timbang untuk makan saja.


Netra tersenyum. Dia jadi ingat dengan tumpukan mie instant yang dibawanya dari apartemen. Dalam waktu dekat ia pasti akan menikmatinya.


"Oh iya, Kale, bagaimana, sudah ada tanggal, kapan kamu dan Netra akan melangsungkan pernikahan?"


"Apa?" Itu bukan Kale, suara Alfaro yang jusyru merespon pertanyaan Adi Dharma.


"Paman ini aneh, Kale dan Netra kan saudara, mana mungkin mereka menikah. Apa jangan-jangan salah satu dari mereka bukan anak kandung Paman? Apa jangan-jangan rumor itu benar adanya?"


Suasana di ruang makan nampak begitu berbeda setelah ucapan Alfaro.


"Bicaralah yang baik Alfaro, apalagi ini meja makan. Salah sedikit kamu bisa tersedak." Kale menelungkupkan sendok dan garpunya, "Netra adalah adikku. Kita tidak mungkin menikah. Lagi pula, tidak ada orang yang peduli dengan rumor murahan, kecuali dia adalah sampah." Kale bergerak mengelap mulutnya dengan tisue.


"Aku selesai." Kale berdiri.


Netra menahan senyum.


Alfaro diam.

__ADS_1


__ADS_2