I Love You Kakak

I Love You Kakak
*Episode 24


__ADS_3

Hanas benar-benar bahagia ketika mendengar Dewa ingin mengajaknya nginap di hotel malam ini. Rasanya, dia ingin melompat-lompat saking bahagianya. Tapi, hal itu tidak bisa ia lakukan karena dirinya sedang berada dalam sandiwara yang besar.


Merekapun sampai di depan hotel yang tidak terlalu mewah di jalan yang sama. Dewa membawa Hanas turun dari mobil tersebut, kemudian masuk ke dalam hotel dengan Bimo yang terus mengikuti dari belakang.


Dewa langsung memesan satu kamar untuk Hanas. Kemudian, mereka langsung menuju kamar tersebut agar Hanas bisa istirahat dengan cepat.


"Hanas, ini kamarnya. Kamu masuk dan segera istirahat, ya."


"Kak Dewa gak sekalian masuk?"


"Tidak. Sepertinya, aku harus segera pulang ke vila. Aku lupa pamitan pada Yola. Dan orang rumah juga tidak ada yang tahu kalau aku pergi bersama Bimo. Aku takut Yola cemas."


"Tapi kak ... aku masih takut. Rasa trauma ini masih ada. Aku yakin, nona Yola pasti mengerti."


"Tapi, Hanas .... "


"Kak Dewa aku mohon. Setidaknya, kamu temani aku masuk ke dalam. Aku tidak akan bisa istirahat, karena hati ini masih sangat amat merasa takut rasanya. Apa yang baru saja terjadi, masih terasa membekas dalam pikiran ini."


Merasa tidak sampai hati untuk meninggalkan Hanas sendirian, akhirnya, Dewa mengikuti apa yang Hanas mau. Masuk ke dalam kamar hotel, meski dengan hati yang sangat berat.


"Terima kasih banyak kak Dewa. Kamu sudah mau bantu aku sampai detik ini. Aku tidak tahu lagi harus bilang apa padamu selain kata terima kasih. Dan ... maaf, aku lagi-lagi menyusahkan kamu sekarang. Karena aku tidak tahu, harus minta tolong pada siapa lagi tadinya. Maaf ya kak Dewa."


"Kamu ngomong apa sih Hanas? Aku tidak merasa kamu susahkan. Dan, aku sama sekali tidak merasa terbeban atau keberatan untuk menolong kamu. Bagaimanapun, meski kita tidak bisa bersama. Aku merasa punya tanggung jawab untuk tetap melindungi kamu."


"Terima kasih banyak, kak Dewa. Bagaimanapun, aku sadar siapa diri ini. Aku tidak seharusnya menyusahkan kak Dewa lagi. Kamu sekarang sudah punya istri."


"Oh ya, kamu bisa pulang secepatnya. Tapi ... aku mohon tunggu aku mandi dulu. Aku sangat risih dengan keringat dan baju kotor ini. Bisakah ...."


"Aku akan minta Bimo keluar sebentar untuk membeli baju. Sementara itu, kamu segera mandi agar tubuhmu segar kembali."


"Be--benarkah? Kak Dewa gak papa nunggu aku mandi dulu?"

__ADS_1


"Iya. Aku akan tunggu kamu mandi. Biar Bimo keluar beli baju untuk kamu kenakan setelah kamu selesai mandi. Aku akan tunggu di sini."


"Terima kasih kak Dewa. Benar-benar gak tau harus bilang apa selain kata terima kasih. Mungkin setelah malam ini, kita bisa menjalin hubungan sebagai kakak adik, atau ... teman paling tidak. Bagaimana?"


"Terserah kamu saja. Yang jelas, kita tidak bisa bersama sebagai pasangan. Karena aku sudah punya Yola sebagai istri."


'Aku akan buat Yola mu itu merasakan rasa sakit yang aku rasakan, kak Dewa. Kamu enak sekali bilang tidak bisa bersama karena sudah ada adik angkat mu itu. Karena itu, aku akan hancurkan hubungan kalian berdua.' Hanas bicara dalam hati.


"Iya-iya. Kita tidak mungkin bersama sebagai pasangan. Aku sadar untuk hal itu sekarang. Karena ... sakit beberapa hari sudah membuat mata ini terbuka dan sadar. Kalau laki-laki itu masih banyak. Dan hubungan tidak seharusnya rusak ketika kita tidak bisa bersama sebagai kekasih."


"Ya sudah kalau gitu. Aku mandi dulu. Kak Dewa tunggu aku selesai mandi di sini baru pulang. Aku udah kabari mama kalau aku lembur. Biar mama gak khawatir sama aku," ucap Hanas sambil beranjak menuju kamar mandi.


"Mandilah. Jangan lama-lama. Aku tunggu di sini."


"Bimo! Pergi beli baju sekarang!"


"Tuan muda tidak ikut?"


"Apa kamu tidak dengar apa yang kami bicarakan barusan? Aku akan menunggu di sini, sementara Hanas mandi dan kamu pergi beli baju."


"Memangnya sekarang pukul berapa?" tanya Dewa agak bingung. Ia tidak punya ponsel untuk di lihat. Tidak pula memaki jam tangan saat keluar. Jadi, dia tidak tahu sekarang sudah jam berapa.


"Sudah hampir pukul dua belas malam tuan muda. Tepatnya, jam sebelas lewat empat puluh delapan menit." Bimo menjelaskan secara rinci pada Dewa karena sekarang, hatinya sungguh sangat amat kesal pada sikap Dewa ke Hanas.


"Ya Tuhan. Ini sudah hampir tengah malam. Kita sudah sangat lama meninggalkan rumah. Apa kamu bawa ponselmu, Bimo. Kalau bawa, aku ingin pinjam."


"Maaf tuan muda. Aku lupa membawa ponsel. Ponselku, aku tinggalkan di kamar tadi karena buru-buru. Ponsel tuan muda, di mana?"


"Itu yang aku tidak tahu. Karena panik, aku lupa entah aku bawa atau tidak. Mungkin aku bawa tapi ketinggalan di mobil, atau mungkin juga jatuh di mobil. Entahlah, nanti saja kita lihatnya."


"Lalu sekarang bagaimana, tuan muda? Apa selanjutnya? Pulang langsung, atau .... "

__ADS_1


"Tidak. Kita tunggu Hanas selesai mandi dulu. Baru aku akan bicarakan lagi dengan dia."


Belum sempat Bimo menjawab apa yang Dewa katakan, suara Hanas yang menjerit ketakutan terdengar dari dalam kamar mandi. Dewa kaget sekaligus panik. Dengan langkah cepat, ia berjalan menuju kamar mandi.


"Hanas! Ada apa? Apa yang terjadi?" Dewa menggedor pintu kamar mandi hotel yang tertutup rapat.


"Hanas! Buka pintunya!"


Mendengar tidak ada jawaban dari Hanas, Dewa langsung mendobrak pintu kamar mandi tersebut. Dengan beberapa kali dobrakan, barulah pintu itu terbuka.


Saat pintu terbuka, Dewa bergegas masuk ke dalam tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Karena yang ada dalam hati Dewa saat ini hanyalah rasa cemas dan takut. Ia takut Hanas kenapa-napa di dalam kamar mandi ini.


Mata Dewa liar menyapu setiap sudut kamar mandi. Di sana, ia temukan Hanas yang sedang berjongkok di sudut sambil menyembunyikan wajahnya.


"Hanas!"


"Kak Dewa."


Hanas yang hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian dada sampai paha itu pun segera bangun untuk menghampiri Dewa. Dengan wajah ketakutan yang dipenuhi air mata, ia segera menghambur ke dalam pelukan Dewa lagi.


"Kak Dewa aku takut!" Hanas berucap dengan nada tinggi sambil disertai tangisan.


"Ada apa? Apa yang terjadi sebenarnya?"


"Ada bayangan hitam di sana kak Dewa. Aku takut sekali. Aku takut!"


"Bayangan hitam? Bayangan apa?"


"Tidak tahu. Pokoknya, bayangan hitam. Ah ... aku takut kak Dewa."


"Bimo! Coba cek ada apa di kamar mandi ini!"

__ADS_1


"Baik tuan muda."


Bimo menjalankan tugas. Malas sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi? Dia tidak punya hak untuk banyak bicara apalagi membantah.


__ADS_2